SELAMAT DATANG DI BLOG ANJAR SETIO PURNOMO, S.Pd.
Tampilkan postingan dengan label Pupuk organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pupuk organik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Juli 2012

Sapi Fermentasi Urine (Bison bonasus L) sebagai Pupuk Cair

Tanaman sebagai makhluk hidup membutuhkan makanan / nutrisi untuk hidup dan berkembang biak. Tanaman mendapatkan makanan, terutama dari cadangan mineral dalam tanah yang terkandung dalam bahan organik, limbah organik, bakteri pengikat nitrogen, endapan melalui udara, dll Nutrisi yang berasal dari tanaman darat akan diubah menjadi karbohidrat melalui proses fotosintesis tanaman.
Ketersediaan tanaman pangan dipengaruhi oleh kesuburan tanah. Kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk menyediakan nutrisi dalam jumlah yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan proliferasi. Definisi ini seringkali dipahami terlalu sempit dengan hanya mempertimbangkan sifat kesuburan kimia / tanah yang hanya menyangkut jumlah dan ketersediaan nutrisi yang terkandung dalam tanah. Konsep kesuburan tanah sebenarnya jauh lebih luas. Aspek kesuburan tanah adalah sifat fisik tanah, kepadatan tanah, struktur tanah dan porositas / kerenggangan tanah / air kemampuan menyerap.
Untuk mendapatkan kesuburan tanah diperlukan penambahan bahan yang mengandung nutrisi. Nutrisi organik dapat diperoleh dari fermentasi urine sapi. Sapi (Bison benasus L) adalah ruminansia besar yang memiliki banyak manfaat baik bagi manusia atau tanaman, seperti daging, susu, kekuasaan kulit, dan kotoran. Selain itu, Urine sapi (Bison benasus L) dapat dibuat pupuk cair sebagai pestisida untuk tanaman.
Pupuk cair dari urine sapi (Bison benasus L) sangat mudah dan tidak butuh waktu lama dan baik untuk tanaman dibandingkan dengan pabrik pupuk buatan. Bahan yang digunakan untuk membuat pupuk cair juga mudah tersedia dan relatif rendah biaya.
Dalam dunia pertanian, urin sapi bermanfaat bagi petani karena air seni sapi mengandung berbagai nutrisi yang dapat digunakan sebagai pupuk cair. Sebelum digunakan sebagai pupuk pertanian, urin sapi difermentasi terlebih dahulu. Cara fermentasi urin sapi sebagai berikut:
Bahan:

·          Sebanyak 20 liter urin sapi
·          1 kg gula merah atau molasses 1 liter
·          Semua jenis tanaman obat (lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, brotowali) setiap kilogram 1/2
·          Perendaman air 1 cangkir kedelai atau urea 1 sendok makan
·          Untuk mendapatkan fermentasi maksimum diperlukan pengurai bakteri (EM4, Simba, Mbio)
·          4 liter air
Bagaimana membuat fermentasi urine sapi:
·          Sapi urin (Bison benasus L) ditampung dan dimasukkan ke dalam drum plastik
Lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, brotowali ditumbuk dan kemudian dimasukkan ke dalam drum plastik. Penambahan bahan untuk menghilangkan bau dan memberikan rasa urin sapi tidak diinginkan untuk hama.
·          Setelah itu, molase dimasukkan ke dalam drum plastik, kemudian dimasukkan starter Sacharomyces cereviceae. Tetes dan starter Sacharomyces cereviceae ini berguna untuk fermentasi dan nantinya setelah menjadi pupuk cair dapat meningkatkan jumlah mikroba bermanfaat yang ada di dalam tanah.
·          Fermentasi urine sapi didiamkan selama 14 hari dan diaduk setiap hari.
·          Drum plastik ditutup dengan kain serbet atau kertas.
·          Akhirnya, Setelah 14 hari pupuk cair disaring dan dikemas.
sumber gambar: lengser.wordpress.com
Urine sapi sering menyebabkan masalah lingkungan karena menciptakan bau yang tidak menyenangkan. Namun, setelah sentuhan teknologi fermentasi dalam urin fermentasi bentuk sapi dapat digunakan sebagai pupuk organik. Pupuk sangat baik untuk kembali kesuburan tanah. Dengan fermentasi urin sapi adalah penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi hingga 50% untuk tahap pertama, dan tahap berikutnya dari penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi bahkan lebih.

