I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Revolusi hijau telah mendorong penggunaan pupuk anorganik sebagai
prioritas untuk meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman guna
menopang kebutuhan pangan. Seiring dengan itu, penggunaan pupuk
anorganik cukup mampu meningkatkan hasil tanaman sehingga dapat memenuhi
kebutuhan pangan tetapi sekaligus memberikan dampak berkurangnya
penggunaan pupuk organik. Bahkan ditinggalkannya pupuk organik oleh
petani dalam usaha membudi dayakan tanamannya.
Dampak penggunaan pupuk anorganik yang tidak mempertimbangkan sifat
tanah dan kebutuhan tanaman telah menimbulkan permasalahan tersendiri
terutama yang berlebihan pada produktivitas dan kesehatan tanah. Praktek
penggunaan pupuk anorganik merupakan salah satu sumber emisi gas rumah
kaca seperti N
2O dan CH
4 yang berpengaruh pada pemanasan global. Kehilangan nitrogen dari pupuk N melalui proses volatilisasi NH
3 maupun emisi gas N
2O, selain mengakibatkan penggunaan pupuk tidak efisien juga menyebabkan dampak negatif pada lingkungan.
Untuk mengatasi masalah efisiensi pupuk dan penurunan kualitas
lingkungan salah satunya adalah dengan gerakan penggunaan kembali pupuk
organik seperti kompos yang bersumber dari sumber daya lokal.
Pemanfaatan kompos bisa mensubstitusi penggunaan pupuk anorganik
sehingga bisa mengatasi persoalan subsidi pupuk dengan mempertahankan
atau bahkan meningkatkan produktivitas lahan dengan mempraktekkan
pertanian yang ramah lingkungan. Selain hal tersebut penggunaan kompos
juga dapat memperkecil fluktuasi suhu dan kelembapan tanah yang semakin
meningkat akibat terjadinya perubahan iklim.
Untuk menghasilkan kompos yang bermutu baik, diperlukan teknologi
pengomposan yang selama ini telah teruji baik di laboratorium maupun
lapangan.
Buku teknologi pengomposan ini merupakan buku penuntun pengomposan yang
disusun secara komprehensif dengan menampilkan seluruh aspek teknologi
pengomposan. Aspek teknologi tersebut dari skala laboratorium, teknologi
penggunaan mikroba perombak bahan organik, sampai pengomposan dengan
menggunakan aktivitas cacing tanah. Dengan diterbitkannya buku ini,
diharapkan para pengguna mendapatkan tambahan pengetahuan dan manfaat
tentang pengomposan tidak hanya pada tata cara atau tahapan pengomposan
yang selama ini sudah biasa ditampilkan buku-buku yang bertema kompos
dan pengomposan.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
- Mahasiswa mengetahui jenis-jenis kompos dan bagaimana cara pembuatannya.
- Mahasiswa mengetahui manfaat dari pengomposan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran
bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh
populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat,
lembab, dan aerobik atau anaerobik. Sedangkan pengomposan adalah proses
dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya
oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber
energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami
tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi
membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup,
mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan (Crawford,
2003).
Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah
mencapai ±80%, sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan
yang sesuai. Kompos sangat berpotensi untuk dikembangkan mengingat
semakin tingginya jumlah sampah organik yang dibuang ke tempat
pembuangan akhir dan menyebabkan terjadinya polusi bau dan lepasnya gas
metana ke udara. DKI Jakarta
menghasilkan 6000 ton sampah setiap harinya, di mana sekitar 65%-nya
adalah sampah organik. Dan dari jumlah tersebut, 1400 ton dihasilkan
oleh seluruh pasar
yang ada di Jakarta, di mana 95%-nya adalah sampah organik. Melihat
besarnya sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihat
potensi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi
kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat (Rohendi, 2005)
III. PEMBAHASAN
Pengomposan merupakan penguraian dan pemantapan bahan-bahan organik
secara biologis dalam temperatur thermophilic (suhu tinggi) dengan hasil
akhir berupa bahan yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah.
Pengomposan dapat dilakukan secara bersih dan tanpa menghasilkan
kegaduhan di dalam maupun di luar ruangan.
Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam
dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses
pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk
mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan
teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi
sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi. Pada prinsipnya pengembangan
teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organic
yang terjadi secara alami. Proses penguraian dioptimalkan sedemikian
rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien.
Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama
untuk mengatasi permasalahan limbah organic, Pengomposan secara aerobik
paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta
tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan
dilakukan oleh mikroorganisme
di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan
secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan
udara dalam mendegradasi bahan organik.
Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik,
dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang
sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec,
SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan
SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna
mendapatkan kompos (vermicompost). Setiap aktivator memiliki keunggulan
sendiri-sendiri. Keunggulan dari proses pengomposan antara lain
teknologinya yang sederhana, biaya penanganan yang relatif rendah, serta
dapat menangani sampah dalam jumlah yang banyak (tergantung luasan
lahan).
Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat
dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai
upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman
menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah
dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan
kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai
bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan
sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Bahan baku pengomposan adalah semua material orgaengandung karbon dan
nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur
cair dan limbah industri pertanian. Berikut disajikan bahan-bahan yang umum dijadikan bahan baku pengomposan.
Tabel 1. Macam Limbah Untuk Pengomposan
| Asal |
Bahan |
Contoh |
|
Pertanian
|
Limbah dan residu tanaman
|
Jerami dan sekam padi, gulma, batang dan tongkol jagung, semua bagian vegetatif tanaman, batang pisang dan sabut kelapa |
|
Limbah & residu ternak
|
Kotoran padat, limbah ternak cair, limbah pakan ternak, cairan biogas |
|
Tanaman air
|
Azola, ganggang biru, enceng gondok, gulma air |
|
Indutri
|
Limbah padat
|
Serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, limbah kelapa sawit, limbah pengalengan makanan dan pemotongan hewan |
|
Limbah cair
|
Alkohol, limbah pengolahan kertas, ajinomoto, limbah pengolahan minyak kelapa sawit |
|
Limbah Rumah Tangga
|
Sampah
|
Tinja, urin, sampah rumah tangga dan sampah kota |
Setiap bahan organik, bahan-bahan hayati yang telah mati, akan
mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Daun-daun yang gugur ke
tanah, batang atau ranting yang patah, bangkai hewan, kotoran hewan,
sisa makanan, dan lain sebagainya, semuanya akan mengalami proses
dekomposisi kemudian hancur menjadi seperti tanah berwarna
coklat-kehitaman. Wujudnya semula tidak dikenal lagi. Melalui proses
dekomposisi terjadi proses daur ulang unsur hara secara alamiah. Hara
yang terkandung dalam bahan atau benda-benda organik yang telah mati,
dengan bantuan mikroba (jasad renik), seperti bakteri dan jamur, akan
terurai menjadi hara yang lebih sederhana dengan bantuan manusia maka
produk akhirnya adalah kompos (compost).
A. Jenis-jenis kompos
Kompos mempunyai tiga jenis yaitu:
- Kompos cacing (vermicompost), yaitu kompos yang terbuat dari bahan organik yang dicerna oleh cacing. Yang menjadi pupuk adalah kotoran cacing tersebut.
- Kompos bagase, yaitu pupuk yang terbuat dari ampas tebu sisa penggilingan tebu di pabrik gula.
- Kompos bokashi
B. Manfaat Kompos
Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan
organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk
mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang
bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos.
Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari
tanah. Aktivitas mikroba tanah juga d iketahui dapat membantu tanaman
menghadapi serangan penyakit.
Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik
kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal:
hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih
enak.
Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:
Aspek Ekonomi :
- Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
- Mengurangi volume/ukuran limbah
- Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
Aspek Lingkungan :
- Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas
metana dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri metanogen di
tempat pembuangan sampah
- Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
Aspek bagi tanah/tanaman:
- Meningkatkan kesuburan tanah
- Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
- Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah
- Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
- Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
- Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
- Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
- Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah
Peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah di antaranya
merangsang granulasi, memperbaiki aerasi tanah, dan meningkatkan
kemampuan menahan air. Peran bahan organik terhadap sifat biologis tanah
adalah meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan pada fiksasi
nitrogen dan transfer hara tertentu seperti N, P, dan S. Peran bahan
organik terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatkan kapasitas tukar
kation sehingga memengaruhi serapan hara oleh tanaman (Gaur, 1980).
