SELAMAT DATANG DI BLOG ANJAR SETIO PURNOMO, S.Pd.
Tampilkan postingan dengan label Skripsi PTK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi PTK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juni 2012

SKRIPSI OLAHRAGA 2 ( BAB IV dan BAB V )

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Di dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang; A. Hasil Penelitian, dan B. Pembahasan.

A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data
Dalam bab ini peneliti akan membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan proses penelitian dalam rangka pembuktian dari permasalahan yang tercantum pada skripsi ini, baik yang menyangkut persiapan penelitian, jalannya penelitian, jadwal kegiatan serta data-data yang berhubungan dengan penelitian antara lain;

Tabel I :
Nama-Nama Siswa Putera Kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunungsari Tahun Pelajaran 2008/2009.

No Nama Siswa Kelas Jenis Kelamin Ket
1 Ahmad Zaenurrahman XI a L
2 Bahriawan XI a L
3 Bambang Purwanto XI a L
4 Fatahul Aziz XI a L
5 Faturrahman XI a L
6 Hakiki XI b L
7 Hamdi Hamdillah XI b L
8 Herman XI b L
9 Husnul Jadid Fatwa XI b L
10 Lukman Hakim Lbjr XI b L
11 Achmad Subagia XI b L
12 Ahmad Jaelani XI b L
13 Ahmad Nuzul XI b L
14 Ahmad Sultonuddin XI b L
15 Ahmad Yani XI b L
16 Andri Satria XI b L
17 Junaidi Supriadi XI c L
18 M. Burhan Rozi XI c L
19 M. Gunadi XI c L
20 M. Taufik XI c L
21 Ahmad Baihaki XI c L
22 Ahmad Faozan XI c L
23 Hasbullah XI c L
24 Husnul Islam XI c L
25 Lalu Samsul Hadi XI c L
26 Munawir XI c L
27 Muhamad Ripa’i XI c L
28 Muhamad Aziz XI c L
29 Muhamad Faozan XI c L
30 Muhamad Hudairi XI c L
31 Ahmad Husaini XI c L
32 Alwan Syahroni XI c L
33 Azwar Hanandi XI c L
34 Dendi Aditya XI d L
35 Fatahul Rahman XI d L
36 M. Dinunal Islam XI d L
37 M. Isrodin XI d L
38 M. Ramdan XI d L
39 Muhajirin XI d L
40 Muhammad XI d L

Tabel II :
Hasil Tes Kemampuan Anggota Sampel Melakukan Tinggi Lompatan (Vertical Jump)

No Nama siswa TinggiLompatan Tinggi Raihan Kemampuan Vertical Jump
1 Ahmad Zaenurrahman 243 210 33
2 Bahriawan 226 200 26
3 Bambang Purwanto 243 215 28
4 Fatahul Aziz 238 210 28
5 Faturrahman 238 207 31
6 Hakiki 215 189 26
7 Hamdi Hamdillah 237 209 28
8 Herman 241 215 26
9 Husnul Jadid Fatwa 239 211 28
10 Lukman Hakim Lbjr 243 215 28
11 Achmad Subagia 248 217 31
12 Ahmad Jaelani 242 211 31
13 Ahmad Nuzul 232 210 22
14 Ahmad Sultonuddin 241 215 26
15 Ahmad Yani 239 211 28
16 Andri Satria 251 218 33
17 Junaidi Supriadi 248 217 31
18 M. Burhan Rozi 239 211 28
19 M. Gunadi 238 212 26
20 M. Taufik 243 215 28
21 Ahmad Baihaki 238 207 31
22 Ahmad Faozan 237 211 26
23 Hasbullah 235 209 26
24 Husnul Islam 243 215 28
25 Lalu Samsul Hadi 243 210 33
26 Munawir 226 200 26
27 Muhamad Ripa’i 243 215 28
28 Muhamad Aziz 238 210 28
29 Muhamad Faozan 238 207 31
30 Muhamad Hudairi 215 189 26
31 Ahmad Husaini 237 209 28
32 Alwan Syahroni 241 215 26
33 Azwar Hanandi 239 211 28
34 Dendi Aditya 243 215 28
35 Fatahul Rahman 248 217 31
36 M. Dinunal Islam 242 211 31
37 M. Isrodin 232 210 22
38 M. Ramdan 241 215 26
39 Muhajirin 239 211 28
40 Muhammad 251 218 33

Tabel III :
Data Hasil Tes Kemampuan Melakukan Jump Shoot Shooting

No Nama siswa Hasil Tembakan (shooting) Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 Ahmad Zaenurrahman X X X X - X - X X X 8
2 Bahriawan X - X X X - X - - X 6
3 Bambang Purwanto - X X - X - X X X - 6
4 Fatahul Aziz X X - X - - - X X - 5
5 Faturrahman X X - X X X - X X X 8
6 Hakiki - X - X X X X - - X 6
7 Hamdi Hamdillah X - X - - X - X - X 5
8 Herman X X - X - X X - X X 7
9 Husnul Jadid Fatwa - - X X X X - X X - 6
10 Lukman Hakim Lbjr X X X - X - X - X X 7
11 Achmad Subagia X X X - X X X - X X 8
12 Ahmad Jaelani X X - X - X X X - - 6
13 Ahmad Nuzul X - - X - X - - X X 5
14 Ahmad Sultonuddin - X - X X - X X - - 5
15 Ahmad Yani X X X - X X - X X X 8
16 Andri Satria X - - X X X - X X X 7
17 Junaidi Supriadi X X - - - X X - - X 5
18 M. Burhan Rozi X - X X X - - X X X 7
19 M. Gunadi X X X - - X X X X - 7
20 M. Taufik X - X X X X X X - X 8
21 Ahmad Baihaki X X - X X - X - X X 7
22 Ahmad Faozan - X - X - X - X X - 5
23 Hasbullah - - X - X - - X - X 4
24 Husnul Islam - X X X - X X X - - 6
25 Lalu Samsul Hadi X X X X - X - X X X 8
26 Munawir X - X X X - X - - X 6
27 Muhamad Ripa’i - X X - X - X X X - 6
28 Muhamad Aziz X X - X - - - X X - 5
29 Muhamad Faozan X X - X X X - X X X 8
30 Muhamad Hudairi - X - X X X X - - X 6
31 Ahmad Husaini X - X - - X - X - X 5
32 Alwan Syahroni X X - X - X X - X X 7
33 Azwar Hanandi - - X X X X - X X - 6
34 Dendi Aditya X X X - X - X - X X 7
35 Fatahul Rahman X X X - X X X - X X 8
36 M. Dinunal Islam X X - X - X X X - - 6
37 M. Isrodin X - - X - X - - X X 5
38 M. Ramdan - X - X X - X X - - 5
39 Muhajirin X X X - X X - X X X 8
40 Muhammad X - - X X X - X X X 7

Tabel IV :
Data Hasil Ketepatan Jump Shoot Shooting

No Nama Siswa Hasil Test T-Scort Ket
Ketepatan Jump
Shoot Shooting
1 2 3 4 5
1 Ahmad Zaenurrahman 8 47
2 Bahriawan 6 38
3 Bambang Purwanto 6 38
4 Fatahul Aziz 5 36
5 Faturrahman 8 47
6 Hakiki 6 38
7 Hamdi Hamdillah 5 36
8 Herman 7 41
9 Husnul Jadid Fatwa 6 38
10 Lukman Hakim Lbjr 7 41
11 Achmad Subagia 8 47
12 Ahmad Jaelani 6 38
13 Ahmad Nuzul 5 36
14 Ahmad Sultonuddin 5 36
15 Ahmad Yani 8 47
16 Andri Satria 7 41
17 Junaidi Supriadi 5 36
18 M. Burhan Rozi 7 41
19 M. Gunadi 7 41
20 M. Taufik 8 47
21 Ahmad Baihaki 7 41
22 Ahmad Faozan 5 36
23 Hasbullah 4 33
24 Husnul Islam 6 38
25 Lalu Samsul Hadi 8 47
26 Munawir 6 38
27 Muhamad Ripa’i 6 38
28 Muhamad Aziz 5 36
29 Muhamad Faozan 8 47
30 Muhamad Hudairi 6 38
31 Ahmad Husaini 5 36
32 Alwan Syahroni 7 41
33 Azwar Hanandi 6 38
34 Dendi Aditya 7 41
35 Fatahul Rahman 8 47
36 M. Dinunal Islam 6 38
37 M. Isrodin 5 36
38 M. Ramdan 5 36
39 Muhajirin 8 47
40 Muhammad 7 41



a. Pengumpulan Data Kemampuan Tinggi Lompatan (vertical jump).
Data mengenai vertical jump diperoleh dengan cara melakukan pengukuran tinggi lompatan (vertical jump).
1. Tujuan : untuk mengetahui kemampuan melakukan vertical jump.
2. Prinsip : setiap anggota sampel melakukan vertical jump sebanyak 1 kali
3. Pelaksanaan : Tes melakukan posisi awal melakukan raihan telapak tangan, ujung telapak tangan menempel dengan baik pada dinding/tembok, pada saat aba-aba “mulai” testee mengangkat seluruh badan dengan tumpuan pada telapak tangan menyentuh dinding/tembok (raihan). Testee harus mengusahakan agar badan tetap dalam keadaan lurus selama melakukan tinggi lompatan (vertical jump).
4. Penilaian : Testee dapat melakukan gerakkan melompat setinggi-tingginya ke dinding/tembok melewati posisi raihan dan dilaksanakan 1 kali lompatan tertinggi.
5. Rumus penilaian : Vertical jump = tinggi lompatan – tinggi raihan telapak tangan
6. Petugas yang membantu pengambilan data :
a. Syaifullah, selaku peneliti Sekaligus sebagai koordinator dari petugas penelitian
b. Kasman, mahasiswa FPOK Yang membantu peneliti dalam pengambilan data pengukuran tinggi lompatan (vertical jump).
c. Idrahiyan, mahasiswa FPOK Yang membantu peneliti dalam pengambilan data pengukuran ketepatan jump shoot shooting.

b. Pengumpulan Data Ketepatan Jump Shoot Shooting Dalam Permainan Bola Basket.
1. Tujuan : untuk mengetahui tingkat ketepatan jump shoot shooting dalam permainan bola basket
2. Tes yang digunakan : Tes jump shoot Shooting atau tembakkan yang diawali atau didahului dengan lompatan.
3. Penilaian : Nilai 1 (satu) apabila bola berhasil masuk.
4. Prinsip : Semakin banyak nilai yang diperoleh semakin tinggi tingkat ketepatannya.
5. Pelaksanaan : Testee mempersiapkan diri di luar garis tembakkan bebas, setelah merasa siap, testee segera melakukan jump shoot shooting ke dalam ring (keranjang bola). Pelaksanaan jump shoot shooting atau tembakkan sambil melompat dilakukan dengan satu tangan atau dua tangan.
6. Keterangan : X = Tertera dalam tabel adalah bola yang masuk — = Bola yang tidak masuk