PENGOMPOSAN

I.     PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Revolusi hijau telah mendorong penggunaan pupuk anorganik sebagai prioritas untuk meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman guna menopang kebutuhan pangan. Seiring dengan itu, penggunaan pupuk anorganik cukup mampu meningkatkan hasil tanaman sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan tetapi sekaligus memberikan dampak berkurangnya penggunaan pupuk organik. Bahkan ditinggalkannya pupuk organik oleh petani dalam usaha membudi dayakan tanamannya.
Dampak penggunaan pupuk anorganik yang tidak mempertimbangkan sifat tanah dan kebutuhan tanaman telah menimbulkan permasalahan tersendiri terutama yang berlebihan pada produktivitas dan kesehatan tanah. Praktek penggunaan pupuk anorganik merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca seperti N2O dan CH4 yang berpengaruh pada pemanasan global. Kehilangan nitrogen dari pupuk N melalui proses volatilisasi NH3 maupun emisi gas N2O, selain mengakibatkan penggunaan pupuk tidak efisien juga menyebabkan dampak negatif pada lingkungan.
Untuk mengatasi masalah efisiensi pupuk dan penurunan kualitas lingkungan salah satunya adalah dengan gerakan penggunaan kembali pupuk organik seperti kompos yang bersumber dari sumber daya lokal. Pemanfaatan kompos bisa mensubstitusi penggunaan pupuk anorganik sehingga bisa mengatasi persoalan subsidi pupuk dengan mempertahankan atau bahkan meningkatkan produktivitas lahan dengan mempraktekkan pertanian yang ramah lingkungan. Selain hal tersebut penggunaan kompos juga dapat memperkecil fluktuasi suhu dan kelembapan tanah yang semakin meningkat akibat terjadinya perubahan iklim.
Untuk menghasilkan kompos yang bermutu baik, diperlukan teknologi pengomposan yang selama ini telah teruji baik di laboratorium maupun lapangan.
Buku teknologi pengomposan ini merupakan buku penuntun pengomposan yang disusun secara komprehensif dengan menampilkan seluruh aspek teknologi pengomposan. Aspek teknologi tersebut dari skala laboratorium, teknologi penggunaan mikroba perombak bahan organik, sampai pengomposan dengan menggunakan aktivitas cacing tanah. Dengan diterbitkannya buku ini, diharapkan para pengguna mendapatkan tambahan pengetahuan dan manfaat tentang pengomposan tidak hanya pada tata cara atau tahapan pengomposan yang selama ini sudah biasa ditampilkan buku-buku yang bertema kompos dan pengomposan.
B.       Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis  kompos dan bagaimana cara pembuatannya.
  2. Mahasiswa mengetahui manfaat dari pengomposan.
II.  TINJAUAN PUSTAKA
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan (Crawford, 2003).
Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai ±80%, sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai. Kompos sangat berpotensi untuk dikembangkan mengingat semakin tingginya jumlah sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dan menyebabkan terjadinya polusi bau dan lepasnya gas metana ke udara. DKI Jakarta menghasilkan 6000 ton sampah setiap harinya, di mana sekitar 65%-nya adalah sampah organik. Dan dari jumlah tersebut, 1400 ton dihasilkan oleh seluruh pasar yang ada di Jakarta, di mana 95%-nya adalah sampah organik. Melihat besarnya sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihat potensi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat (Rohendi, 2005)
III.             PEMBAHASAN
Pengomposan merupakan penguraian dan pemantapan bahan-bahan organik secara biologis dalam temperatur thermophilic (suhu tinggi) dengan hasil akhir berupa bahan yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah. Pengomposan dapat dilakukan secara bersih dan tanpa menghasilkan kegaduhan di dalam maupun di luar ruangan.
Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi. Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organic yang terjadi secara alami. Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organic, Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.
Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost). Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Keunggulan dari proses pengomposan antara lain teknologinya yang sederhana, biaya penanganan yang relatif rendah, serta dapat menangani sampah dalam jumlah yang banyak (tergantung luasan lahan).
Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Bahan baku pengomposan adalah semua material orgaengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair dan limbah industri pertanian. Berikut disajikan bahan-bahan yang umum dijadikan bahan baku pengomposan.
Tabel 1. Macam Limbah Untuk Pengomposan
Asal Bahan Contoh
Pertanian
Limbah dan residu tanaman
Jerami dan sekam padi, gulma, batang dan tongkol jagung, semua bagian vegetatif tanaman, batang pisang dan sabut kelapa
Limbah & residu ternak
Kotoran padat, limbah ternak cair, limbah pakan ternak, cairan biogas
Tanaman air
Azola, ganggang biru, enceng gondok, gulma air
Indutri
Limbah padat
Serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, limbah kelapa sawit, limbah pengalengan makanan dan pemotongan hewan
Limbah cair
Alkohol, limbah pengolahan kertas, ajinomoto, limbah pengolahan minyak kelapa sawit
Limbah Rumah Tangga
Sampah
Tinja, urin, sampah rumah tangga dan sampah kota
Setiap bahan organik, bahan-bahan hayati yang telah mati, akan mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Daun-daun yang gugur ke tanah, batang atau ranting yang patah, bangkai hewan, kotoran hewan, sisa makanan, dan lain sebagainya, semuanya akan mengalami proses dekomposisi kemudian hancur menjadi seperti tanah berwarna coklat-kehitaman. Wujudnya semula tidak dikenal lagi. Melalui proses dekomposisi terjadi proses daur ulang unsur hara secara alamiah. Hara yang terkandung dalam bahan atau benda-benda organik yang telah mati, dengan bantuan mikroba (jasad renik), seperti bakteri dan jamur, akan terurai menjadi hara yang lebih sederhana dengan bantuan manusia maka produk akhirnya adalah kompos (compost).
A.  Jenis-jenis kompos
Kompos mempunyai tiga jenis yaitu:
  • Kompos cacing (vermicompost), yaitu kompos yang terbuat dari bahan organik yang dicerna oleh cacing. Yang menjadi pupuk adalah kotoran cacing tersebut.
  • Kompos bagase, yaitu pupuk yang terbuat dari ampas tebu sisa penggilingan tebu di pabrik gula.
  • Kompos bokashi
B.  Manfaat Kompos
Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah. Aktivitas mikroba tanah juga d iketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.
Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal: hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak.
Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:
Aspek Ekonomi :
  1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
  2. Mengurangi volume/ukuran limbah
  3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
Aspek Lingkungan :
  1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas metana dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri metanogen di tempat pembuangan sampah
  2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
Aspek bagi tanah/tanaman:
  1. Meningkatkan kesuburan tanah
  2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
  3. Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah
  4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
  5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
  6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
  7. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
  8. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah
Peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah di antaranya merangsang granulasi, memperbaiki aerasi tanah, dan meningkatkan kemampuan menahan air. Peran bahan organik terhadap sifat biologis tanah adalah meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan pada fiksasi nitrogen dan transfer hara tertentu seperti N, P, dan S. Peran bahan organik terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga memengaruhi serapan hara oleh tanaman (Gaur, 1980).
Beberapa studi telah dilakukan terkait manfaat kompos bagi tanah dan pertumbuhan tanaman. Penelitian Abdurohim, 2008, menunjukkan bahwa kompos memberikan peningkatan kadar Kalium pada tanah lebih tinggi dari pada kalium yang disediakan pupuk NPK, namun kadar fosfor tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan NPK. Hal ini menyebabkan pertumbuhan tanaman yang ditelitinya ketika itu, caisin (Brassica oleracea), menjadi lebih baik dibandingkan dengan NPK.
Hasil penelitian Handayani, 2009, berdasarkan hasil uji Duncan, pupuk cacing (vermicompost) memberikan hasil pertumbuhan yang terbaik pada pertumbuhan bibit Salam (Eugenia polyantha Wight) pada media tanam subsoil. Indikatornya terdapat pada diameter batang, dan sebagainya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan pupuk anorganik tidak memberikan efek apapun pada pertumbuhan bibit, mengingat media tanam subsoil merupakan media tanam dengan pH yang rendah sehingga penyerapan hara tidak optimal. Pemberian kompos akan menambah bahan organik tanah sehingga meningkatkan kapasitas tukar kation tanah dan memengaruhi serapan hara oleh tanah, walau tanah dalam keadaan masam.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor menyebutkan bahwa kompos bagase (kompos yang dibuat dari ampas tebu) yang diaplikasikan pada tanaman tebu (Saccharum officinarum L) meningkatkan penyerapan nitrogen secara signifikan setelah tiga bulan pengaplikasian dibandingkan degan yang tanpa kompos, namun tidak ada peningkatan yang berarti terhadap penyerapan fosfor, kalium, dan sulfur. Penggunaan kompos bagase dengan pupuk anorganik secara bersamaan tidak meningkatkan laju pertumbuhan, tinggi, dan diameter dari batang, namun diperkirakan dapat meningkatkan rendemen gula dalam tebu.
C.  Proses Pengomposan
Proses pengomposan akan segera berlangsung setelah bahan-bahan mentah dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50o – 70o C. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi dekomposisi/penguraian bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 – 40% dari volume/bobot awal bahan.
Gambar 1. Skema Proses Pengomposan Aerobik
Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau anaerobik (tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan sebelumnya adalah proses aerobik, dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik. Proses dekomposisi dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut proses anaerobik. Namun, proses ini tidak diinginkan, karena selama proses pengomposan akan dihasilkan bau yang tidak sedap. Proses anaerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap, seperti: asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine), amonia, dan H2S.
Gambar 2.  Profil suhu dan populasi mikroba selama proses pengomposan
Tabel 2. Organisme yang terlibat dalam proses pengomposan
Kelompok Organisme
Organisme
Jumlah/gr kompos
Mikroflora Bakteri; Aktinomicetes; Kapang 109 – 109; 105 108; 104 – 106
Mikrofanuna Protozoa 104 – 105
Makroflora Jamur tingkat tinggi
Makrofauna Cacing tanah, rayap, semut, kutu, dll