Beberapa studi telah dilakukan terkait manfaat kompos bagi tanah dan
pertumbuhan tanaman. Penelitian Abdurohim, 2008, menunjukkan bahwa
kompos memberikan peningkatan kadar Kalium pada tanah lebih tinggi dari
pada kalium yang disediakan pupuk NPK,
namun kadar fosfor tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan NPK.
Hal ini menyebabkan pertumbuhan tanaman yang ditelitinya ketika itu,
caisin (
Brassica oleracea), menjadi lebih baik dibandingkan dengan NPK.
Hasil penelitian Handayani, 2009, berdasarkan hasil uji Duncan, pupuk cacing (
vermicompost) memberikan hasil pertumbuhan yang terbaik pada pertumbuhan bibit Salam (
Eugenia polyantha Wight) pada media tanam
subsoil. Indikatornya terdapat pada diameter batang, dan sebagainya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan pupuk anorganik tidak memberikan efek apapun pada pertumbuhan bibit, mengingat media tanam
subsoil merupakan media tanam dengan pH
yang rendah sehingga penyerapan hara tidak optimal. Pemberian kompos
akan menambah bahan organik tanah sehingga meningkatkan kapasitas tukar kation tanah dan memengaruhi serapan hara oleh tanah, walau tanah dalam keadaan masam.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor menyebutkan bahwa kompos bagase (kompos yang dibuat dari ampas tebu) yang diaplikasikan pada tanaman tebu (
Saccharum officinarum L)
meningkatkan penyerapan nitrogen secara signifikan setelah tiga bulan
pengaplikasian dibandingkan degan yang tanpa kompos, namun tidak ada
peningkatan yang berarti terhadap penyerapan fosfor, kalium, dan sulfur.
Penggunaan kompos bagase dengan pupuk anorganik secara bersamaan tidak
meningkatkan laju pertumbuhan, tinggi, dan diameter dari batang, namun
diperkirakan dapat meningkatkan rendemen gula dalam tebu.
C. Proses Pengomposan
Proses pengomposan akan segera berlangsung setelah bahan-bahan mentah
dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua
tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal
proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera
dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat
dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos.
Suhu akan meningkat hingga di atas 50
o – 70
o C.
Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada
kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada
suhu tinggi. Pada saat ini terjadi dekomposisi/penguraian bahan organik
yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan
oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO
2, uap air
dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan
berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan
kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus. Selama
proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan.
Pengurangan ini dapat mencapai 30 – 40% dari volume/bobot awal bahan.
Gambar 1. Skema Proses Pengomposan Aerobik
Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen)
atau anaerobik (tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan sebelumnya
adalah proses aerobik, dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses
dekomposisi bahan organik. Proses dekomposisi dapat juga terjadi tanpa
menggunakan oksigen yang disebut proses anaerobik. Namun, proses ini
tidak diinginkan, karena selama proses pengomposan akan dihasilkan bau
yang tidak sedap. Proses anaerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa
yang berbau tidak sedap, seperti: asam-asam organik (asam asetat, asam
butirat, asam valerat, puttrecine), amonia, dan H
2S.
Gambar 2. Profil suhu dan populasi mikroba selama proses pengomposan
Tabel 2. Organisme yang terlibat dalam proses pengomposan
|
Kelompok Organisme
|
Organisme
|
Jumlah/gr kompos
|
| Mikroflora |
Bakteri; Aktinomicetes; Kapang |
109 – 109; 105 108; 104 – 106 |
| Mikrofanuna |
Protozoa |
104 – 105 |
| Makroflora |
Jamur tingkat tinggi |
|
| Makrofauna |
Cacing tanah, rayap, semut, kutu, dll |
|
|
|
|
|
Proses pengomposan tergantung pada :
- Karakteristik bahan yang dikomposkan
- Aktivator pengomposan yang dipergunakan
- Metode pengomposan yang dilakukan
Peralatan yang dibutuhkan dalam pengomposan secara aerobik terdiri
dari peralatan untuk penanganan bahan dan peralatan perlindungan
keselamatan dan kesehatan bagi pekerja. Berikut disajikan peralatan yang
digunakan.