2. Pengujian Hipotesis
1) Merumuskan Hipotesis Nihil (Ho)
Seperti telah dikemukakan terdahulu bahwa Hipotesis yang di ajukan dalam penelitian ini adalah Hipotesis Alternatif (Ha) yang berbunyi: Diduga bahwa ada hubungan antara tinggi lompatan (vertical jump) dengan ketepatan jump shoot shooting pada siswa putra kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunugsari tahun pelajaran 2008/2009 yang diberi simbol (Ha).
Sebaliknya hipotesis tandingannya yang merupakan Hipotesis Nihil (Ho), diduga bahwa tidak ada hubungan antara tinggi lompatan (vertical jump) dengan ketepatan jump shoot shooting pada siswa putera kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunungsari tahun pelajaran 2008/2009.
2) Menyusun Tabel Kerja
Untuk memudahkan di dalam menganalisa data, maka perlu dibuat tabel kerja seperti tercantum di bawah ini:

Tabel V :
Data Kemampuan Melakukan Tinggi Lompatan (Vertical Jump) dan Ketepatan Jump Shoot Shooting

No X Y X2 Y2 XY
1 2 3 4 5 6
1 33 47 1089 2209 1551
2 26 38 676 1444 988
3 28 38 784 1444 1064
4 28 36 784 1296 1008
5 31 47 961 2209 1457
6 26 38 676 1444 988
7 28 36 784 1296 1008
8 26 41 676 1681 1066
9 28 38 784 1444 1064
10 28 41 784 1681 1148
11 31 47 961 2209 1457
12 31 38 961 1444 1178
13 22 36 484 1296 792
14 26 36 676 1296 936
15 28 47 784 2209 1316
16 33 41 1089 1681 1353
17 31 36 961 1296 1116
18 28 41 784 1681 1148
19 26 41 676 1681 1066
20 28 47 784 2209 1316
21 31 41 961 1681 1271
22 26 36 676 1296 936
23 26 33 676 1089 858
24 28 38 784 1444 1064
25 33 47 1089 2209 1551
26 26 38 676 1444 988
27 28 38 784 1444 1064
28 28 36 784 1296 1008
29 31 47 961 2209 1457
30 26 38 676 1444 988
31 28 36 784 1296 1008
32 26 41 676 1681 1066
33 28 38 784 1444 1064
34 28 41 784 1681 1148
35 31 47 961 2209 1457
36 31 38 961 1444 1178
37 22 36 484 1296 792
38 26 36 676 1296 936
39 28 47 784 2209 1316
40 33 41 1089 1681 1353
Jml 1130 1603 32208 64943 45523
Keterangan Tabel :
X = Nilai pengukuran tinggi lompatan (vertical jump)
Y = Nilai ketepatan jump shoot shooting
X² = Nilai pengukuran tinggi lompatan (vertical jump) dikuadratkan
Y² = Nilai ketepatan jump shoot shooting dikuadratkan
XY = Hasil perkalian nilai pengukuran tinggi lompatan (vertical jump) dengan nilai ketepatan jump shoot shooting.
3) Memasukkan Data Kedalam Rumus
Dari tabel V tersebut diperoleh data sebagai berikut :
N = 40
X = 1130
Y = 1603
X² = 32208
Y² = 64943
XY = 45523
Langkah selanjutnya adalah memasukan data kedalam rumus kolerasi “ Product Moment”.


4) Menguji Nilai rxy.
Dari hasil dengan menggunakan rumus rxy, diperoleh nilai rxy hitung besar 0,531, sedangkan besarnya r tabel dengan taraf signifikan 5% dengan N sebesar 40 menunjukkan angka 0,312 dengan demikian nilai rxy dalam tabel (0,531>0,312 ) yaitu penelitian ini adalah Signifikan.
5) Menarik Kesimpulan.
Berdasarkan uji rxy yang menujukkan nilai rxy hitung 0,531 > r tabel 0,312 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang di signifikan antara kemampuan tinggi lompatan (vertical jump) dan ketepatan jump shoot shooting dalam permainan bola basket pada siswa putra kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunugsari tahun pelajaran 2008/2009.

B. Pembahasan.
Setelah didapat nilai rxy dengan taraf signifikan 5% maka r hitung menunjukkan angka 0,531 sedangkan r tabel dengan N sebesar 40 menujukkan angka 0,312 tenyata r hitung lebih besar dari r tabel, berarti hasil penelitian antara kemampuan melakukan tinggi lompatan (vertical jump) dengan ketepatan jump shoot shooting cukup layak bahwa ada hubungan yang signifikan antara kemampuan melakukan tinggi lompatan (vertical jump) dengan ketepatan jump shoot shooting siswa, dan perlu diadakan suatu latihan-latihan. Dengan demikian berarti ada kecendrungan semakin kuat tinggi lompatan (vertical jump) seseorang maka ketepatan jump shoot shooting akan semakin baik, khususnya dalam permainan bola basket.
Dengan demikian pengertian arti dari korelasi menurut para ahli di sini adalah hubungan antara dua variabel secara timbal balik yaitu antara kemampuan melakukan tinggi lompatan (vertical jump) dengan ketepatan jump shoot shooting, tim atau pemain yang memiliki kekuatan yang baik penting sekali agar memiliki daya tahan pada saat memulaikan permainan bola basket akan menjadi yang indah dan akan membuka kesempatan mengolah bola sehingga terbuka kesempatan di dalam melakukan tembakkan (shooting).
Kekuatan tinggi lompatan (vertical jump) salah satu taktik yang cukup akurat dalam menciptakan peluang yang cukup baik agar memiliki ketepatan pada saat melakukan jump shoot shooting pada permainan bola basket. Dimana tinggi lompatan (vertical jump) itu sendiri merupakan salah satu cara untuk memperoleh ketepatan dalam melakukan jump shoot shooting.
Tinggi lompatan (vertical jump) sebagai salah satu teknik dalam menigkatkan kekuatan kaki dan otot paha agar dalam melakukan antisipasi, tipuan, ketepatan, kekuatan, serta kelincahan di dalam melakukan jump shoot shooting. Berkaitan dengan ini menurut para ahli menyatakan bahwa, “Kegunaan secara khusus melakukan tinggi lompatan (vertical jump) untuk melatih otot kaki dan otot paha agar memiliki kekuatan pada saat melakukan tembakkan (shooting)”, dalam permainan bola basket (Wesel, 2000 : 47).
Dari uraian dan pendapat para ahli tersebut di atas dapat dikatakan sesuai dengan yang diteliti, karena terbukti dalam penelitian ini. Dan jelas bahwa tinggi lompatan (vertical jump) sangat besar hubungannya dalam meningkatkan antisipasi, tipuan, kekuatan, kelincahan, serta ketepatan dalam melakukan jump shoot shooting.
Dengan demikian seorang siswa yang memiliki kemampuan tinggi lompatan (vertical jump) kuat, maka ketepatan jump shoot shooting atau tembakannya lebih baik, bila dibandingkan dengan siswa yang kemampuan tinggi lompatan (vertical jump) nya rendah (kurang).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab V ini akan dijelaskan beberapa pokok bahasan yaitu mengenai; A. Kesimpulan, dan B. Saran.

A. Kesimpulan.
Berdasarkan dari hasil uraian, maka didapatkan hasil penelitian dalam upaya untuk mencari jawaban hipotesis yang mengatakan: “Ada Hubungan Tinggi Lompatan Dengan Ketepatan Jump Shoot Shooting Dalam Permainan Bola Basket Pada Siswa Putera Kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunugsari Tahun Pelajaran 2008/2009”.
Hal ini menunjukkan dari hasil analisa data menggunakan rumus Product Moment dengan hasil rxy hitung besar 0,531 dan r tabel dengan N sebesar 40 menujukkan angka 0,312.
B. Saran.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka ada beberapa saran yang perlu ditindak lanjuti yaitu:
1. Saran kepada siswa.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan melakukan tinggi lompatan (vertical jump) ada hubungannya dengan ketepatan jump shoot shooting, oleh karena itu disarankan kepada siswa yang menekuni olahraga bola basket agar kekuatan otot-otot di sekitar kaki dan paha diperahatikan dengan baik agar tembakkan atau shooting lebih tepat, dengan cara latihan yang maksimal dan didukung oleh gizi yang seimbang.
2. Kepada pembina olahraga di sekolah.
Khusus pembina olahraga bola basket, agar dapat menyertakan atau menyelipkan latihan untuk memperkuat otot-otot disekitar kaki dan paha yaitu melakukan tinggi lompatan (vertical jump) diantara program-program latihan.
3. Kepala Sekolah
Agar memberikan jadwal latihan yang lebih kepada siswa untuk mendapatkan prestasi lebih baik dalam cabang olahraga. Kepala sekolah juga harus memperhatikan peralatan yang digunakan apakan layak pakai atau tidak untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan kepada siswa
4. Kepada Orang Tua
Hendaknya orang tua mengetahui dan membantu dalam mengembangkan bakat yang dimiliki oleh putra-putrinya serta mendorong dan memberikan kesempatan kepada putra-putrinya untuk berlatih sesuai jadwal serta bantuan peralatan yang diperlukan.
DAFTAR TABEL

1. Gambar 01. Rancangan Penelitian 19-31
2. Tabel I. Daftar Nama-nama Anggota Sampel 32-33
3. Tabel II. Hasil Test Kemampuan Melakukan Tinggi
Lompatan (Vertical Jmup) 34-35
4. Tabel III. Hasil Test Kemampuan Jump Shoot Shooting 35-36
5. Tabel IV. Data Hasil Test Kemampuan Melakukan
Jump Shoot Shooting 36-37
6. Tabel V. Tabel Kerja Data Kemampuan Melakukan Tinggi
Lompatan (Vertical Jump) dan Ketepatan Jump Shoot Shooting 40-42
7. Tabel VI. Jadwal Kegiatan Penelitian Hubungan Tinggi Lompatan Terhadap Kemampuan Memasukan Bola Dengan Cara Jump Shoot Dalam Permainan Bola Basket Pada Siswa Putra Kelas XI MA Adiinul Qayyim Kapek Gunung Sari Tahun Pelajaran 2008/2009 79

DAFTAR LAMPIRAN

1. Jadwal Kegiatan Penelitian Hubungan Tinggi Lompatan (vertical jump) dan Ketepatan Jump Shoot Shooting Dalam Permainan Bola Basket Pada Siswa Putera Kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunungsari Tahun Pelajaran 2008/2009.
2. Surat Ijin Penelitian dari Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram.
3. Surat Ijin Penelitian dari BAPPEDA Pemerintah Kab, Lombok Barat.
4. Surat Ijin Penelitian Dari Departemen Agama Pemerintah Kab, Lombok Barat
5. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian dari MA Addiinul Qayyim Kapek Gunugsari.
6. Kartu Konsultasi Skripsi dari Fakultas Olahraga dan Kesehatan IKIP Mataram.
7. Surat Penunjukkan Dosen Pembimbing Skripsi dari Fakultas Olahraga dan Kesehatan IKIP Mataram.
8. Kartu Mahasiswa.
9. Riwayat Hidup
10. Nilai-nilai Product Moment.
11. Nilai-nilai T-Scort.









DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL i
HALAMAN LOGO ii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN iii
HALAMAN PERSETUJUAN iv
HALAMAN PENGESAHAN v
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR LAMPIRAN vii
DAFTAR ISI viii
ABSTRAK x
KATA PENGANTAR xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penelitian 2
D. Hipotesis Penelitian 3
E. Kegunaan Penelitian (Signifikasi) 3
F. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian 4
G. Ruang Lingkup Penelitian 5
H. Definisi Operasional Variabel 6
1. Lompatan 6
2. Jump Shoot 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Sejarah Permainan Bola Basket 8
B. Faktor Internal dan Eksternal pada Permainan Bola Basket 10
C. Lompatan 15
D. Jump Shoot 16
E. Kerangka Berpikir 16
BAB III METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian 18
B. Rancangan Penelitian 18
C. Populasi dan Sampel 20
D. Instrumen Penelitian 23
E. Metode Pengumpulan Data 24
F. Analisa Data 28
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 32
1. Deskripsi Data 32
2. Pengujian Hipotesis 40
B. Pembahasan 44
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan 46
B. Saran 46
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
ABSTRAK
SYAIFULLAH, “Hubungan Tinggi Lompatan Terhadap Kemampuan Memasukkan Bola Dengan Cara Jump Shoot Dalam Permainan Bola Basket Pada Siswa Putera Kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunungsari Tahun Pelajaran 2008/2009”.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan tinggi lompatan terhadap kemampuan memasukkan bola dengan cara jump shoot dalam permainan bola basket pada siswa putera kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunungsari tahun pelajaran 2008/2009.
Ada dua kegunaan dalam penelitian ini adalah; (1). Kegunaan Teoritis yaitu untuk dapat mengembangkan konsep baru serta dapat memperkaya wawasan ilmu pengetahuan dibidang olahraga, khususnya di dalam permainan bola basket. (2). Kegunaan Praktis sebagai tambahan informasi kepada para guru, pelatih dan pembina olahraga dalam rangka mengembangkan pendidikan olahraga khususnya untuk meningkatkan prestasi memasukkan bola dengan cara jump shoot shooting.
Instrument yang disamakan dalam penelitian ini adalah; (1). Untuk mengetahui tinggi lompatan adalah dengan tes vertical jump dengan menggunakan metode. (2). Untuk mengetahui prestasi memasukkan bola dengan cara jump shoot shooting adalah dengan bola basket. Penelitian ini berlangsung di Lapangan Bola Basket MA Addiinul Qayyim Kapek Gunungsari Tahun Pelajaran 2008 / 2009.
Metode yang disamakan untuk memperoleh data dengan penelitian ini yaitu metode dokumentasi dengan metode tes perbuatan, sedangkan analisa data menggunakan statistik dengan rumus product moment.
Setelah data didapat dan dimasukkan dalam rumus, maka diperoleh ada hubungan yang signifikan antara kemampuan tinggi lompatan terhadap kemampuan memasukkan bola dengan cara jump shoot dalam permainan bola basket pada siswa putera kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunungsari tahun pelajaran 2008/2009.
Dari hasil menunjukkan , hasil analisa data menggunakan rumus product moment rxy hitung sebesar 0,531 dan r tabel dengan N sebesar 40 menunjukkan angka 0,312.


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan ke-hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan SKRIPSI ini telah dapat diselesaikan.
Selesainya penyusunan SKRIPSI ini berkat bantuan dari berbagai pihak karena itu, pada kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
1. Bapak Drs. H. Said Ruhpina SH. MS Selaku Rektor IKIP Mataram
2. Bapak Drs. H Soenarto selaku Dekan FPOK IKIP Mataram
3. Bapak Drs. H.Nasaruddin, M.Kes selaku pembimbing I
4. Bapak Purwadi, S.Pd selaku pembimbing II
5. Semua pihak yang telah membantu penulisan SKRIPSI ini
Serta kerabat-kerabat dekat dan rekan-rekan seperjuangan yang penulis banggakan. Semoga Allah SWT memberikan balasan dan limpahan keridhaan-Nya. Penulis menyadari SKRIPSI ini masih jauh dari apa yang diharapkan, oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya konstruktif masih diharapkan.
Akhirnya Penulis berharap semoga SKRIPSI ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkompeten. Amin.

Mataram, Desember 2008

Penulis.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, 1995 Metodelogi Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Bina Aksara. Jakarta.

Kosasih, Engkos. 1990. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Gramedia. Jakarta.

Mardalis. 1999. Metodelogi Research. Aneka Cipta. Jakarta.
Margono S. 1997. Metodelogi Penelitian. Aneka Cipta. Jakarta.
Netra IB. 1990. Statistik Inferensial. Usaha Nasional. Surabaya.
Nurul Zuriah, 2006. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta

Perbasi. 1994. Peraturan Permainan Bola Basket Edisi Baru.
Suharno HP. 1995. Olahraga Teknik dan Program Pelatihan. Akademika Pessindo. Jakarta.

Syarifuddin Aip. 1990. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. PT Gramedia. Jakarta.

Wigoyo Gisis B. 1989. Pengetahuan Kesegaran Jasmani dan Alat Tes Pengukuran. Ganeca Exact. Bandung.

Yahya Yasmaya. 1984. Olahraga Lari Berprestasi. Pradya Paramita. Jakarta.
Yousda Ine Amirman. 1993. Statistik Pendidikan. Bina Aksara. Jakarta.
Yusuf, Akhyar, DKK, 2003, Pedoman Penulisan Skripsi, IKIP Mataram

SKRIPSI OLAHRAGA 1 ( BAB 1 dan 2 )

BAB I
PENDAHULUAN

Pada bab ini, akan dibahas hal-hal mengenai; (A) Latar Belakang Masalah, (B) Rumusan Masalah, (C) Tujuan Penelitian, (D) Hipotesis, (E) Kegunaan Penelitian (Signifikasi), (F) Asumsi dan Keterbatasan Penelitian, (G) Ruang Lingkup Penelitian, (H) Definisi Operasional Variabel.

A. Latar Belakang Masalah
Permainan bola basket adalah permainan yang dimainkan oleh satu regu putera atau puteri yang masing-masing regu terdiri dari 5 (lima) orang pemain. Dimana populasi permainan ini sangat bagus, baik itu didalam maupun diluar negeri. Sehingga cabang olahraga tersebut disetiap event-event resmi baik ditingkat nasional selalu dipertandingkan. Seiring dengan perkembangan yang begitu pesat didaerah kita yaitu Nusa Tenggara Barat (NTB), namun belum bisa diikuti oleh prestasi yang bagus ditingkat nasional. Hal ini disebabkan oleh faktor penguasaan teknik kemampuan fisik, dan yang paling mencolok adalah postur tubuh. Postur tubuh atlit kita dibawah rata-rata tinggi badan para atlit daerah lain. Kekurangan ini akan dapat ditutupi jika para atlit kita memiliki kemampuan melompat yang baik.
Dalam permainan bola basket sudah tentu kita melakukan gerakan melompat, baik saat melakukan rebound (merayah bola). Shooting yang sangat memerlukan kemampuan lompatan yang bagus adalah jump shoot. Jump shoot akan dapat dilakukan dengan baik jika ditunjang oleh latihan dan kemampuan melompat yang baik, sehingga seolah-olah keranjang (ring) tingginya sangat sejajar dengan kita.
Dengan latar belakang di atas penulis tertarik, untuk mengadakan penelitian dengan judul “Hubungan Tinggi Lompatan Terhadap Kemampuan Memasukkan Bola Dengan Cara Jump Shoot Dalam Permainan Bola Basket Pada Siswa Putera Kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunung Sari Tahun Pelajaran 2008/2009”.

B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut “Apakah Ada Hubungan Tinggi Lompatan Terhadap Kemampuan Memasukkan Bola Dengan Cara Jump Shoot Dalam Permainan Bola Basket Pada Siswa Putera Kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunung Sari Tahun Pelajaran 2008/2009”.

C. Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan sudah tentu mempunyai tujuan. Penelitian sebagai kegiatan tentu dengan tujuan akan dapat menjadi pedoman dalam kelangsungan kegiatan penelitian. Karena dalam setiap kegiatan penelitian haruslah dikemukakan tujuan perumusan yang jelas.
Adapun tujuan penelitian adalah ingin mengetahui ada atau tidaknya hubungan tinggi lompatan terhadap kemampuan memasukkan bola dengan cara jump shoot dalam permainan bola basket pada siswa putera kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunung Sari Tahun Pelajaran 2008/2009.

D. Hipotesis Penelitian
Suatu pernyataan yang belum sepenuhnya benar atau dugaan yang mungkin terbukti benar, mungkin juga tidak (Sutrisno Hadi 1976. Hal. 349). Sedangkan (Suharsini Arikunto 1992. Hal. 62), berpendapat bahwa hipotesa merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
Dari kedua pendapat tersebut di atas, maka dapat disampaikan bahwa hipotesa adalah kesimpulan yang masih bersifat sementara. Dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesa sebagai berikut: Ada Hubungan Tinggi Lompatan Terhadap Kemampuan Memasukkan Bola Dengan Cara Jump Shoot Dalam Permainan Bola Basket Pada Siswa Kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunung Sari Tahun Pelajaran 2008/2009.

E. Kegunaan Penelitian (Signifikasi)
Kegunaan atau signifikasi adalah sebagai berikut:
1. Signifikasi Teoritis
Signifikasi teoritis adalah kegunaan bagi keilmuan (Indun. 1986. Hal. 11). Bertolak dari pengertian tersebut, diharapkan informasi yang digali dapat memperkaya wawasan ilmu pengetahuan, khususnya olahraga dan hasil penelitian ini juga dapat kiranya berguna bagi para ilmuan pendidikan terutama pada cabang olahraga bola basket.
2. Signifikasi Praktis.
Signifikasi praktis adalah kegunaan bagi pelaksana (Indun. 1986. Hal. 11), dan pengertian tersebut berarti setelah diperolehnya hasil penelitian ini hendaknya dapat berguna bagi pelatih atau pemain olahraga dalam rangka mengembangkan serta meningkatkan prestasi olahraga, khususnya bola basket.

F. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian
1) Asumsi
Asumsi atau anggapan dasar adalah titik tolak logika berpikir dalam penelitian ruang kebenarannya diterima oleh peneliti (M. Subana. 2001. Hal. 73).
a. Asumsi Teoritis
Asumsi teoritis disebut postulat yaitu anggapan yang sudah pasti benar (Indun. 1986. Hal. 21).
1.1. Keadaan atau kondisi fisik yang sehat merupakan salah satu faktor yang menunjang keberhasilan dalam melakukan suatu kegiatan atau aktifitas.
1.2. Bahwa prestasi olahraga dan perkembangan intelektual anak tergantung pada kemampuan minat dan bakat.
1.3. Prestasi bola basket memerlukan kemampuan otak, teknik dasar, kecepatan, kelincahan, daya tahan dan daya reaksi tubuh.
b. Asumsi Metodik
Penelitian ini dapat terlaksana karena didukung oleh metode penentuan subyek penelitian dengan menggunakan studi populasi, metode pengumpulan data, metode test perbuatan sebagai metode pokok, metode dokumenter sebagai metode pelengkap, sedangkan analisis data menggunakan anlisa statistik product moment.
c. Asumsi Pelaksana
Penelitian ini dapat di laksanakan karena :
1. Datanya jelas
2. Sumber datanya ada
2) Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini terbatas pada apakah ada hubungan tinggi lompatan terhadap kemampuan memasukkan bola dengan cara jump shoot dalam permainan bola basket pada siswa putera kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunung Sari tahun pelajaran 2008/2009.
G. Ruang Lingkup Penelitian
Pada ruang lingkup ini diuraikan hal-hal mengenai; (a) Variabel,
(b) Populasi, (c) Loksi Penelitian.
a. Variabel Penelitian
1. Variabel terikat : Memasukan bola dengan cara jump shoot
2. Variabel bebas : Tinggi lompatan (vertical jump)
b. Populasi Penelitian
Populasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MA Addiinul Qayyim Kapek Gunung Sari Tahun Pelajaran 2008/2009.
c. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dihalaman sekolah MA Addiinul Qayyim Kapek Gunung Sari.

H. Definisi Operasional Variabel
Untuk tidak terjadinya salah pengertian mengenai istilah-istilah pada variabel yang terkandung dalam judul, maka penulis mengganggap perlu untuk menjelaskan istilah-istilah yang berhubungan dengan penelitian. Adapun istilah-istilah tersebut :
1. Lompatan
Lompatan adalah suatu hasil dan gerakan tubuh keatas sehingga mencapai titik tertentu (TIM. 1988. Hal. 531). Lompatan adalah hal yang sangat penting dalam permainan bola basket. Dalam penelitian ini akan dicari hasil lompatan dan testee dengan teknik vertical jump. Dimana penskornya adalah dengan mengurangi hasil lompatan dengan tinggi. Dengan catatan testee tidak menggunakan alas kaki.
2. Jump Shoot
Jump Shoot adalah suatu tembakan yang dilakukan dengan jarak baik dilakukan dengan jarak dekat maupun jarak jauh dengan posisi keranjang (ring), sehingga seolah-olah keranjang (ring) tingginya sangat sejajar dengan kita. Jump shoot / tembakan sambil melompat sangat membutuhkan kemampuan lompatan yang bagus serta pelakunya. Adapun cara penilaian jump shoot ini adalah dengan memberikan kesempatan pada testee melakukan jump shoot sebanyak 5 kali.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini, akan dibahas hal - hal mengenai; A. Sejarah permainan bola basket, B. Faktor Internal dan Eksternal pada Permainan Bola Basket,
C. Lompatan, D. Jump Shoot, dan E. Kerangka Berpikir

A. Sejarah Permainan Bola Basket
Olahraga permainan berkelompok bola basket diciptakan oleh Dr. James Naismith lahir 06 nopember 1861 – meninggal 28 nopember 1939, salah seorang guru pendidikan jasmani Young Mens Christian Association (YMCA) di kota Springfield, Massachussets Amerika Serikat pada tahun 1891. Gagasan yang mendorong terwujudnya cabang olahraga baru ini adalah adanya kenyataan bahwa waktu itu keanggotaan dan pengunjung sekolah tersebut kian hari kian merosot. Penyebab utama dari masalah ini adalah rasa bosan dari para anggota dalam mengikuti latihan olahraga senam yang gerakannya kaku, disamping itu kebutuhan yang dirasakan dimusim dingin untuk melakukan olahraga yang menarik semakin mendesak.
Dr. lethar Lesey Gullick Pengawas Kepala Bagian Olahraga pada sekolah tersebut, menyadari adanya gejala yang kurang baik itu beliau segera menghubungi Dr. James Naismith serta memberikan tugas kepadanya untuk menyusun suatu kegiatan olahraga baru, yang dapat dimainkan di ruangan tertutup terutama pada musim dingin.
Pada mulanya permainan bola basket dimainkan oleh dua regu. Masing-masing regu terdiri dari 9 orang pemain yang membawa bola tidak dibawa lari dan pihak lawan berusaha merebut bola tersebut. Permainan pada waktu itu sangat digemari warga masyarakat Amerika Serikat sehingga jumlah pemain diubah menjadi 7 orang selanjutnya diubah lagi menjadi 5 orang tiap regu.
Tanggal 21 juni 1932 diadakan konferensi bola basket yang pertama kali di Jenewa, Swiss. Pada konferensi ini terbentuklah Federasi Bola Basket Internasional yang bernama VIBA.
Permainan bola basket masuk ke Indonesia sekitar tahun 1929 yang dibawa oleh perantau dari Cina. Pemainan bola basket pertama kali dimainkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON I) di Surakarta. Pada tanggal 23 Oktober 1951 berdirilah Persatuan Basket Ball Seluruh Indonesia atau PERBASI.
Pada tahun 1955 kepanjangan Perbasi dirubah menjadi Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia dan pada tahun 1955 PERBASI diterima sebagai anggota FIBA (PB Perbasi, thn 1985 hal.8-12).
Permainan bola basket sekarang semakin berkembang dan digemari oleh para pelajar dan mahasiswa bahkan diajarkan pada sekolah-sekolah.


B. Faktor Internal dan Eksternal Pada Permainan Bola Basket.
Di dalam permainannya banyak sekali faktor-faktor yang perlu di perhatikan terutama berhubungan dengan keberhasilan seseorang dalam permainan bola basket, faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang datangnya dari atlet atau pemain itu sendiri, antara lain:
a. Keadaan Fisik Pemain
b. Bentuk dan Postur Tubuh
c. Tingkat Kesegaran Jasmani
d. Kekuatan Otot
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang datangnya dari luar atlet, yaitu:
a. Sarana dan Prasarana
b. Pelatih, Pembina, Guru dan
c. Lingkungan.
Kedua faktor tersebut saling berhubungan dan berkaitan tidak dapat dipisah-pisahkan karena keduanya memiliki peranan untuk menunjang pencapaian prestasi dalam permainan bola basket khususnya prestasi shooting.
Secara umum permainan bola basket mempunyai unsur-unsur yang harus dikuasai selain teknik shooting, yang harus dikuasai dan diperhatikan dalam permainan bola basket yaitu:
1. Melempar dan menangkap bola (Passing)
2. Menggiring bola (Drible)
3. Memasukkan bola ke dalam keranjang (Shooting)
4. Memoros/ berputar (Pivot)
5. Olah kaki (Foot Work)

1. Cara Melempar dan Menangkap Bola (Passing)
1.1. Cara Melempar Bola
Melempar adalah bola diberikan pada teman atau siapa saja. Lemparan bola ada berbagai macam yaitu:
1.1.1. Lemparan Datar Setinggi Dada
Sikap pada saat melakukan lemparan, kedua kaki dalam kuda-kuda sejajar, badan tegak agak condong sedikit kedepan, berat badan bertumpu pada kedua kaki, dan lutut sedikit ditekuk pelepasan harus disertai lecutan pergelangan tangan dan berat badan dipindahkan kedepan agar lemparan kuat, maka pada saat bola lepas dari telapak tangan kaki kanan melangkah kedepan.


1.1.2. Lemparan dengan Pantulan
Sikap kaki dan lainnya serupa seperti pada teknik lemparan datar setinggi dada diatas, bola diarahkan kebawah atau lantai dengan dorongan telapak tangan sedikit kedepan, yaitu tiga per empat teman mendapat bola.
1.1.3. Lemparan Atas (Diatas Kepala).
Sikap pada lemparan atas adalah berdiri tegak dengan kedua kaki dibuka, bola ada di atas kepalanya dipegang dengan dua atau satu tangan. Dorong bola tersebut kedepan seolah-olah membuat sudut empat puluh lima (45) derajat.
1.1.4. Lemparan dari Samping Kepala.
Sikap badan pada lemparan atas adalah berdiri tegak, kedua kaki lututnya agak ditekuk dan sedikit terbuka siap untuk melangkah, pegang bola dengan dua atau satu tangan, siku ditekuk rapat dengan badan, sebelum bola dilemparkan maka bola dibawa kesamping badan sambil memutar badan hingga bahu menghadap arah lemparan diikuti oleh langkah kaki yang belakang.
1.2. Cara Menangkap Bola.
Dalam tatacara menangkap bola yang perlu diperhatikan adalah:
1.2.1. Sikap menangkap bola, kedua kaki mengangkang dan lutut agak ditekuk
1.2.2. Pandangan melihat arah datangnya bola
1.2.3. Bola diusahakan disokongkan dengan menggunakan
Kedua telapak tangan segera ditarik mengikuti arahnnya
Bola, dengan kaki yang didepan melangkah kebelakang.
1.2.4. Menangkap bola dapat dilakukan dengan diam
ditempat maupun dengan lari.
2. Cara Menggiring Bola (Drible)
Agar dapat melakukan drible dengan benar, hal-hal yang harus diperhatikan:
2.1. Bola dipegang kedua tangan dengan rilaks. Setelah bola dipantulkan dan memantul ke atas, kita dapat mendorong kembali dengan menggunakan telapak tangan kanan ataupun tangan kiri.
2.2. Badan dalam posisi tegak sedikit condong kedepan sehingga berat badan tertumpu pada kedua belah kaki. Pandangan selalu kedepan, kendalikan dengan menggunakan jari-jari dan pergelangan tangan.
2.3. Memantulkan bola ada dua macam menurut kebutuhan yaitu :
2.3.1. Pantulan tinggi digunakan untuk kepentingan menyerang tetapi jangan sampai melebihi pinggang.
2.3.2. Pantulan rendah digunakan dalam keadaan pelan sehingga dapat
2.3.3. Untuk mengatur serangan ataupun waktu.

3. Tembakkan (Shooting)
Shooting adalah memasukkan bola atau menembak bola kedalam keranjang (Eme Musnan, 1985 hal 34), shooting berasal dari kata “shoot” yang berarti menembak, mengajukan, melempar, mengurangi, melepaskan, membuang (Ecol dan Sadili, Kamus Inggris Indonesia, Gramedia Jakarta, Thn. 1989, hal. 521), shooting yang penulis maksudkan disini adalah memasukan bola atau menembakan bola kedalam keranjang.
Oleh karena yang dibicarakan dalam skripsi ini yaitu mengenai menembak (Shooting), maka menembak bola kedalam keranjang ada 2 (dua) cara yang umum digunakan yaitu:
1. Tembakan dengan satu tangan
2. Tembakan dengan dua tangan
(Imam Suyadi, MA, 1979, hal.87)
1. Tembakan dengan Satu Tangan
Menembak dengan satu tangan harus diutamakan, karena kecepatan menembak lebih terjamin dan koordinasi lebih mudah dikuasai bila dibandingkan dengam penembakan dengan menggunakan kedua tangan.
2. Menembak dengan Kedua Tangan
Shooting kedua tangan atas kepala yaitu: berusaha memasukkan bola kedalam keranjang lawan sebanyak-banyaknya secara tepat dengan posisi bola di atas kepala hingga lemparan dilambungkan (tembakan bebas).