Proses pengomposan tergantung pada :
  1. Karakteristik bahan yang dikomposkan
  2. Aktivator pengomposan yang dipergunakan
  3. Metode pengomposan yang dilakukan
Peralatan yang dibutuhkan dalam pengomposan secara aerobik terdiri dari peralatan untuk penanganan bahan dan peralatan perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi pekerja. Berikut disajikan peralatan yang digunakan.
  1. Terowongan udara (Saluran Udara)
  • Digunakan sebagai dasar tumpukan dan saluran udara
  • Terbuat dari bambu dan rangka penguat dari kayu
  • Dimensi : panjang 2m, lebar ¼ – ½ m, tinggi ½ m
  • Sudut : 45o
  • Dapat dipakai menahan bahan 2 – 3 ton
2. Sekop
  • Alat bantu dalam pengayakan dan tugas-tugas lainnya
3. Garpu/cangkrang
  • Digunakan untuk membantu proses pembalikan tumpukan bahan dan pemilahan sampah
4. Saringan/ayakan
  • Digunakan untuk mengayak kompos yang sudah matang agar diperoleh ukuran yang sesuai
  • Ukuran lubang saringan disesuaikan dengan ukuran kompos yang diinginkan
  • Saringan bisa berbentuk papan saring yang dimiringkan atau saringan putar
5. Termometer
  • Digunakan untuk mengukur suhu tumpukan
  • Pada bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke bagian dalam tumpukan dan menariknya kembali dengan cepat
  • Sebaiknya digunakan termometer alkohol (bukan air raksa) agar tidak mencemari kompos jika termometer pecah
6. Timbangan
  • Digunakan untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai berat yang diinginkan
  • Jenis timbangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penimbangan dan pengemasan
7. Sepatu boot
  • Digunakan oleh pekerja untuk melindungi kaki selama bekerja agar terhindar dari bahan-bahan berbahaya
8. Sarung tangan
  • Digunakan oleh pekerja untuk melindungi tangan selama melakukan pemilahan bahan dan untuk kegiatan lain yang memerlukan perlindungan tangan
9. Masker
  • Digunakan oleh pekerja untuk melindungi pernafasan dari debu dan gas bahan terbang lainnya
Gambar 3.  Kompos Bahan Organik dan Kotoran Hewan
Pengomposan dapat juga menggunakan alat mesin yang lebih maju dan modern. Komposter type Rotary Kiln, misalnya, berfungsi dalam memberi asupan oksigen ( intensitas aerasi), menjaga kelembaban, suhu serta membalik bahan secara praktis. Komposter type Rotary Klin di pasaran terdapat dengan kapasitas 1 ton setara 3 m3 hingga 2 ton atau setara 6 m3 bahan sampah, menggunakan proses pembalikan bahan dan mengontrol aerasi dengan cara mengayuh pedal serta memutar aerator ( exhaust fan). Penggunaan komposter Biophoskko disertai aktivator kompos Green Phoskko (GP-1) telah mampu meningkatkan kerja penguraian bahan organik(dekomposisi) oleh jasad renik menjadi 5 sampai 7 hari saja.
Gambar 4. Kompos dari sampah
Gambar 5. Kompos jerami
D. Faktor yang memengaruhi proses Pengomposan
Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer tersebut akan bekerja giat untuk mendekomposisi limbah padat organik. Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai, maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan mati. Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri.
Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain:
1.Rasio C/N
Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.
Umumnya, masalah utama pengomposan adalah pada rasio C/N yang tinggi, terutama jika bahan utamanya adalah bahan yang mengandung kadar kayu tinggi (sisa gergajian kayu, ranting, ampas tebu, dsb). Untuk menurunkan rasio C/N diperlukan perlakuan khusus, misalnya menambahkan mikroorganisme selulotik (Toharisman, 1991) atau dengan menambahkan kotoran hewan karena kotoran hewan mengandung banyak senyawa nitrogen.
2.Ukuran Partikel
Aktivitas mikroba berada di antara permukaan area dan udara. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.
3. Aerasi
Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen(aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh porositas dan kandungan air bahan(kelembaban). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.
4. Porositas
Porositas adalah ruang di antara partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.
5. Kelembaban (Moisture content)
Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air. Kelembaban 40 – 60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban di bawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap.
6. Temperatur/suhu
Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara 30 – 60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma.
7. pH
Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral.
8. Kandungan Hara
Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan.
9. Kandungan Bahan Berbahaya
Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam-logam berat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan.
10. Lama pengomposan
Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar-benar matang.
Tabel Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan (Ryak, 1992)
Kondisi
Konsisi yang bisa diterima
Ideal
Rasio C/N 20:1 s/d 40:1 25-35:1
Kelembaban 40 – 65 % 45 – 62 % berat
Konsentrasi oksigen tersedia > 5% > 10%
Ukuran partikel 1 inchi bervariasi
Bulk Density 1000 lbs/cu yd 1000 lbs/cu yd
pH 5.5 – 9.0 6.5 – 8.0
Suhu 43 – 66oC 54 -6o 0c
E.  Strategi Mempercepat Proses Pengomposan
Pengomposan dapat dipercepat dengan beberapa strategi. Secara umum strategi untuk mempercepat proses pengomposan dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu
1.    Memanipulasi kondisi/faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengomposan
Strtegi ini banyak dilakukan di awal-awal berkembangnya teknologi pengomposan. Kondisi atau faktor-faktor pengomposan dibuat seoptimum mungkin. Sebagai contoh, rasio C/N yang optimum adalah 25-35:1. Untuk membuat kondisi ini bahan-bahan yang mengandung rasio C/N tinggi dicampur dengan bahan yang mengandung rasio C/N rendah, seperti kotoran ternak. Ukuran bahan yang besar-besar dicacah sehingga ukurannya cukup kecil dan ideal untuk proses pengomposan. Bahan yang terlalu kering diberi tambahan air atau bahan yang terlalu basah dikeringkan terlebih dahulu sebelum proses pengomposan. Demikian pula untuk faktor-faktor lainnya.
2.    Menggunakan Aktivator Pengomposan atau Organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan: mikroba pendegradasi bahan organik dan vermikompos (cacing).
Strategi yang lebih maju adalah dengan memanfaatkan organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan. Organisme yang sudah banyak dimanfaatkan misalnya cacing tanah. Proses pengomposannya disebut vermikompos dan kompos yang dihasilkan dikenal dengan sebutan kascing. Organisme lain yang banyak dipergunakan adalah mikroba, baik bakeri, aktinomicetes, maupuan kapang/cendawan. Saat ini dipasaran banyak sekali beredar aktivator-aktivator pengomposan, misalnya :Green Phoskko(GP-1), Promi, OrgaDec, SuperDec, ActiComp, EM4, Stardec, Starbio, BioPos, dan lain-lain.
Promi, OrgaDec, SuperDec, dan ActiComp adalah hasil penelitian Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dan saat ini telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Aktivator pengomposan ini menggunakan mikroba-mikroba terpilih yang memiliki kemampuan tinggi dalam mendegradasi limbah-limbah padat organik, yaitu: Trichoderma pseudokoningii, Cytopaga sp, Trichoderma harzianum, Pholyota sp, Agraily sp dan FPP (fungi pelapuk putih). Mikroba ini bekerja aktif pada suhu tinggi (termofilik). Aktivator yang dikembangkan oleh BPBPi tidak memerlukan tambahan bahan-bahan lain dan tanpa pengadukan secara berkala. Namun, kompos perlu ditutup/sungkup untuk mempertahankan suhu dan kelembaban agar proses pengomposan berjalan optimal dan cepat. Pengomposan dapat dipercepat hingga 2 minggu untuk bahan-bahan lunak/mudah dikomposakan hingga 2 bulan untuk bahan-bahan keras/sulit dikomposkan.