- Terowongan udara (Saluran Udara)
- Digunakan sebagai dasar tumpukan dan saluran udara
- Terbuat dari bambu dan rangka penguat dari kayu
- Dimensi : panjang 2m, lebar ¼ – ½ m, tinggi ½ m
- Sudut : 45o
- Dapat dipakai menahan bahan 2 – 3 ton
2. Sekop
- Alat bantu dalam pengayakan dan tugas-tugas lainnya
3. Garpu/cangkrang
- Digunakan untuk membantu proses pembalikan tumpukan bahan dan pemilahan sampah
4. Saringan/ayakan
- Digunakan untuk mengayak kompos yang sudah matang agar diperoleh ukuran yang sesuai
- Ukuran lubang saringan disesuaikan dengan ukuran kompos yang diinginkan
- Saringan bisa berbentuk papan saring yang dimiringkan atau saringan putar
5. Termometer
- Digunakan untuk mengukur suhu tumpukan
- Pada bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke bagian dalam tumpukan dan menariknya kembali dengan cepat
- Sebaiknya digunakan termometer alkohol (bukan air raksa) agar tidak mencemari kompos jika termometer pecah
6. Timbangan
- Digunakan untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai berat yang diinginkan
- Jenis timbangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penimbangan dan pengemasan
7. Sepatu boot
- Digunakan oleh pekerja untuk melindungi kaki selama bekerja agar terhindar dari bahan-bahan berbahaya
8. Sarung tangan
- Digunakan oleh pekerja untuk melindungi tangan selama melakukan
pemilahan bahan dan untuk kegiatan lain yang memerlukan perlindungan
tangan
9. Masker
- Digunakan oleh pekerja untuk melindungi pernafasan dari debu dan gas bahan terbang lainnya
Gambar 3. Kompos Bahan Organik dan Kotoran Hewan
Pengomposan dapat juga menggunakan alat mesin yang lebih maju dan
modern. Komposter type Rotary Kiln, misalnya, berfungsi dalam memberi
asupan oksigen ( intensitas aerasi), menjaga kelembaban, suhu serta
membalik bahan secara praktis. Komposter type Rotary Klin di pasaran
terdapat dengan kapasitas 1 ton setara 3 m3 hingga 2 ton atau setara 6
m3 bahan sampah, menggunakan proses pembalikan bahan dan mengontrol
aerasi dengan cara mengayuh pedal serta memutar aerator ( exhaust fan).
Penggunaan komposter Biophoskko disertai aktivator kompos Green Phoskko
(GP-1) telah mampu meningkatkan kerja penguraian bahan
organik(dekomposisi) oleh jasad renik menjadi 5 sampai 7 hari saja.
Gambar 4. Kompos dari sampah
Gambar 5. Kompos jerami
D. Faktor yang memengaruhi proses Pengomposan
Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi
lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka
dekomposer tersebut akan bekerja giat untuk mendekomposisi limbah padat
organik. Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai, maka
organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan mati.
Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses pengomposan sangat
menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri.
Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain:
1.Rasio C/N
Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1
hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan
menggunakan N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40
mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein.
Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk
sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.
Umumnya, masalah utama pengomposan adalah pada rasio C/N yang tinggi,
terutama jika bahan utamanya adalah bahan yang mengandung kadar kayu
tinggi (sisa gergajian kayu, ranting, ampas tebu, dsb). Untuk menurunkan
rasio C/N diperlukan perlakuan khusus, misalnya menambahkan
mikroorganisme selulotik (Toharisman, 1991) atau dengan menambahkan
kotoran hewan karena kotoran hewan mengandung banyak senyawa nitrogen.
2.Ukuran Partikel
Aktivitas mikroba berada di antara permukaan area dan udara.
Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba
dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran
partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk
meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran
partikel bahan tersebut.
3. Aerasi
Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup
oksigen(aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi
peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang
lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh
porositas dan kandungan air bahan(kelembaban). Apabila aerasi terhambat,
maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak
sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau
mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.
4. Porositas
Porositas adalah ruang di antara partikel di dalam tumpukan kompos.
Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume
total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan
mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh
air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga
akan terganggu.