4. Cara Memoros/ Berputar (Pivot)
Yang dimaksuad dengan pivot adalah memutarkan badan kesegala arah dengan salah satu kaki menjadi as/poros, pada saat pemain menguasai bola, sedangkan kaki yang dipindahkan dapat lewat depan atau belakang. Pivot berguna melindungi bola dari perebutan lawan untuk kemudian bola itu dioperkan kepada temannya atau mengadakan tembakan (shooting).
5. Olah Kaki atau Gerakan Kaki (Foot Work)
Yang dimaksud dengan olah kaki atau gerakan kaki adalah keterampilan penguasaan gerak kaki di dalam hal:
a. Dapat melakukan gerakan star dengan cepat dan berhenti dengan cepat pula tanpa kehilangan keseimbangan.
b. Dapat melakukan gerakan merubah arah gerak, baik dalam pertahanan maupun dalam penyerangan.
C. Lompatan
Lompatan adalah suatu hasil dan gerakkan tubuh keatas sehingga mencapai titik tertentu. (TIM Tahun 1988. Hal. 531). Dalam permainan bola basket sudah tentu kita akan melakukan lompatan, baik disaat rebound (merayah bola), memblok (menghalau bola) dan saat melakukan shooting (memasukkan bola).
Untuk menunjang dalam permainan bola basket selain penguasaan peknik dan taktik juga diperlukan kekuatan pada otot, penguatan otot-otot tersebut meliputi:
1. Penguatan otot bahu
2. penguatan pada otot lengan
3. penguatan pada pergelangan tangan
4. Penguatan pada otot punggung bagian bawah
5. Penguatan pada otot perut, paha dan betis
(Yanto Kusyanto. Hal. 228).
Pada poin 5 (lima) disebutkan penguatan otot perut, paha dan betis. Kita ketahui bahwa ketiga bagian otot-otot tersebut merupakan otot-otot yang berhubungan sewaktu melakakukan lompatan.
Sillis dan Oconnor yang menciptakan suatu program latihan khusus untuk pemain basket yang bertujuan melatih kekuatan, daya tahan serta kekuatan otot-otot yang diantaranya untuk melatih serta meningkatkan kamampuan melompat bagi para pemain bola basket.

D. Jump Shoot Shooting.
Jump shoot adalah suatu tembakan yang dilakukan dengan jarak, baik dilakukan dengan jarak dekat maupun jarak jauh dengan posisi keranjang (ring), sehingga seolah-olah keranjang (ring) tingginya sangat sejajar dengan kita. Jump shoot / tembakan sambil melompat sangat membutuhkan kemampuan lompatan yang bagus serta pelakunya (Imam Suyadi, MA, 1979, hal. 87).
Cara pelaksanaannya;
Pelaksanaan pegangan dan pelepasan bola pada jump shoot sama dengan pelaksanaan tembakan tanpa lompat pada umumnya, bedanya dalam jump shoot didahului dengan lompatan tegak lurus ke atas, dan bola dilepaskan pada saat penembak sampai pada titik tingginya, atau saat dia berhenti di atas, pada waktu di atas, kaki lemas bergantung.

E. Kerangka Berpikir
Berdasarkan teori permainan bola basket, ternyata tinggi lompatan pemain merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan pemain dalam mencapai prestasi jump shoot shooting, hal ini disebabkan letak dari keranjang basket berada diatas posisi yang lebih tinggi dari pemain, dengan ketinggian yang telah ditentukan serta sulit untuk dihalangi lawan dalam bermain bola basket, namun sejauh mana hubungan tinggi badan para pemain dengan prestasi shooting dalam permainan bola basket masihlah perlu kiranya dilakukan penelitian.

Kamis, 28 Juni 2012

PTK Skripsi Bahasa Indonesia BAB IV dan V

BAB IV
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
4. 1 Pembelajaran menggunakan Media Gambar
4. 1. 1 Proses Pembelajaran
a. Proses
Pada penggunaan media gambar langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut :
1). Memasang gambar di papan tulis
2). Siswa mengamati gambar yang terpampang di papan tulis
3). Siswa berlatih menulis wacana dengan memperhatikan wacana yang hidup
4). Guru mengawasi dan membimbing siswa dalam penulisan wacana
5). Guru meminta tiga orang siswa untuk membacakan hasil karyanya secara
bergantian.
6). Siswa dan guru mendiskusikan hasil karya siswa terutama dari contoh yang
Dibacakan siswa
b. Pelaksanaan Pembelajaran
Pada akhir pembelajaran, guru memberikan ulangan tentang materi pembelajaran dan memberikan penguatan dengan menyimpulkan materi pembelajaran pada siswa untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan secara tertulis. Pelaksanaan Post test pada penggunaan media gambar, siswa disediakn yang berbeda dengan gambar untuk menulis wacana dari benda yang menyerupai dengan benda pada kegiatan ini yakni berupa pohon yang dikerdilkan (bonsai).
c. Evaluasi
Pengajaran menulis wacana dapat diketahui hasilnya melalui kegiatan evaluasi.
Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi harus dilakukan dua
kali, yakni evaluasi pada awal pembelajaran dan evaluasi pada pembelajaran
dilaksanakan serta pada akhir pembelajaran.
4. 2. 1 Hasil evaluasi Pembelajaran Menulis wacana menggunakan media gambar.
Data yang dibahas adalah data yang diperoleh dari populasi sebanyak 30 orang tentang

kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar pada siswa kelas XI SMAN 1 Sape Kabupaten Bima Tahun Pelajaran 2007- 2008. Metode dalam penelitian ini deskriptif komunikatif. Untuk lebih jelasnya, penulis menyajikan hasil dan pembahasan pada table di bawah ini :
Tabel 01. Hasil Test kemampuan menulis wacana siswa kelas XI SMA Negeri 1 Sape Kabupaten Bima dengan melalui Media gambar.

1. Kata Sifat = 20
2. Kata Umum dan kata khusus = 20
3. Kata Baku dan tidak Baku = 20
4. Perubahan
Makna kata = 20
5. Makna Denotasi dan Konotasi = 20
Sumber Data : Hasil pemeriksaan tes

a. Analisis Data
1. Kemampuan berdasarkan individu
Berdasarkan table di 01 di atas dapat diketahui bahwa kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar pada siswa kelas XI SMAN 1 Sape Kabupaten Bima sebagai berikut :
a. kemampuan tinggi = 26 orang
b. kemampuan sedang = 4 orang
c. kemampuan rendah = 0 orang
Adapun prosentase kemampuan menulis menggunakan media gambar siswa kelas XI SMAN 1 Sape kabupaten Bima dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
P = x 100%
Berdasarkan rumus di atas bahwa prosentase masing-masing kategori adalah sebagai berikut :
a. Kemampuan tinggi = x 100% = 86, 67 %

b. Kemampuan sedang = x 100% = 13, 33 %
Berdasarkan perhitungan rumus di atas dapat dijelaskan bahwa prosentase kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar siswa kelas XI SMAN 1


Sape Kabupaten Bima dikategorikan baik karena dari data tersebut menunjukkan bahwa siswa yang berkemampuan tinggi dalam menulis wacana dengan menggunakan media gambar adalah sebesar 86,67 %
2. Kemampuan Kelompok
a. Mencari Nilai Rata-rata ( Mean ) :
M =
N = Jumlah Sampel
M = Nilai Rata-rata
Diketahui
N = 30
M1 = = 74, 3
Jadi Nilai Rata-rata M = 74, 3
b. Mencari Indeks Prestasi Kelompok
Dalam analisis statistic, penguasaan yang didapatkan oleh individu biasanya dinyatakan dengan nilai rata-rata ( mean ). Langkah tersebut sebenarnya belum merupakan langkah yang memadai, sebab dengan nilai rata-rata saja, dengan tanpa mengetahui batas skor maksimal yang mungkin bisa dicapai dalam kemampuan menulis wacana tersebut, sehingga belum mempunyai gambaran yang jelas , maka digunakan ukuran IPK sebagai berikut :
IPK = x 100 %

= x 100 %

= 74, 3 %
Berdasarkan analisis data di atas maka dapat diketahui bahwa indeks prestasi kelompok ( IPK ) diperoleh subjek penelitian adalah 74, 3 %. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis wacana pada siswa kelas XI SMAN 1 sape kabupaten Bima memiliki kemampuan normal.
Dengan demikian apabila hasil tersebut merujuk pada criteria penilaian yang telah ditentukan maka nilai tersebut dinyatakan dengan criteria normal karena angka tersebut terletak antara 55 – 74.
Rincian kriteria penilaian adalah sebagai berikut :
- Apabila siswa memperoleh nilai 0 – 30 : sangat rendah
- Apabila siswa memperoleh nilai 31 – 54 : rendah
- Apabila siswa memperoleh nilai 55 – 74 : Normal
- Apabila siswa memperoleh nilai 75 – 89 : Tinggi
- Apabila siswa memperoleh nilai 90 – 100 : sangat tinggi
Berdasarkan analisis data prosentase kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar yang berkemampuan tinggi sebesar 86, 67 % dikaitkan dengan analisis data indeks prestasi kelompok ( IPK sebesar 74, 3 % dapat dijelaskan bahwa kemampuan menulis wacana dengan menggunakan media gambar pada kelas XI SMAN 1 Sape Kabupaten Bima dikategorikan baik dan secara keseluruhan berkemampuan normal.
c. Evaluasi
Pengajaran menulis wacana dapat diketahui hasilnya melalui kegiatan evaluasi. Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi harus dilakukan dua kali yakni evaluasi pad awal pembelajaran dan evaluasi pada akhir pembelajaran.
4. 2. 2 Hasil Evaluasi pembelajarn menulis wacana menggunakan media realita
a. Penyajian Data
Tabel 02 Hasil tes kemampuan menulis wacana siswa kelas XI SMAN 1 Sape kabupaten Bima dengan menggunakan media Realita.