3.    Menggabungkan strategi pertama dan kedua.
Strategi proses pengomposan yang saat ini banyak dikembangkan adalah mengabungkan dua strategi di atas. Kondisi pengomposan dibuat seoptimal mungkin dengan menambahkan aktivator pengomposan.
F.   Pertimbangan untuk menentukan strategi pengomposan
Seringkali tidak dapat menerapkan seluruh strategi pengomposan di atas dalam waktu yang bersamaan. Ada beberapa pertimbangan yang dapat digunakan untuk menentukan strategi pengomposan:
  1. Karakteristik bahan yang akan dikomposkan.
  2. Waktu yang tersedia untuk pembuatan kompos.
  3. Biaya yang diperlukan dan hasil yang dapat dicapai.
  4. Tingkat kesulitan pembuatan kompos
G.  Tahapan pengomposan
  1. Pemilahan Sampah
Pada tahap ini dilakukan pemisahan sampah organik dari sampah anorganik (barang lapak dan barang berbahaya). Pemilahan harus dilakukan dengan teliti karena akan menentukan kelancaran proses dan mutu kompos yang dihasilkan
2. Pengecil Ukuran
Pengecil ukuran dilakukan untuk memperluas permukaan sampah, sehingga sampah dapat dengan mudah dan cepat didekomposisi menjadi kompos
3.    Penyusunan Tumpukan
Bahan organik yang telah melewati tahap pemilahan dan pengecil ukuran kemudian disusun menjadi tumpukan. Desain penumpukan yang biasa digunakan adalah desain memanjang dengan dimensi panjang x lebar x tinggi = 2m x 12m x 1,75m. Pada tiap tumpukan dapat diberi terowongan bambu (windrow) yang berfungsi mengalirkan udara di dalam tumpukan.
4.  Pembalikan
Pembalikan dilakuan untuk membuang panas yang berlebihan, memasukkan udara segar ke dalam tumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian air, serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil.
5.  Penyiraman
Penyiraman dilakukan terhadap bahan baku dan tumpukan yang terlalu kering (kelembaban kurang dari 50%). Secara manual perlu tidaknya penyiraman dapat dilakukan dengan memeras segenggam bahan dari bagian dalam tumpukan. Apabila pada saat digenggam kemudian diperas tidak keluar air, maka tumpukan sampah harus ditambahkan air. sedangkan jika sebelum diperas sudah keluar air, maka tumpukan terlalu basah oleh karena itu perlu dilakukan pembalikan.
  1. Pematangan
Setelah pengomposan berjalan 30 – 40 hari, suhu tumpukan akan semakin menurun hingga mendekati suhu ruangan. Pada saat itu tumpukan telah lapuk, berwarna coklat tua atau kehitaman. Kompos masuk pada tahap pematangan selama 14 hari.
  1. Penyaringan
Penyaringan dilakukan untuk memperoleh ukuran partikel kompos sesuai dengan kebutuhan serta untuk memisahkan bahan-bahan yang tidak dapat dikomposkan yang lolos dari proses pemilahan di awal proses. Bahan yang belum terkomposkan dikembalikan ke dalam tumpukan yang baru, sedangkan bahan yang tidak terkomposkan dibuang sebagai residu.
  1. Pengemasan dan Penyimpanan
Kompos yang telah disaring dikemas dalam kantung sesuai dengan kebutuhan pemasaran. Kompos yang telah dikemas disimpan dalam gudang yang aman dan terlindung dari kemungkinan tumbuhnya jamur dan tercemari oleh bibit jamur dan benih gulma dan benih lain yang tidak diinginkan yang mungkin terbawa oleh angin.
H.  Kontrol proses produksi kompos
  1. Proses pengomposan membutuhkan pengendalian agar memperoleh hasil yang baik.
  2. Kondisi ideal bagi proses pengomposan berupa keadaan lingkungan atau habitat dimana jasad renik (mikroorganisme) dapat hidup dan berkembang biak dengan optimal.
  3. Jasad renik membutuhkan air, udara (O2), dan makanan berupa bahan organik dari sampah untuk menghasilkan energi dan tumbuh.
Proses pengontrolan yang harus dilakukan terhadap tumpukan sampah adalah:
  1. Monitoring Temperatur Tumpukan
  2. Monitoring Kelembaban
  3. Monitoring Oksigen
  4. Monitoring Kecukupan C/N Ratio
  5. Monitoring Volume
I.     Mutu kompos
  1. Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi pertumbuhan tanaman.
  2. Penggunaan kompos yang belum matang akan menyebabkan terjadinya persaingan bahan nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman
  3. Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
  • Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah,
  • Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi,
  • Nisbah C/N sebesar 10 – 20, tergantung dari bahan baku dan derajat humifikasinya,
  • Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah,
  • Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan
  • Tidak berbahaya
 IV.             KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
  1. Pengomposan merupakan penguraian dan pemantapan bahan-bahan organik secara biologis dalam temperatur thermophilic (suhu tinggi) dengan hasil akhir berupa bahan yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah
  2. Kompos memiliki tiga jenis yaitu kompos cacing;kompos bagase; dan kompos bokashi.
  3. Kompos memilki manfaat dalam segi ekonomis, lingkungan dan tanah/tanaman diantaranya kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah.
  4. Proses pengomposan tergantung pada :Karakteristik bahan yang dikomposkan, aktivator pengomposan yang dipergunakan, metode pengomposan yang dilakukan.
  5.  Proses pengontrolan yang harus dilakukan terhadap tumpukan sampah adalah monitoring temperatur tumpukan, monitoring kelembaban, monitoring oksigen, monitoring kecukupan C/N Ratio
  6. Tahapan pengomposan antara lain: Pemilahan Sampah, Pengecil Ukuran, Penyusunan Tumpukan, Pembalikan, Penyiraman, Pematangan, Penyaringan, Pengemasan dan Penyimpanan.
  7. Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain:Rasio C/N; Ukuran Partikel; Aeras; Porositas; Kelembaban (Moisture content); Temperatur/suhu; pH; Kandungan Hara; Kandungan Bahan Berbahaya; Lama pengomposan
  8. Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi pertumbuhan tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurohim, Oim. 2008. Pengaruh Kompos Terhadap Ketersediaan Hara Dan Produksi Tanaman Caisin Pada Tanah Latosol Dari Gunung Sindur, sebuah skripsi. Dalam IPB Repository, diunduh 13 Juni 2010.
Anonim. 2011. Teknologi Pengomposan. http://balittanah.litbang.deptan.go.id /index.php?option=com_content&view=article&id=287:pengomposan&catid=25:petunjuk-teknis&Itemid=69
DwiIndahA. 2011. Pengomposan.  http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/ copywriting /2155308-pengomposan/#ixzz1bg5WqAs3
Gaur, D. C. 1980. Present Status of Composting and Agricultural Aspect, in: Hesse, P. R. (ed). Improvig Soil Fertility Through Organic Recycling, Compost Technology. FAO of United Nation. New Delhi.
Guntoro Dwi, Purwono, dan Sarwono. 2003. Pengaruh Pemberian Kompos Bagase Terhadap Serapan Hara Dan Pertumbuhan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.). Dalam Buletin Agronomi, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor.
Handayani, Mutia. 2009. Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Kompos Terhadap Pertumbuhan Bibit Salam, sebuah skripsi. Dalam IPB Repository diunduh 13 Juni 2010.
Isroi. 2008. KOMPOS. Makalah. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor.
Rohendi, E. 2005. Lokakarya Sehari Pengelolaan Sampah Pasar DKI Jakarta, sebuah prosiding. Bogor, 17 Februari 2005.
Toharisman, A. 1991. Potensi Dan Pemanfaatan Limbah Industri Gula Sebagai Sumber Bahan Organik Tanah.