5. Kelembaban (Moisture content)
Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses
metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay
oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan
organik tersebut larut di dalam air. Kelembaban 40 – 60 % adalah kisaran
optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban di bawah 40%,
aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi
pada kelembaban 15%. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%, hara akan
tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan
menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak
sedap.
6. Temperatur/suhu
Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara
peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur
akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses
dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan
kompos. Temperatur yang berkisar antara 30 – 60oC menunjukkan aktivitas
pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh
sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap
bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba
patogen tanaman dan benih-benih gulma.
7. pH
Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang
optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH
kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses
pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH
bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara
temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman),
sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen
akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang
sudah matang biasanya mendekati netral.
8. Kandungan Hara
Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan bisanya
terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan
dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan.
9. Kandungan Bahan Berbahaya
Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya
bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr
adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam-logam berat
akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan.
10. Lama pengomposan
Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang
dikomposkan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa
penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akan
berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos
benar-benar matang.
| Tabel Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan (Ryak, 1992) |
|
Kondisi
|
Konsisi yang bisa diterima
|
Ideal
|
| Rasio C/N |
20:1 s/d 40:1 |
25-35:1 |
| Kelembaban |
40 – 65 % |
45 – 62 % berat |
| Konsentrasi oksigen tersedia |
> 5% |
> 10% |
| Ukuran partikel |
1 inchi |
bervariasi |
| Bulk Density |
1000 lbs/cu yd |
1000 lbs/cu yd |
| pH |
5.5 – 9.0 |
6.5 – 8.0 |
| Suhu |
43 – 66oC |
54 -6o 0c |
E. Strategi Mempercepat Proses Pengomposan
Pengomposan dapat dipercepat dengan beberapa strategi. Secara umum
strategi untuk mempercepat proses pengomposan dapat dikelompokan menjadi
tiga, yaitu
1. Memanipulasi kondisi/faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengomposan
Strtegi ini banyak dilakukan di awal-awal berkembangnya teknologi
pengomposan. Kondisi atau faktor-faktor pengomposan dibuat seoptimum
mungkin. Sebagai contoh, rasio C/N yang optimum adalah 25-35:1. Untuk
membuat kondisi ini bahan-bahan yang mengandung rasio C/N tinggi
dicampur dengan bahan yang mengandung rasio C/N rendah, seperti kotoran
ternak. Ukuran bahan yang besar-besar dicacah sehingga ukurannya cukup
kecil dan ideal untuk proses pengomposan. Bahan yang terlalu kering
diberi tambahan air atau bahan yang terlalu basah dikeringkan terlebih
dahulu sebelum proses pengomposan. Demikian pula untuk faktor-faktor
lainnya.
2. Menggunakan Aktivator Pengomposan atau Organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan: mikroba pendegradasi bahan organik dan vermikompos (cacing).
Strategi yang lebih maju adalah dengan memanfaatkan organisme yang
dapat mempercepat proses pengomposan. Organisme yang sudah banyak
dimanfaatkan misalnya cacing tanah. Proses pengomposannya disebut
vermikompos dan kompos yang dihasilkan dikenal dengan sebutan kascing.
Organisme lain yang banyak dipergunakan adalah mikroba, baik bakeri,
aktinomicetes, maupuan kapang/cendawan. Saat ini dipasaran banyak sekali
beredar aktivator-aktivator pengomposan, misalnya :
Green Phoskko(GP-1), Promi, OrgaDec, SuperDec, ActiComp, EM4, Stardec, Starbio, BioPos, dan lain-lain.
Promi, OrgaDec, SuperDec, dan ActiComp adalah hasil penelitian Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI)
dan saat ini telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Aktivator
pengomposan ini menggunakan mikroba-mikroba terpilih yang memiliki
kemampuan tinggi dalam mendegradasi limbah-limbah padat organik, yaitu:
Trichoderma pseudokoningii, Cytopaga sp, Trichoderma harzianum, Pholyota sp, Agraily sp dan FPP (fungi pelapuk putih). Mikroba ini bekerja aktif pada suhu tinggi
(termofilik).