1. Kata Sifat = 20
2. Kata Umum dan kata khusus = 20
3. Kata Baku dan tidak Baku = 20
4. Perubahan
Makna kata = 20
5. Makna Denotasi dan Konotasi = 20
Sumber data : hasil pemeriksaan test
b. Analisis Data
1. Kemampuan berdasarkan individu
Berdasarkan table di atas dapat diketahui bahwa kemampuan menulis wacana menggunakan media realita pada siswa kelas XI SMAN 1 Sape Kabupaten Bima sebagai berikut :
a. kemampuan tinggi = 16 orang
b. kemampuan sedang = 14 orang
c. kemampuan rendah = 0 orang
Adapun prosentase kemampuan menulis menggunakan media gambar siswa kelas XI SMAN 1 Sape kabupaten Bima dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
P = x 100%
Berdasarkan rumus di atas bahwa prosentase masing-masing kategori adalah sebagai berikut :
a. Kemampuan tinggi = x 100% = 53, 33%

b. Kemampuan sedang = x 100% = 46, 67 %
Berdasarkan perhitungan rumus di atas dapat dijelaskan bahwa prosentase kemampuan menulis wacana menggunakan media realita siswa kelas XI SMAN 1 Sape Kabupaten Bima dikategorikan baik karena dari data tersebut menunjukkan bahwa siswa yang berkemampuan tinggi dalam menulis wacana dengan menggunakan media gambar adalah sebesar 53,33 %
2. Kemampuan Kelompok
a. Mencari Nilai Rata-rata ( Mean ) :
M =
N = Jumlah Sampel
M = Nilai Rata-rata
Diketahui
N = 30
M1 = = 65,6
Jadi Nilai Rata-rata M = 65,6
b. Mencari Indeks Prestasi Kelompok

Dalam analisis statistic, penguasaan yang didapatkan oleh individu biasanya dinyatakan dengan nilai rata-rata ( mean ). Langkah tersebut sebenarnya belum merupakan langkah yang memadai, sebab dengan nilai rata-rata saja, dengan tanpa mengetahui batas skor maksimal yang mungkin bisa dicapai dalam kemampuan menulis wacana tersebut, sehingga belum mempunyai gambaran yang jelas , maka digunakan ukuran IPK sebagai berikut :
IPK = x 100 %

= x 100 %

= 65,6 %
Berdasarkan analisis data di atas maka dapat diketahui bahwa indeks prestasi kelompok ( IPK ) diperoleh subjek penelitian adalah 65,6 %. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis wacana pada siswa kelas XI SMAN 1 sape kabupaten Bima memiliki kemampuan normal.
Dengan demikian apabila hasil tersebut merujuk pada criteria penilaian yang telah ditentukan maka nilai tersebut dinyatakan dengan criteria normal karena angka tersebut terletak antara 55 – 74.
Rincian kriteria penilaian adalah sebagai berikut :
- Apabila siswa memperoleh nilai 0 – 30 : sangat rendah
- Apabila siswa memperoleh nilai 31 – 54 : rendah
- Apabila siswa memperoleh nilai 55 – 74 : Normal
- Apabila siswa memperoleh nilai 75 – 89 : Tinggi
- Apabila siswa memperoleh nilai 90 – 100 : sangat tinggi
Berdasarkan analisis data prosentase kemampuan menulis wacana menggunakan media realita yang berkemampuan tinggi sebesar 53,33 % dikaitkan dengan analisis data indeks prestasi kelompok ( IPK) sebesar 65, 6 % dapat dijelaskan bahwa kemampuan menulis wacana dengan

menggunakan media gambar pada kelas XI SMAN 1 Sape Kabupaten Bima dikategorikan baik dan secara keseluruhan berkemampuan normal.
c. Evaluasi
Pengajaran menulis wacana dapat diketahui hasilnya melalui kegiatan evaluasi. Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi harus dilakukan dua kali yakni evaluasi pad awal pembelajaran dan evaluasi pada akhir pembelajaran.
4. 3 Perbedan kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar dengan media realita pada siswa kelas XI SMAN 1 Sape Kabupaten Bima
No Aspek Gambar Realita
1


2
3 Kemampuan Individu
a. Kemampuan Tinggi
b. Kemampuan sedang
IPK
Kategori
86,67 %
13,33 %
74, 3 %
Tinggi
53, 33 %
46, 67 %
65,6 %
Sedang

















BAB V
PENUTUP
5. 1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perbedaan kemampuan menulis wacana media gambar dengan media realita pada siswa SMAN 1 Sape kabupaten Bima tahun pelajaran 2007-2008 adalah sebagai berikut :
a. Secara individual kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar yang tergolong tinggi sebanyak 86,67 % dan yang tergolong sedang sebanyak 13, 33 % dengan indeks prestasi kelompok ( IPK ) 74, 3 termasuk kategori normal
b. Kemampuan menulis wacana menggunakan media realita secara individual mencapai kemampuan tinggi sebanyak 53, 33 % dan yang tergolong sedang sebanyak 46,67 % dengan indeks Prestasi Kelompok ( IPK ) 65,6 termasuk kategori normal
c. Berdasarkan indeks prestasi kelompok kedua kemampuan itu secara umum tidak berbeda
d. Dari kedua media yang digunakan lebih efektif menggunakan media gambar karena secara individual kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar dengan kemampuan tinggi sebanyak 86,67 % sedangkan media realita dengan kemampuan tinggi hanya sekitar 53,33 %.
5. 2 Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan :
a. Guru Bahasa Indonesia diharapkan selalu mengikuti perkembangan sastra serta melengkapi diri dengan buku-buku tentang menulis wacana
b. Diharapkan guru memberikan motivasi kepada siswa agar rasa kecintaannya terhadap menulis wacana
c. Kiranya setiap sekolah dapat diharapkan melengkapi dengan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keberhasilan pengajaran menulis wacana khususnya di SMA Negeri 1 Sape kabupaten Bima
d. Agar setiap sekolah melengkapi perpustakaan dengan buku sastra dan perpustakaan difungsikan sebagaimana mestinya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharmini, 1996. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan, Jakarta : Rineka Cipta
Aqib, Zainal, 2002. Profesionalisme guru dalam pembelajaran, Surabaya : Insan Cendekia
Depdikbud, 1994. GBPP Bahasa Indonesia Kurikulum SLTP, Proyek peningkatan SLTP Bandung : ( induk ) Jawa Barat
Depdiknas RI, 2003. Perencanaan Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum, Dirjen Pendidikan dasar dan Menengah
Djiwandono, Sri esti Wuryani, 2006 Psikologi Pendidikan, Grassindo
Hadi, Soetrisno, 1978 . Metedologi Riset untuk penulisan Paper, Skripsi dan Disertasi, Yayasan Penerbit Universitas Gajah Mada
Hidayat, Kosadi, 1999. Perencanaan Pengajaran Bahasa Indoensia, Bandung : Trimitra Mandiri
Hadi, madalika, J. 2004. dasar-dasar Kurikulum. Surabaya : SIC
Nurgiyantoro, Burhan, 1996. Penelitian Dalam Pengajaran Bahasa dan sastra, Yogyakarta : BPFE.
Parera Jos Daniel, keberhasilan dan kepenulisan bahasa Indonesia untuk penulis dan penyunting buku pelajaran, Depdiknas 2000
Sugiyono, Pendekatan kuantitatif dan R&D. Metode Penelitian Pendidikan, Alfabeta, bandung, 2006
Suharto, karti, 2003. Komunikasi Pembelajaran peningkatan mutu guru dalam kegiatan pembelajaran, Surabaya : SIC
Suharto, karti dkk, 2004. TeknologiPembelajaran Pendekatan system konsepsi dan model Sharp, Evaluasi sumber belajar dan media, Surabaya : SIC
Surakmad, Winarno, 1984. Pengantar penelitian ilmiah dasar metode dan teknik Bandung : Tarsito.

PTK Skripsi Bahasa Indonesia


BAB III
METODE PENELITIAN
3. 1 Metode penentuan subjek penelitian
Subjek penelitian merupakan sumber informasi terhadap objek yang akan diteliti. Subjek penelitian dapat berupa orang, tempat atau symbol. Apabila subjek penelitian berupa orang, maka jumlah subjek hendaknya menjadi perhitungan bagi peneliti untuk menentukan metode. Subjek yang jumlahnya terlalu besar tidak mungkin melakukan penelitian secara menyeluruh, maka peneliti perlu mengambil sample dengan random sample.

Menurut Sugiono ( 2000 : 60 ) dalam penjelasannya mengatakan, apabila sampel jumlahnya di atas 100 orang, boleh diambil 20 % atau lebih sebagai sample. Sebaliknya sample yang jumlahnya di bawah 100 orang, dapat menggunakan penelitian populasi. Karena subjek yang diteliti pada penelitian ini kapasitasnya di atas 100 orang, maka penelitian menggunakan penelitian sample.
Menurut Arikonto ( 1998 : 115 ), mendefinisikan populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada di dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Sedangkan menurut Netra ( 1974 : 10 ) mengemukakan bahwa popu;asi merupakan keseluruhan individu yang menjadi subjek penelitian yang nantinya dikenai generalisasi. Berdasarkan kedua pendapat di atas maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMAN 1 Sape Tahun pelajaran 2007/2008 sebanyak 480 orang.
Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi ( Djarwanto, 1993 : 103 ).
Penentuan anggota sampelnya adalah secara simple random sampling yaitu pengambilan sample itu secara acak tanpa memperhatikan starat yang ada dalam sejumlah banyak populasi, selanjutnya untuk menentukan jumlah sample yang akan digunakan dalam penelitian ini digunakan simple random sampling, maka yang akan dijadikan sample adalah sejumlah populasi yaitu sebagian dari siswa SMAN 1 Sape yaitu diambil dari dua kela saja yang berjumlah 60 orang. Karena 60 orang cukup mewakili dari siswa yang berjumlah 480 orang.


3.2 Metode Pengumpulan Data
1. Metode Observasi
Observasi (pengamatan) merupakan kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, peraba, dan pengecap. Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengamatan realita.
Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yang kemudian digunakan untuk menyebut jenis observasi, yaitu :
a. Observasi nom-sistimatis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrument
b. Observasi sistimatis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrument pengamatan.
Untuk membandingkan efektifitas antara penggunaan media gambar dengan media realita, diukur dengan membandingkan perbedaan selisih rata-rata nilai
( means ) pre test dan mean post test pada masing-masing media.Selisih yang tinggi menyatakan efektifitas dari media yang digunakan.
2. Metode Wawancara
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP )
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan suatu perencanaan pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai. Komponen-komponen dari rencana pembelajaran ialah silabus, SK, KD, Indikator, dan Evaluasi.
b). Lembar Kerja Siswa ( LKS )
Lembar Kerja siswa ini berisi perintah-perintah yang harus dilakukan oleh siswa dalam pre test dan post test. Pembelajaran menulis wacana pada masing-masing kelas dilaksanakan tiga tahap yaitu : tahap pendahuluan dan pelaksanaan apresiasi dan pretest. Tahapn ini merupakan tahapan penyampaian materi pelajaran dan tahapan penutupan dengan memberikan penguatan dan pemberian post test.
Selama pembelajaran berlangsung, guru bidang studi sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dikedua kelas tersebut, selalu mengawasi proses belajar mengajar sambil memberikan penilaian terhadap aktivitas siswa dan guru ( penulis ).
3.3 Metode Analisa Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknikanalisis statistic kuantitatif, yaitu dengan cara mempresentasikan option (kemungkinan jawaban pada setiap pertanyaan) untuk mengambil kesimpulan setiap variable penelitian. Untuk menganalisis data pada penelitian ini, peneliti menggunakan system penilaian acuan patokan ( PAP ) yaitu dengan mengubah skor mentah ke skor standar.
Prosedurnya adalah :
a). Mencari Skor Maksimal Ideal ( SMI )
Rumus : Jumlah soal x bobot
b). Mencari angka Rata-rata Ideal ( MI )
Rumus : ½ x SMI
c). Mencari standar Deviasi Ideal ( SDI )
Rumus : 1/3 x MI


Di mana :
Σ fX = Jumlah frekwensi skor seluruh siswa

N = Jumlah sample

M = Nilai Rata-rata

a. Selanjutnya peneliti mencari :
SD =√ Σ fX
N
Di mana :
SD = Standar Deviasi
Σ fX = Jumlah frekwensi skor seluruh siswa