PEMBUATAN BRIKOTER

PEMBUATAN BRIKOTER
A.  Tinjauan Pustaka
Limbah peternakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak. Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan. Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances). Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik, energi dan media berbahai tujuan (Sihombing, 2002).
Untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar perlu dicari sumber energi alternatif agar  kebutuhan bahan bakar dapat dipenuhi tanpa merusak lingkungan. Salah satu bahan bakar alternatif ini ternyata dapat dibuat dari kotoran sapi.  Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar minyak. Limbah ternak merupakan sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produksi ternak dan lain – lain. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses,urine,sisa makanan,embrio,kulit telur,lemak,darah,bulu,kuku, tulang,tanduk,isi rumen,dan lain-lain.Dalam konteks itu pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber energi (bahan bakar) merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan minyak tanah dan kayu untuk keperluan rumah tangga (Sofyadi, 2003).
Pemanfaatan kotoran ternak dapat dihasilkan 2 jenis bahan bakar yaitu biogas dan briket. Di India dengan adanya tinja sapi sebanyak 5 kg perekor dan kerbau 15 kg perekor, oleh pemerintah India disarankan untuk dihasilkannya dung cake (briket) secara massal sebagai sumber energi (Nurtjahya, 2003).

Dengan penggunaan briket kotoran ternak sebagai bahan bakar maka kita dapat menghemat penggunaan kayu sebagai hasil utama dari hutan. Selain itu penggunaan briket kotoran ternak dapat menghemat pengeluaran biaya untuk membeli minyak tanah atau gas elpiji. Dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai bahan pembuatan briket  maka akan menningkatkan pemanfaatan limbah hasil ternak sekaligus mengurangi pencemaran udara, karena selama ini kotoran ternak banyak yang hanya dibiarkan begitu saja.Manfaat lainnya adalah dapat meningkatkan pendapatan masyarakat bila pembuatan briket ini dikelola dengan baik untuk selanutnya briket dijual (Arhief, 2008).
Sampah organik ternyata tidak cuma bisa diolah menjadi kompos tetapi juga bisa dibuat sebagai bahan bio massa. Bentuk paling sederhananya adalah dibuat menjadi briket. Jika selama ini, nenek moyang kita menggunakan aneka dedaunan dan ranting sebagai bahan bakar pada tumangnya (tungku batu), prinsip kerja briket sampah pun sama, sebagai bahan bakar alternatif pada kompor alternatif. Kenapa perlu dibuat briket? Alasan utama adalah sampah yang sudah dibriket bisa disimpan,sehingga ketika musim hujan tiba sementara daun dan ranting menjadi lembab, maka ada alternatif  bahan bakar yang murah meriah. Bahan baku briket ini bisa diganti dengan serbuk kayu atau serbuk gergaji, kompos yang sudah matang, kotoran ternak /sapi (Rita, 2009)
B.  Materi dan Metode
1. Materi
1)        Alat
  1. Alat sederhana pencetak briket
  2. Stopwatch
  3. Alat dokumentasi
  4. Ember plastik
  5. Timbangan
2)        Bahan
  1. Feses Sapi 2 Kg
  2. Tepung kanji 1 Kg
  3. Serbuk gergaji 1 Kg
  4. Air
  5. Korek api
2. Metode
1)        Menimbang semua bahan yakni feses sapi, serbuk gergaji dan tepung kanji dengan perbandingan 2:1:1.
2)        Mencampurkan feses sapi, serbuk gargaji dan tepung kanji kedalam ember plastik dan menambahkan air agar memudahkan pencampuran bahan.
3)        Mngaduk bahan sampai homogen.
4)        Mencetak bahan kedalam alat pencetak briket.
5)        Briket yang telah dicetak dijemur selama seminggu agar menghilangkan kadar air yang ada di dalam briket.
6)        Membakar briket dan mengamati warna api serta lama nayala api.
C.  Hasil dan Pembahasan
1. Hasil
Tabel2. Hasil Pengamaatan Uji Kualitas Briket
Indikator Warna Api Lama Nyala Api
Briket+ Alkohol Jingga/Orange 2 menit 40 detik
Briket+ Minyak Tanah Jingga/Orange terang 4 menit 33 detik
Sumber: Laporan Sementara
2. Pembahasan
Briket adalah sumber energi alternatif pengganti Minyak Tanah dan Elpiji dari bahan-bahan bekas, sampah maupun limbah-limbah pertanian yang tidak terpakai dan diolah. Pembuatan briket berbeda dengan pembuatan biogas. Dimana pembuatan briket dilakukan dengan mengubah kotoran ternak dalam bentuk briket dengan menggunakan alat cetak. Briket yang sudah terbentuk dikeringkan dengan sinar matahari. Setelah kering, briket tersebut dimasukkan ke dalam alat pemanas. Alat pemanas diletakkan diatas kompor atau tungku. Setelah briket berubah jadi arang yang ditandai dengan habisnya asap yang keluar pada tempat pemanas. Lalu alat pemanas di buka dan briket yang masih membara disemprot dengan air. Briket yang sudah jadi arang ini dapat dipakai sebagai bahan bakar untuk memasak atau kebutuhan rumah tangga (Widodo, 2005).
Pada praktikum Dasar Teknologi Hasil Ikutan Ternak acara pembuatan brikoter ini diawali dengan menimbang semua bahan yaitu feses sapi, tepung kanji dan serbuk gergaji. Perbandingan semua bahan ini adalah 2:1:1 yaitu 2 Kg untuk feses sapi, 1 Kg untuk tepung kanji dan 1 Kg untuk serbuk gergaji. Setelah semua bahan ditimbang, kemudian bahan dimasukkan ke dalam ember plastik dan diaduk hingga homogen. Sebernarnya dalam pembuatan brikoter ini tidak perlu menggunakan air karena feses sapi sudah mengandung air namun karena feses sapi yang digunakan dalam praktikum ini terlalu kering maka perlu penambahan air agar bahan mudah dicampur menjadi homogen. Langkah selanjutnya adalah mencetak briket menggunakan alat pencetak briket sederhana yang telah dibuat.
Pada praktikum ini, kami hanya mencetak briket berjumlah 10 buah yang akan digunakan sebagai bahan uji kualitas brikoter. Setelah briket selesai dicetak, briket dijemur selama satu minggu untuk mengurangi kadar air yang ada didalam briket agar briket mudah untuk dibakar.
Gambar 2. Proses penimbangan bahan-bahan untuk briket
Gambar 3. Proses pencampuran bahan-bahan briket
Gambar 4. Proses pencetakan briket
Setelah satu minggu dijemur, briket dibakar untuk menguji kualitasnya. Pengujian briket menggunakan alkohol dan minyak tanah sebagai indikator. Hasil praktikum menunjukkan bahwa briket yang dibakar menggunakan alkohol hanya menyala selama 2 menit 40 detik dengan nyala api berwarna jingga atau orange yang tidak begitu terang tanpa asap sedangkan briket yang dibakar menggunakan minyak tanah mampu menyala selama 4 menit 33 detik dengan nyala api orange terang dan berasap. Hal ini disebabkan karena sifat alkohol yang mudah menguap sedangkan minyak tanah tidak mudah menguap dan mampu diserap dengan baik oleh briket sehingga briket mampu menyala lebih lama. Pembakaran alkohol adalah pembakaran sempurna, yang disamping menghasilkan panas dan cahaya juga hanya menghasilkan karbon dioksida (CO2) dan air sehingga pembakaran berlangsung dengan cepat. Gas CO2 dan air adalah partikel yang tidak berbau, itulah sebabnya pembakaran kompor alkohol tidak menimbulkan bau apalagi bau asap. Kompor alkohol tidak menghasilkan asap seperti kompor minyak tanah. Asap yang dihasilkan kompor minyak tanah berasal dari pembakaran yang tidak sempuna. Asap adalah campuran partikel berukuran renik yang berwujud padat (misalnya debu) atau berwujud cair di dalam udara, oleh karena itu pembakaran menggunakan minyak tanah berlangsung lama (Rizna, 2009).
Gambar 5. Pembakaran briket menggunakan alkohol
Gambar 6. Pembakaran briket menggunakan minyak tanah.
Pembakaran briket ini tidak berlangsung secara sempurna karena sebagian briket ada yang tidak terbakar. Hal ini dikarenakan proses penjemuran yang kurang maksimal sehingga bagian tengah briket masih sedikit basah. Pada bagian briket yang terbakar menghasilkan arang yang halus dan rapat. Hal ini bisa disebabkan karena komposisi tepung kanji yang terlalu banyak. Solusi dari permasalah diatas adalah mengubah komposisi sampai ditemukan komposisi yang pas untuk menghasilkan briket arang yang sempurna serta melakukan penjemuran yang benar-benar intensif sehingga briket mampu terbakar sempurna. Menurut Wahyu (2011), proses pembuatan briket bioarang memang agak rumit, namun sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dipraktekkan. Agar bisa terbakar dengan baik, campuran lem kanji dengan tepung arang menggunakan perbandingan (1:9) sehingga menjadi adonan yang lengket. Agar pemakaian bioarang lebih hemat adonan ini dapat ditambah ampas kelapa, serbuk gergaji, kertas bekas, bubuk ampas jarak pagar sisa proses pembuatan biodisel dan semacamnya. Selanjutnya adonan diaduk-aduk agar semua bahan tercampur rata dan cukup lengket. Adonan yang sudah lengket kemudian dicetak pada alat pencetak. Dalam pembuatan briket bioarang ini, bahan utama bisa diganti menggunakan kotoran ternak.
D.  Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum Dasar Teknologi Hasil Ikutan ternak acara pembuatan brikoter ini adalah briket merupakan  sumber energi alternatif pengganti Minyak Tanah dan Elpiji dari bahan-bahan bekas, sampah maupun limbah-limbah pertanian yang tidak terpakai dan diolah. Proses pembuatan brikoter adalah menimbang semua bahan. Perbandingan semua bahan untuk briket adalah 2:1:1 yaitu 2 Kg untuk feses sapi, 1 Kg untuk tepung kanji dan 1 Kg untuk serbuk gergaji setelah itu mencampur semua bahan hingga homogen, mencetak briket pada alat pencetak briket, menjemur briket dan membakar briket.
Briket yang dibakar menggunakan alkohol hanya menyala selama 2 menit 40 detik dengan nyala api berwarna jingga atau orange yang tidak begitu terang sedangkan briket yang dibakar menggunakan minyak tanah mampu menyala selama 4 menit 33 detik. Hal ini disebabkan karena sifat alkohol yang mudah menguap.
Pembakaran briket ini tidak berlangsung secara sempurna karena sebagian briket ada yang tidak terbakar karena proses penjemuran yang kurang maksimal sehingga bagian tengah briket masih sedikit basah. Pada bagian briket yang terbakar menghasilkan arang yang halus dan rapat yang  dikarenakan komposisi tepung kanji yang terlalu banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Arhief. 2008. Pembuatan  Briket. http://arhiefstyle87.wordpress.Com /2008/04/10 /pembuatan-briket-arangdari-serbuk-gergaji/. Diakses pada hari Rabu, 30 November 2011 pukul 14.00 WIB.
Farida E. 2000. Pengaruh Penggunaan Feses Sapi dan Campuran Limbah Organik Lain Sebagai Pakan atau Media Produksi Kokon dan Biomassa Cacing Tanah Eisenia foetida savigry. Skripsi Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. IPB, Bogor.
Rita. 2009. Briket Sampah. http://bandarsampah.blogdetik.com. Diakses pada hari Rabu, 30 November 2011 pukul 14.00 WIB.
Rizna. 2009. Faktanya kompor BBA. http://sekolahmultiply.multiply.com/journal /item/11. Diakses pada hari Sabtu, 10 Desember 2011 pukul 19.00 WIB.
Sofyadi, Cahyan. 2003. Konsep Pembangunan Pertanian dan Peternakan Masa Depan. Badan Litbang Departemen Pertanian. Bogor.
Sihombing D.T.H. 2000. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha Peternakan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian, Institut Pertanian Bogor
Soehadji. 1992. Kebijakan Pemerintah dalam Industri Peternakan dan Penanganan Limbah Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta.
Wahyu, Arozi. 2011. Pembuatan Briket Arang. www.madanitec.com. Diakses pada hari Sabtu, 10 Desember 2011 pukul 19.00 WIB.
Widodo, Asari, dan Unadi, 2005. Pemanfaatan Energi Biogas Untuk Mendukung Agribisnis Di Pedesaan. Publikasi Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Serpong.