Aktivator yang dikembangkan oleh BPBPi tidak memerlukan tambahan
bahan-bahan lain dan tanpa pengadukan secara berkala. Namun, kompos
perlu ditutup/sungkup untuk mempertahankan suhu dan kelembaban agar
proses pengomposan berjalan optimal dan cepat. Pengomposan dapat
dipercepat hingga 2 minggu untuk bahan-bahan lunak/mudah dikomposakan
hingga 2 bulan untuk bahan-bahan keras/sulit dikomposkan.
3. Menggabungkan strategi pertama dan kedua.
Strategi proses pengomposan yang saat ini banyak dikembangkan adalah
mengabungkan dua strategi di atas. Kondisi pengomposan dibuat seoptimal
mungkin dengan menambahkan aktivator pengomposan.
F. Pertimbangan untuk menentukan strategi pengomposan
Seringkali tidak dapat menerapkan seluruh strategi pengomposan di
atas dalam waktu yang bersamaan. Ada beberapa pertimbangan yang dapat
digunakan untuk menentukan strategi pengomposan:
- Karakteristik bahan yang akan dikomposkan.
- Waktu yang tersedia untuk pembuatan kompos.
- Biaya yang diperlukan dan hasil yang dapat dicapai.
- Tingkat kesulitan pembuatan kompos
G. Tahapan pengomposan
- Pemilahan Sampah
Pada tahap ini dilakukan pemisahan sampah organik dari sampah
anorganik (barang lapak dan barang berbahaya). Pemilahan harus dilakukan
dengan teliti karena akan menentukan kelancaran proses dan mutu kompos
yang dihasilkan
2. Pengecil Ukuran
Pengecil ukuran dilakukan untuk memperluas permukaan sampah, sehingga
sampah dapat dengan mudah dan cepat didekomposisi menjadi kompos
3. Penyusunan Tumpukan
Bahan organik yang telah melewati tahap pemilahan dan pengecil ukuran
kemudian disusun menjadi tumpukan. Desain penumpukan yang biasa
digunakan adalah desain memanjang dengan dimensi panjang x lebar x
tinggi = 2m x 12m x 1,75m. Pada tiap tumpukan dapat diberi terowongan
bambu (windrow) yang berfungsi mengalirkan udara di dalam tumpukan.
4. Pembalikan
Pembalikan dilakuan untuk membuang panas yang berlebihan, memasukkan
udara segar ke dalam tumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di
setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian air, serta membantu
penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil.
5. Penyiraman
Penyiraman dilakukan terhadap bahan baku dan tumpukan yang terlalu
kering (kelembaban kurang dari 50%). Secara manual perlu tidaknya
penyiraman dapat dilakukan dengan memeras segenggam bahan dari bagian
dalam tumpukan. Apabila pada saat digenggam kemudian diperas tidak
keluar air, maka tumpukan sampah harus ditambahkan air. sedangkan jika
sebelum diperas sudah keluar air, maka tumpukan terlalu basah oleh
karena itu perlu dilakukan pembalikan.
- Pematangan
Setelah pengomposan berjalan 30 – 40 hari, suhu tumpukan akan semakin
menurun hingga mendekati suhu ruangan. Pada saat itu tumpukan telah
lapuk, berwarna coklat tua atau kehitaman. Kompos masuk pada tahap
pematangan selama 14 hari.
- Penyaringan
Penyaringan dilakukan untuk memperoleh ukuran partikel kompos sesuai
dengan kebutuhan serta untuk memisahkan bahan-bahan yang tidak dapat
dikomposkan yang lolos dari proses pemilahan di awal proses. Bahan yang
belum terkomposkan dikembalikan ke dalam tumpukan yang baru, sedangkan
bahan yang tidak terkomposkan dibuang sebagai residu.
- Pengemasan dan Penyimpanan
Kompos yang telah disaring dikemas dalam kantung sesuai dengan
kebutuhan pemasaran. Kompos yang telah dikemas disimpan dalam gudang
yang aman dan terlindung dari kemungkinan tumbuhnya jamur dan tercemari
oleh bibit jamur dan benih gulma dan benih lain yang tidak diinginkan yang mungkin terbawa oleh angin.