N = Jumlah sample

Untuk mengetahui tingkat kemampuan individual, peneliti menggunakan rumus sebagai berikut :

1). Kemampuan tinggi adalah M+1 SD ke atas
2). Kemampuan sedang adalah M ± 1 SD sedang
3). Kemampuan rendah adalah M – 1 SD ke bawah
Mencari frekuensi masing-masing kategori
P = x 100%


Selanjutnya peneliti mencari Indeks Prestasi kelompok dengan rumus :
IPK = x 100%

Di mana :

IPK = Indeks Prestasi Kelompok
M = Mean atau Nilai rata-rata
SMI = Skor maksimal ideal, artinya skor yang mungkin dicapai, semua skor dicapai kalau
semua soal dijawab dengan benar

PTK Skripsi Bahasa Indonersia Bab II


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Dasar
2.1.1 Hakikat Pembelajaran
a. Pendidikan menitik beratkan pada pembentukan dan pengembangan kepribadian.
Latihan pada menitikberatkan pada pembentukan keterampilan, sedangkan pengajaran merupakan proses yang terarah pada tujuan yang direncanakan.
b. Teknologi pendidikan menitik beratkan pada aplikasi kreatif ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan
c. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsure manusia, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan teori belajar ada 5 pengertian pengajaran menurut ( Aqib, 2003 : 41 )
1. Pengajaran ialah upaya menyampaikan pegetahuan kepada peserta didik atau siswa di sekolah
2. Pengajaran adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah.
3. Pembelajaran adalah upaya mengorganisir lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.
4. Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menadi warga masyarakat yang baik.
5. Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
d. Suatu system pembelajaran memiliki 3 ciri utama yaitu memiliki rencana khusus, saling ketergantungan antara unsur-unsurnya
e. Unsur minimal system pembelajaran adalah siswa, tuuan, prosedur, guru, atau media pengganti. unsure dinamis dari guru terdiri dari motivasi, sumber bahan, alat Bantu, suasana belajar, dan subyek yang belajar.


2. 1. 2 Pengertian Belajar
Menurut pendapat tradisional, belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan dan intelektual anak dengan jalan menghafal. Ahli pendidikan modern merumuskan perbuatan belajar sebagai berikut : “ Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkatpengalaman dan latihan. Misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari buruk menjadi baik, dari pemarah menjadi peramah.”
Seorang yang belajar kelakuannya akan berubah daripada sebelum itu. Jadi belajar tidak hanya mengenal bidang intelektual akan tetapi mengenai seluruh pribadi anak. Perubahan kelakuan karena mabuk bukanlah hasil belajar. Dalam kamus Paedagogik, bahwa belajar adalah berusaha memiliki kecakapan.Seseorang telah mempelajari sesuatu terbukti dengan perbuatannya yang mempunyai kemajuan dari masa kepekaan
Belajar bagaikan mengalir di sebuah sungai, mengalir, dinamis, penuh resiko, menggairahkan, kesalahan, kreativitas, potensi dan ketakjuban mengisi tempat itu. Mengajar bagaikan “tukang bersih sungai “ agar air dapat mengalir bebas hambatan, mengangkat sampah, membuat kotoran, mengeruk Lumpur, pasir, memindahkan batu, kayu.
Jadi mengajar membutuhkan ketulusan hati, kesetiaan, kemesraan, kesabaran, cinta, suka cita, improvisasi, pengendalian diri memenuhi pekerjaan itu. Belajar diibaratkan sungai yang indah diarungi, berliku-liku banyak jeram, batu, padas, tebing dan curam segala yang tersembunyi dan terbuka ada di situ dalam ketidak aturan.
2. 1. 3 Teori Belajar dan Teori Pembelajaran
Pendidik sewajarnya mendalami dan mengetahui beberapa teori belajar dan teori pembelajaran yang dibutuhkan untuk menerapkan dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas.
Teori-teori belajar dan pembelajaran tidak begitu saja disimpulkan oleh para ahli tetapi brtahun-tahun mereka menerapkan keterampilan-keterampilan berpikir mulai dari merumuskan masalah hingga mengambil kesimpulan, sekarang kita tinggal mengginakan kepentingan anak-anak kita dalam penggunaan teori-teori tersebut.

Hasil penerapan teori tersebut dapat kita diskusikan dan kita elaborasikan dengan teman sejawat dan selanjutnya kita bahas apa kekurangan dan kelebihan teori-teori tersebut.
1. Teori Belajar Sosial
Teori belajar social dikembangkan oleh Albert Bandura tahun 1969. Pada prinsipnya merupakan teori belajar prilaku tetapi lebih menekankan pada dampak perilaku dan proses mental internal. Dalam teori belajar social, penjelasan secara eksternal untuk bagaimana anak belajar dari orang lain , melalui pengamatan dunia social interpretasi kognitif di dunia social sehingga menimbulkan informasi dan penampilan yang komplek untuk dipelajari. Teori belajar social “ manusia tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak dipikul oleh keadaan lingkungan tetapi fungsi psikologis diterapkan sebagai interaksi yang terus menerus, timbale balik, dari aspek pribadi dan aspek lingkunagn sehingga lingkungan diubah melalui perilaku.
Konsep utama dari teori belajar social adalah pemodelan ( penelusuran dan demonstrasi ). Contoh; Guru Olahraga mendemonstasikan loncat tinggi dan anak-anak menirunya.
Teori belajar memiliki 4 fase :
a. Fase perhatian ( perilaku keteladanan yang diikuti oleh murid )
b. Fase retensi ( pengamatan dan pengujian simbolik )
c. Fase reproduksi ( kode simbolik dengan bayangan ingatan tersusun )
d. Fase motivasi ( peniruan dan dorongan dengan pujian dan hukuman )
2. Teori Belajar-Mengajar Jerume Bruner
Belajar yang terpenting bagaimana memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi secara aktif karena hal ini merupakan inti belajar.
Belajar menurut Bruner adalah bagaimana mengembangkan enaktif, ikonik dan simbolik.
Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan 2 asumsi :
a. proses perolehan pengetahuan merupakan proses interaktif
b. proses mengkontribusikan pengetahuan dengan asosiasi informasi ausebal.


Teori pembelajaran Bruner meliputi :
1) guru memberikan pengalaman-pengalaman optimal bagi anak untuk mau dan dapat belajar
2) Guru mengstrukturkan pengetahuan untuk pemahaman optimal
3) guru merinci urutan-urutan penyajian materi ajar secara optimal
4) guru memikirkan bentuk dan pemberian umpan balik misalnya, memberikan hadiah pujian dan hukuman selama KBM. Hadiah itu meliputi hadiah ekstrinsik dan hadiah instrinsik.
3. Teori Belajar Ausubel
Menurut Ausubel dan Novac, ada 2 dimensi belajar :
a. dimensi penerimaan dan penemuan
b. dimensi hafalan dan bermakna
Kedua hal di atas merupakan suatu kontinum dan dikotomi antara hafalan bermakna yang terjadi pada diri anak. Inti dari teori Ausubel tentang belajar adalah “ Belajar bermakna “. Belajar bermakna akan terjadi bila informasi baru dapat dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif anak. Sedangkan belajar hafalan terjadi bila informasi baru tidak dapat dikaitkan pada konsep-konsep yang sudah ada dalamstruktur kognitif anak.
Faktor yang paling penting mempengaruhi belajar ialah “ apa yang diketahui anak, yakin ini dan ajarlah ia demikian “.
4. Teori Belajar menurut Faculty Psychology ( Ilmu jiwa Daya )
Jiwa manusia terdiri dari berbagai daya seperti daya piker,daya mengenal, daya mengingat, daya mengamati, daya mengerjakan dan lain-lain. Daya-daya ini berkembang dan berfungsi apabila dilatih dengan cara tertentu. Belajar menurut ilmumjiwa daya adalah “ usaha melatih daya-daya agar berkembang sehingga dapat berpikir mengingat, menegnal, mengamati, dan melakukan dengan cara menghafal, memecahkan soal-soal dan berbagai jenis kegaitan lainnya “.
5. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Assosiasi


Jiwa manusia terdiri dari assosiasi dari berbagai tanggapan yang masuk ke dalam jiwa kita. Assosiasi itu biasanya terbentuk berkat adanya hubungan stimulus dan response ( S-R ). Menurut ilmu jiwa Asspsiasi, belajar berarti “ membentuk hubungan-hubungan stimulus dan response dengan melatih hubungan itu agar bertalian erat. Belajar demikian sifatnya mekanis seperti mesin dan akhirnya terbentuk kebiasan-kebiasaan sejumlah ilmu pengetahuan “. Teori belajar ilmu jiwa assosiasi dikemukakan oleh E. L. Tordike.
6. Teori Belajar Organis ( Il,u jiwa Gestalt )
Jiwa manusia merupakn satu keseluruhan yang bulat atau utuh bukan tangggapan-tanggapan ( elemen-elemen ). Jiwa manusia bersifat hidup dan aktif dan berinteraksi dengan lingkungan. Belajar menurut pandangan ini berarti “ mengalami, bereaksi, berbuat, berpikir secara kritis “. Azas belajar teori organis meliputi :
a. Keseluruhan lebih dari jumlah bagian-bagian
b. belajar adalah suatu proses perkembangan
c. belajar adalah re-organisasi pengalaman
d. belajar lebih berhasil apabila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan anak.
e. belajar suatu proses yang berlangsung terus-menerus.
Gagne memberikan tingkatan mengajar atau bimbingan siswa ke dalam 8 tipe :
a. belajar berdasarkan isyarat ( signal learning )
b. belajar berdasarkan stimulus – respon ( stimulus response learning )
c. belajar rangkaian ( chaining )
d. assosiasi verbal ( verbal association learning )
e. belajar diskriminasi ( discrimination learning )
f. belajar konsep ( concept learning )
g. belajar aturan ( rule leraning )
h. belajar pemecahan masalah ( problem solving learning )
7. Teori perkembangan intelektual manusia oleh J. Pieget
Siswa Sekolah Dasar usia 6 sampai 13 tahun berada pada operasi konkrit.