PEMBUATAN PUPUK CAIR DARI URINE SAPI

I.         PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Selain untuk meningkatkan hasil pertanian baik untuk tanaman keras maupun lunak, pupuk organik sangat cocok digunakan dialam tropis ini, karena tidak meninggalkan residu di dalam tanah dan membuat tanah menjadi gembur. Residu yang bertumpuk didalam tanah dalam jangka waktu panjang akan merusak unsur hara didalam tanah yang berakibat tanah menjadi keras dan menggumpal.
Ada tiga unsur yang sangat menentukan tingkat kesuburan tanah di lahan pertanian yaitu unsur biologi, fisika dan kimia, ketiga unsur ini saling terkait dan harus seimbang. Ketimpangan unsur didalam kandungan tanah akan mematikan unsur biologi didalam tanah, tanah menjadi semakin keras dan tidak dapat menyimpan air. Kalau sudah terjadi ketimpangan ini, pemulihannya akan memakan waktu lama dan memakan biaya yang besar.
Sekarang ini sedang maraknya program GO GREEN yang mana semua produk khususnya yang dikonsumsi manusia diupayakan bersifat organik.Melihat peluang tersebut banyak kalangan (pengusaha, produsen, pedagang, dll) yang cepat-cepat beralih ke produk organik dengan memanfaatkan berbagai limbah untuk pembuatan pupuk organik.
Pupuk dari urin bagi sebagian orang mungkin terdengar tak lazim, tapi begitulah kenyataannya. Urine sapi merupakan komoditi yang berharga karena urine sapi mengandung unsur Nitrigen yang tinggi yang berguna untuk menyuburkan tanah. Oleh karena itu sudah banyak sekali petani yang mengolah dan menggunakan urine sapi sebagai pupuk organik yang ekonomis dan menguntungkan.
B.       Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
  1. Mahasiswa mengetahui cara pembuatan pupuk cair dan manfaat dari pupuk cair tersebut.
II.                TINJAUAN PUSTAKA
Banyak penelitian yang telah dilakukan terhadap urine sapi, diantaranya adalah Anty ( 1987 ) melaporkan bahwa urine sapi mengandung zat perangsang tumbuh yang dapat digunakan sebagai pengatur tumbuh diantaranya adalah IAA. Lebih lanjut dijelaskan bahwa urine sapi juga memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman jagung.  Karena baunya yang khas urine ternak juga dapat mencegah datangnya berbagai hama tanaman sehingga urine sapi juga dapat berfungsi sebagai pengendalian hama tanaman dari serangan (Phrimantoro, 1995).
Lingga, ( 1991) melaporkan bahwa jenis dan kandungan hara yang terdapat pada beberapa kotoran ternak padat dan cair dapat dilihat pada Tabel 1. berikut.
Table 1. Jenis dan kandungan zat hara pada beberapa kotoran ternak padat dan cair
Ternak dan kotorannya
Nitrogen (%) Fosfor (%) Kalium (%) Air (%)
Kuda –padat 0.55 0.30 0.40 75
Kuda –cair 1.40 0.02 1.60 90
Kerbau –padat 0.60 0.30 0.34 85
Kerbau –cair 1.00 0.15 1.50 92
Sapi –padat 0.40 0.20 0.10 85
Sapi –cair 1.00 0.50 1.50 92
Kambing –padat 0.60 0.30 0.17 60
Kambing –cair 1.50 0.13 1.80 85
Domba –padat 0.75 0.50 0.45 60
Domba –cair 1.35 0.05 2.10 85
Babi – padat 0.95 0.35 0.40 80
Babi –cair 0.40 0.10 0.45 87
Ayam –padat dan cair 1.00 0.80 0.40 55
Sumber : Lingga, 1991