H. Kontrol proses produksi kompos
- Proses pengomposan membutuhkan pengendalian agar memperoleh hasil yang baik.
- Kondisi ideal bagi proses pengomposan berupa keadaan lingkungan atau
habitat dimana jasad renik (mikroorganisme) dapat hidup dan berkembang
biak dengan optimal.
- Jasad renik membutuhkan air, udara (O2), dan makanan berupa bahan organik dari sampah untuk menghasilkan energi dan tumbuh.
Proses pengontrolan yang harus dilakukan terhadap tumpukan sampah adalah:
- Monitoring Temperatur Tumpukan
- Monitoring Kelembaban
- Monitoring Oksigen
- Monitoring Kecukupan C/N Ratio
- Monitoring Volume
I. Mutu kompos
- Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan
sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi pertumbuhan
tanaman.
- Penggunaan kompos yang belum matang akan menyebabkan terjadinya
persaingan bahan nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah yang
mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman
- Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
- Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah,
- Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi,
- Nisbah C/N sebesar 10 – 20, tergantung dari bahan baku dan derajat humifikasinya,
- Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah,
- Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan
- Tidak berbahaya
IV. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
- Pengomposan merupakan penguraian dan pemantapan bahan-bahan organik
secara biologis dalam temperatur thermophilic (suhu tinggi) dengan hasil
akhir berupa bahan yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah
- Kompos memiliki tiga jenis yaitu kompos cacing;kompos bagase; dan kompos bokashi.
- Kompos memilki manfaat dalam segi ekonomis, lingkungan dan
tanah/tanaman diantaranya kompos memperbaiki struktur tanah dengan
meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan
kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah.
- Proses pengomposan tergantung pada :Karakteristik bahan yang
dikomposkan, aktivator pengomposan yang dipergunakan, metode pengomposan
yang dilakukan.
- Proses pengontrolan yang harus dilakukan terhadap tumpukan sampah
adalah monitoring temperatur tumpukan, monitoring kelembaban, monitoring
oksigen, monitoring kecukupan C/N Ratio
- Tahapan pengomposan antara lain: Pemilahan Sampah, Pengecil Ukuran,
Penyusunan Tumpukan, Pembalikan, Penyiraman, Pematangan, Penyaringan,
Pengemasan dan Penyimpanan.
- Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara
lain:Rasio C/N; Ukuran Partikel; Aeras; Porositas; Kelembaban (Moisture
content); Temperatur/suhu; pH; Kandungan Hara; Kandungan Bahan
Berbahaya; Lama pengomposan
- Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan
sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi pertumbuhan
tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurohim, Oim. 2008.
Pengaruh Kompos Terhadap Ketersediaan Hara Dan Produksi Tanaman Caisin Pada Tanah Latosol Dari Gunung Sindur, sebuah skripsi. Dalam IPB Repository, diunduh 13 Juni 2010.
Anonim. 2011.
Teknologi Pengomposan. http://balittanah.litbang.deptan.go.id /index.php?option=com_content&view=article&id=287:pengomposan&catid=25:petunjuk-teknis&Itemid=69
DwiIndahA. 2011.
Pengomposan. http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/ copywriting /2155308-pengomposan/#ixzz1bg5WqAs3
Gaur, D. C. 1980.
Present Status of Composting and Agricultural Aspect, in: Hesse, P. R. (ed).
Improvig Soil Fertility Through Organic Recycling,
Compost Technology. FAO of United Nation. New Delhi.
Guntoro Dwi, Purwono, dan Sarwono. 2003.
Pengaruh Pemberian Kompos Bagase Terhadap Serapan Hara Dan Pertumbuhan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.). Dalam Buletin Agronomi, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor.
Handayani, Mutia. 2009.
Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Kompos Terhadap Pertumbuhan Bibit Salam, sebuah skripsi. Dalam IPB Repository diunduh 13 Juni 2010.
Isroi. 2008. KOMPOS. Makalah. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor.
Rohendi, E. 2005.
Lokakarya Sehari Pengelolaan Sampah Pasar DKI Jakarta, sebuah prosiding. Bogor, 17 Februari 2005.
Toharisman, A. 1991.
Potensi Dan Pemanfaatan Limbah Industri Gula Sebagai Sumber Bahan Organik Tanah.