Nutrisi organik dari hasil fermentasi sudah seimbang dalam jumlah dan komposisi unsur-unsur yang dikandung nutrisi tersebut Harahap (2003). Pada Pupuk buatan yang mengandung satu nutrisi saja bertolak belakang dengan pupuk organik yang beragam dan seimbang(Hsieh S.C dan C.F. Hsieh.(1987)
Nutrisi alami belum banyak dimanfaatkan atau digunakan oleh masyarakat secara luas, sedangkan untuk pupuk telah lama digunakan petani. Pupuk atau nutrisi ini berasal dari kotoran hewan, seperti ayam, kambing, kerbau, kuda, babi, dan sapi. Kotoran tersebut dapat berupa padat dan cair (urine ternak) dengan kandungan zat hara yang berlainan. Pupuk kandang cair jarang digunakan, padahal kandungan haranya lebih banyak. Hal ini disebabkan untuk menampung urine ternak lebih susah repot dan secara estetika kurang baik – bau (Phrimantoro, 1995).
Fermentasi merupakan aktivitas mikroorganisme baik aerob maupun anaerob yang mampu mengubah atau mentranspormasikan senyawa kimia ke subtrat organik (Rahman,1989). Selanjutnya Winarno (1990) mengemukan bahwa fermentasi dapat terjadi karena ada aktivitas mikroorganisme penyebab fermentasi pada subtrat organik yang sesuai, proses ini dapat menyebabkan perubahan sifat bahan tersebut.
Joo. Y.H (1990). Melaporkan bahwa teknologi fermentasi anaerob untuk skala petani telah banyak dikembangkan, dimana hasilnya pupuk kandang dikonversikan tidak hanya dalam bentuk pupuk organik cair yang bagus tetapi juga dalam bentuk biogas yang berenergi tinggi.
Prinsip dari fermentasi anaerob ini adalah bahan limbah organik dihancurkan oleh mikroba dalam kisaran temperatur dan kondisi tertentu yaitu fermentasi anaerob. Studi tentang jenis bakteri yang respon untuk fermentasi anaerob telah dimulai sejak tahun 1892 sampai sekarang. Ada dua tipe bakteri yang terlibat yaitu bakteri fakultatif yang mengkonversi sellulola menjadi glukosa selama proses dekomposisi awal dan bakteri obligate yang respon dalam proses dekomposisi akhir dari bahan organik yang menghasilkan bahan yang sangat berguna dan alternatif energi pedesaaan.( Joo, 1990).

III.             PEMBAHASAN

Kebutuhan akan bahan pangan terus juga meningkat seiring dengan pertambahan penduduk. Dengan kemajuan teknologi beberapa produksi pertanian masih dapat ditingkatkan melalui upaya intensifikasi pertanian. Upaya intensifikasi ini juga akhir-akhir mengalami hambatan seperti semakin kecilnya subsidi pemerintah terhadap sarana produksi pertanian ( pupuk, pestisida dll).
Dengan adanya krisis ekonomi yang dialami oleh negara kita sampai sekarang, dampak ini juga dirasakan oleh para petani. Dimana daya beli masyarakat tani menjadi berkurang dan ditambahkan lagi harga pupuk dan sarana produksi lain yang semakin tinggi. Masalah ini menyebabkan petani tidak banyak menerapkan budidaya yang baik untuk meningkatkan produksinya.
Masalah lain dari pupuk buatan yang digunakan selama ini adalah menyebabkan rusaknya struktur tanah akibat pemakaian pupuk buatan yang terus menerus sehingga perkembangan akar tanaman menjadi tidak sempurna. Hal ini juga akan memberi dampak terhadap produksi tanaman yang diusahakan pada tanah yang biasa diberikan pupuk buatan. Begitu juga dari efek sarana produksi terhadap lingkungan telah banyak dirasakan oleh masyarakat petani, penggunaan pupuk buatan yang terus menerus menyebabkan ketergantungan dan lahan mereka menjadi lebih sukar untuk diolah.
Sistem budidaya secara organik kini telah menampakan hasil yang cukup signifikan pada tingkat peneliti tetapi ditingkat petani masih terbatas yang menerapkannya. Begitu juga penerapan budidaya secara hidroponik. Hidroponik adalah teknik budidaya tanaman tampa menggunakan media tanah sebagai media tumbuhnya. Sistem hidroponikpun mempunyai kelemahan dalam pembiayaan awal dan operasinya. Sehingga hidroponikpun kurang berkembang di masyarakat tani. Menurut hasil laporan Trubus (2002) sistem hidroponik sangat mahal, terutama untuk pemberian nutrisi tanamanannya (70 % biaya produksi digunakan untuk hal ini.) . Dilain pihak produksi yang rendah disebabkan beberapa hal, yaitu banyak petani yang belum menerapkan cara budidaya yang baik, seperti penggunaan pupuk yang kurang berimbang, perawatan yang kurang intensif dan salah perhitungan waktu tanam.
Tetapi sekarang dengan telah berkembangnya teknologi fermentasi masalah nutrisi pada sistem budidaya hidroponik telah memberikan harapan baru. Apalagi bahan baku yang digunakan untuk membuat nutrisi juga merupakan limbah dari peternakan, yang selama ini juga sebagai bahan buangan.
Produk utama yang dapat dimanfaatkan dari peternakan ruminansia besar dan ruminansia kecil antara lain daging, susu dan kulit yang telah terbukti mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Hasil sampingannya berupa kotoran feces yang dimanfaat sebagai pupuk organik berupa kompos juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, maka saat ini urine juga ternyata mulai menjadi komoditi berharga jika dapat dimanfaatkan dengan baik.
Oleh karena itu sebagai salah satu potensi dalam bidang peternakan, maka perlu melihat peluang-peluang dari produk-produk peternakan yang dapat dimanfaatkan. Salah satu peluang, yang dapat dimanfaatkan yaitu kotoron dan limbah urine sebagai bahan baku pembuatan pupuk cair organik. Saat ini penggunaan pupuk organik makin meningkat sejalan dengan berkembangnya pertanian organik. Dengan sentuhan inovasi teknologi, limbah urine diproses (difermentasi) menjadi pupuk cair dengan kandungan hara tinggi berbahan limbah urine (biourine) sebagai nutrisi tanaman sehingga menjadikan salah satu pendapatan bagi setiap peternak.
Pemanfaatan limbah urine sebagai salah satu pupuk organik memberikan hasil yang cukup menjanjikan, sehingga peternak sudah bisa memperoleh hasil sebelum ternak itu dijual. Harga urine yang sudah diolah dan menjadi pupuk cair, berkisar antara Rp 7.000 – Rp 8.000/liter. Pemanfaatan urine ini sangat berpotensi, sehingga perlu memberdayakan peternak agar semua produk dari ternak bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan keuntungan secara ekonomis, meski awalnya perlu ada pendampingan terhadap peternak, terutama soal teknik atau cara menampung urine hingga proses pembuatan menjadi pupuk cair.

urine sapi (air kencing sapi) sangat bermanfaat sekali bagi petani karena urine sapi mengandung berbagai unsur hara sehingga dapat digunakan sebagai pupuk cair. Sebelum digunakan sebagai pupuk pertanian urine sapi ini sebaiknya di fermentasi terlebih dahulu.Salah satu cara memfermentasi urine sapi salah tersebut adalah:
A.  Bahan Pupuk cair
Bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk cair sangatlah sederhana dan mudah di dapat. Bahan-bahan tersebut antara lain adalah:
  1. Urine sapi 20 liter
  2. Gula merah 1 kg atau tetes tebu 1 liter
  3. Segala jenis empon-empon(Lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, brotowali) masing-masing ½ kg
  4. Air rendaman kedelai 1 gelas atau Urea 1 sendok makan
  5. Lebih bagus jika dicampur dengan bakteri dekomposer (EM4, Simba, Mbio dll)
B.  Cara Pembuatan
  1. Urine sapi di tampung dan dimasukan ke dalam drum plastik
  2. Lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, brotowali, ditumbuk sampai halus kemudian dimasukkan ke dalam drum plastik, maksud penambahan bahan-bahan ini untuk menghilangkan bau urine ternak dan memberikan rasa yang tidak disukai hama.
  3. Setelah itu tetes tebu dimasukkan kedalam drum plastik, lalu dimasukkan starter dan air rendaman kedelai. Tetes tebu, air rendaman kedelai dan starter (Sacharomyces cereviceae) ini berguna untuk fermentasi dan nantinya setelah jadi pupuk cair bisa menambah jumlah mikroba menguntungkan yang ada didalam tanah.
  4. Fermentasi urine didiamkan selama 14 hari dan diaduk setiap setiap hari.
  5. Drum plastik ditutup dengan kain serbet atau kertas.
  6. Setelah 14 hari pupuk cair sudah jadi kemudian disaring dan dikemas.
Setelah pembuatan pupuk cair selesai hasilnya bagus. Urine sapi  sebelum difermentasi warnanya coklat kekuning-kuningan, baunya masih berbau urine, tetapi setelah difermentasi warnanya berubah menjadi coklat kehitam-hitaman, dan sudah tidak berbau urine. Penulis sudah mencobakan pada tanaman sayur dan bunga ternyata bagus. Tanaman sayuran dan bunga yang telah diberi pupuk cair ini menjadi lebih subur, daunnya kelihatan segar dan hijau serta ulat yang menghinggapinya hilang. Pupuk cair ini juga dapat meningkatkan keuntungan pertanian serta memberikan keuntungan bagi kita.
Cara penggunaan pupuk cair dari urine sapi ini yaitu dicampur dengan air dengan perbandingan 10% (1 urine:10 air)
  • Untuk seed treatmen benih/biji direndam selama semalam
  • Untuk bibit perendaman selama maksimal 10 menit
  • Untuk pupuk cair yang diaplikasi lewat daun gunakan 1 liter urine per tangki

C.  Manfaat Pupuk Cair
Pupuk organik ramah lingkungan dari limbah ternak itu bisa memutus ketergantungan petani terhadap pupuk urea atau pupuk kimia lainnya. Dengan demikian, para petani tak perlu repot memikirkan dan membeli pupuk urea, cukup tanaman dipupuk dengan menggunakan pupuk organik yang berasal dari limbah urine sapi. Pupuk organik mempunyai efek jangka panjang yang baik bagi tanah, yaitu dapat memperbaiki struktur kandungan organik tanah dan selain itu juga menghasilkan produk pertanian yang aman bagi kesehatan, sehingga pupuk organik ini dapat digunakan untuk pupuk yang ramah lingkungan. Manfaat lain yaitu:
  • Zat perangsang pertumbuhan akar tanaman pada benih/bibit
  • Sebagai Pupuk daun organik
  • Dengan dicampur pestisida organik bisa membuka daun yang keriting akibat serangan thrip.
IV.             KESIMPULAN
Dari data pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
  1. Urine sapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk cair karena banyak mengandung unsur hara seperti Nitrogen yang dapat menyuburkan tanah.
  2. Kunci dalam pembuatan pupuk cair ini adalah adanya fermentasi dari mikrobia yang sengaja ditambahkan.
  3. Urine sapi  sebelum difermentasi warnanya coklat kekuning-kuningan, baunya masih berbau urine, tetapi setelah difermentasi warnanya berubah menjadi coklat kehitam-hitaman, dan sudah tidak berbau urine
  4. Manfaat pupuk cair adalah dapat memperbaiki struktur kandungan organik tanah dan selain itu juga menghasilkan produk pertanian yang aman bagi kesehatan, sehingga pupuk organik ini dapat digunakan untuk pupuk yang ramah lingkungan. Manfaat lain yaitu:
  • Zat perangsang pertumbuhan akar tanaman pada benih/bibit
  • Sebagai Pupuk daun organik
  • Dengan dicampur pestisida organik bisa membuka daun yang keriting akibat serangan thrip.
DAFTAR PUSTAKA
Admin. 2010. Pupuk Organik Dan Urine Sapi. http://www.dewanagribisnis.org /2011/09/26/pupuk-organik-dari-urine-sapi/. Diakses pada hari Rabu, 16 November 2011.
Affandi. 2008. PEMANFAATAN URINE SAPI YANG DIFERMENTASI SEBAGAI NUTRISI TANAMAN http://affandi21. xanga.com/644038359/ pemanfaatan-urine-sapi-yang-difermentasi-sebagai-nutrisi-tanaman/. Diakses pada hari Rabu, 16 November 2011.
Maspary. 2011. Cara Mudah Fermentasi Urine Sapi Untuk Pupuk Organik Cair. http://www.gerbangpertanian.com/2010/04/cara-mudah-fermentasi-urine-sapi-untuk.html. Diakses pada hari Rabu, 16 November 2011. Diakses pada hari Rabu, 16 November 2011.
PustakaIndonesia. 2011. Membuat Pupuk Dari Urine Sapi. http://hasil-indonesia.blogspot.com/2011/01/membuat-pupuk-dari-urine-sapi.html.