Jadi belajar adalah bagaimana upaya untuk mengkongkritkan sesuatu sehingga anak dapat mengembangkan pengetahuan dan pemahamannya.
8. Teori Belajar Pemahaman Dubensky
Belajar adalah bagaimana melakukan aksi, melakukan proses dari obyek dan skema yang telah disediakan sehingga memudahkan anak di dalam pemahamannya .
9. Teori Konstruktivistik dalam pembelajaran
Konstruktivistik memandang bahwa pengetahuan adalah non objektif, bersifat temporer selalu berubah dan tiidak menentu. Belajar adalah penyusunan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolabotarif dan refleksi serta interpretasi. Menagajar adalah menata lngkungan agar sibelajar termotivasi dalam menggali serta menghargai ketidak menentuan. Si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda pada pengetahuan tergantung pada pengalamannya dan perspektif yang dipakai dalam mengimplementasikannya. Kegagalan atau keberhasilan dan kemampuan atau ketidak mampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yangperlu dihargai. Kebebasan di pandang sebgai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah subjek yang harus mampu untuk dipegang oleh si belajar.
Tujuan pembelajaran ditentukan pada belajar, bagaimana belajar yaitu menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas, kreativitas, produktif dalam konteks yang nyata dan dapat didemonstarikan kembali.
2. 2 Media pengajaran
Melalui proses komunikasi , pesan atau informasi dapat diserap dan dihayati orang lain. Agar tidak terjadi kesesatan dalam proses komunikasi perlu digunakan sarana yang membantu proses komunikasi yang disebut media.
2. 2. 1 Jenis-jenis Media Pembelajaran
Dalam melaksanakan proses belajar mengajar tidak dapat sukses apabila hanya menggunakan asatu atau dua media saja, namun menggunakan media yang banyak justru memungkinkan siswa dapat memahami materi pelajaran yang diberikan oleh guru tersebut. Semakin banyak media yang digunakan oleh guru semakin baik dicapai tetapi penggunaan media tergantung pada materi yang diajarkan oleh guru.

Dengan demikian , maka media pengajaran dapat dibagi menjadi :
Jenis media ditinjau dari kesiapan dan pengadaannya, media dikelompokkan dalam 2 jenis yaitu media jadi dan media rancangan. Media jadi merupakan komoditi perdagangan yang terdapat di pasaran luas dan dalam keadaan siap pakai yang sifatnya hemat dalam waktu, tenaga, dan biaya untuk pengadaannya. Sedangkan media rancangan harus dipersiapkan dan dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Dalam menentukan proses tujuan pembelajaran itu sendiri yang memeras banyak waktu, tenaga dan biaya karena untuk mendapatkan kehandalalan dan kesohihannya diperlukan serangkaian kegiatan variasi valisasi protipenya. Tapi dari dua mcama pembagian media yang secara global di atas, media jadi sedikit tidaknya memiliki kekurangan yang kecil kemungkinan untuk mendapatkan media jadi yang dapat sepenuhnya sesuai dengan tujuan atau kebutuhan pemeblajaran setempat dikarenakan oleh faktor waktu, tenaga dan biaya ( Sardiman, 1966 : 81 ).

Dari pembagian di atas maka yang tergolong media jadi itu sebagai berikut :
1. Media hasil teknologi cetak
2. Media hasil teknologi audiovisual
3. Media hasil teknologi berbasis computer
4. Media gabungan teknologi cetak dan computer
5. Media hasil teknologi cetak, adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi, seperti : buku dan materi visual statis terutama melalui oroses pencetakan mekanis atau fotografis , contohnya : teks, grafik, foto atau representasi fotografik dan reproduksi
6. Teknologi audiovisual merupakan car menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio
dan visual yang memiliki cirri-ciri utama sebagai berikut :
a. mereka biasanya bersikap linear
b. mereka biasanya menyajikan visual yang dinamis
c. mereka menggunakan dengan cara telah ditetapkan sebelumnya oleh perancang dan pembuatnya
d. mereka merupakan representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak
e. mereka dikembangkan menurut prinsip psikologi behaviorisme dan kognitif
f. umumnya mereka berorientasi pada guru dengan tingkat pelibatan interaktif murid yang rendah ( Arsyad, 1977 : 29 )
7. Teknologi berbasis computer, merupakan cara menghasilkan atau menghasilkan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikroprosesos, yang memiliki ciri- ciri sebagai berikut :
a. mereka digunakan secara acak, non-sekuensial atau secara linear
b. mereka digunakan berdasarkan keinginan siswa atau berdasarkan keinginan
perancang/pengembang sebagaimana direncanakannya.
c. biasanya gagasan –gagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan kata symbol dan grafik
d. prinsip-prinsip ilmu kognitif untuk mengembangkan media
e. pembelajaran dapat berorientasi siswa dan dapat melibatkan interaktifitas siswa yang tinggi.
8. Tekhnologi gabungan adalah cara untuk menghasilkan dan menyampaikan materi yang
menggabungkan pemakain beberapa bentuk media yang dikendalikan oleh computer, yang memiliki ciri bentuk media yang dikendalikan oleh computer, yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Ia dapat digunakan secara acak, sekuensial, secara linear
b. Ia dapat digunakan sesuai dengan keinginan siswa bukan saja dengan cara yang direncanakan dan inginkan oleh perancangnya.
c. Gagasan-gagasan yang sering disajikan secara realistis dalam kontek pengalaman siswa,
menurut apa yang relevan dengan siswa di bawah pengendalian siswa
d. Prinsip ilmu kognitif dan konstruktifisme diterapkan dalam mengembangkan dan penggunaan pelajaran ( Arsyad, 1977 : 33 ).

Selanjutnya untuk memperjelas dari media rancangan dapat digolongkan adalah :
1. Media Peta
Media peta adalah “ gambaran permukan bumi dilihat dari atas yang diperkecil dengan skala. Permukaan bumi dalam peta digambarkan dengan symbol, antara lain symbol jalan, kota, sungai, laut, dan gunung “ ( Suharsini, 1996 : 1)
Dalam mempelajari peta kita perlu memperhatikan beberapa syarat yang ada pada peta, sebagai berikut :
a. Judul peta, peta harus diberi judul yang mencerminkan isi dan daerah yang gambar, sehingga dengan melihat peta kita mengetahui dengan cepat apa yang digambarkan dalam peta itu
b. Skala peta, perbandingan jarak pada peta dengan jarak yang sebenarnya, ada dua
macam skala yaitu skala angka dan skala garis. Skala angka adalah : skala dalam bentuk.
Contoh peta propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berskala 1 : 800.000. Maksudnya setiap 1 cm pada peta tersebut jarak sebenarnya 800.000 cm atau 8 km. Skal garis atau grafik adalah : skala dalam bentuk garis.
c. Sumber, sumber perlu ditulis agar pembaca mengetahui darimana sumber peta atau sumber data diperoleh
d. Tahun pembuatan, tahun pembuatan sanat diperlukan pada peta-peta yang
menggambarkan data yang mudah berubah, misalnya peta penyebaran penduduk, peta hasil pertanian dan peta tambang
e. Penunjuk arah ( mata angin ), penunjuk arah sangat penting bagi pembaca peta.
Dengan petunjuk arah pembaca dapat mengetahui arah Utara, Selatan, Barat dan Timurnya peta.
f. Inset adalah penunjuk lokasi daerah dipetakan, agar letak daerah yang dipetakan menjadi jelas.
g. Legenda adalahberguna untuk memberi penjelasan symbol-simbol yang ditampilkan agar lebih mudah untuk dibaca. Simbol-simbol itu menggambarkan keadaan yang sebenarnya dipermukaan bumi ( Suharsini, 1996 : 2 ).
a. Jenis-jenis peta
1. Peta umum
Peta umum adalah “ peta yang memberikan gambaran atau kenampakan yang bersifat umum pada suatu daerah tertentu “ ( Suharsini, 1996 : 2 ) untuk lebih memperjelasnya peta umum dapat digolongkan menjaditiga, sebagai berikut :
a. Peta Topografi yaitu peta umum yang berskala besar ( biasanya skala 1 : 50.000 ),
sehingga kenampakan yang tergambar sangat detail dan pada daerah yang sempit.
Misalnya peta desa
b. Peta Chorografi yaitu : peta umum berskala sedang, peta ini berisi kenampakan
yang bersifat umum dan pada daerah yang agak luas, misalnya peta daerah
kecamatan dan kabupaten.
c. Peta Geografi dan dunia adalah peta umum yan berskala kecil. Oleh karena itu
kenampakan yang tergambar sangat global. Hanya menggambarkan hal yang
penting- penting saja, misalnya peta propinsi, Negara dan dunia ( Suharsini, 1986 : 3 )
2. Peta Khusus ( Tematik )
Peta khusus adalah “peta yang menggambarkan kenampakan yang bersifat khusus, yang terdapat pada daerah tertentu “. ( Suharsini, 1994 : 3 ).

Adapun jenis-jenis dari peta khusus sebagai berikut :
a. Peta pariwisata adalah peta yang menggambarkan obyek-obyek wisata yang
terdapat dalam daerah
b. Peta perhubungan adalah peta yang menggambarkan penghubungan antara satu
tempat dengan tempat lain dalam satu daerah
c. Peta iklim adalah peta yang menggambarkan keadaan iklim pada suatu daerah
tertentu
d. Peta Vegatali adalah peta yang menggambarkan jenis-jenis vegatali pada suatu
daerah.
e. Peta penduduk adalah peta yang menggambarkan data-data penduduk di suatu
daerah. Misalnya jumlah penduduk, penyebaran penduduk.
f. Peta tambang adalah peta yang menggambarkan data hasil tambang suatu daerah
( Suharsini, 1994 :4 ).

b. Penggunaan Peta
Untuk memperjelas dari penggunaan peta ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Peta Topografi
Peta ini antara lain dipergunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan perang,
untuk perencanaan pembuatan jalan, saluran sungai dan jalan kereta api.
2. Peta Dunia
Peta ini baik sekali untuk mengetahui bentuk-bentuk benua, luas Negara-negara, lokasi Negara, ibukota Negara, laut dan lautan. Peta dunia sangat membantu
dalam memahami daerah luar di permukaan bumi.
3. Peta Pariwisata
Peta ini dapat dipergunakan untuk mempromosikan obyek-obyek wisata di suatu daerah, contoh peta priwisata di suatu daerah, contoh peta pariwisata daerah Istimewa Yogyakarta.
4. Peta penduduk
Peta ini dapat dipergunakan untuk kepentingan analisis jumlah penduduk dan penyebarannya pada suatu daerah, contoh : peta penyebaran penduiduk kecamatan Patuk
5. Peta tambang
Peta ini dapat dipergunakan untuk mengetahui banyak sedikitnya hasil tanbang, jenis-jenis tambang dan penyebarannya di suatu daerah ( Suharsini, 1994 : 5 ).

2. Atlas
Yang dimaksud Atlas adalah :
Kesimpulan peta dalam bentuk buku. Peta yang dibukukan dibedakan menjadi peta umum dan peta khusus. Oleh karena itu atlaspun dapat dibedakan menadi atlas umum dan atlas khusus. Atlas umum terdiri atas peta peta-peta umum comtohnya atlas Indonesia dan
dunia. Atlas khusus terdiri atas peta-peta khusus, contohnya : Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, dan atlas geologi Indonesia ( Suharsini, 1994 : 6 ).


Unsur-unsur dalam atlas yang baik mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :
a. Pada bagian sampul dituliskan judul atlas, misalnya atlas Indonesia dan dunia. pada bagian sampul dituliskan nama penyusun dan penerbit.
b. Daftar isi, memuat atlas secara keselruhan peta yang terdapat di dalam atlas sesuai halamannya.
c. Legenda ( keterangan ) sama seperti pada peta, yaitu dengan symbol-simbol
untuk lebih jelasnya perhatikan atlas di sekolah.
d. Kata pengantar, berisi maksud atau tujuan dari penyusun atlas
e. Indeks, dimaksud untuk memudahkan dalam mempergunakan, misalnya dalam
mencari untuk suatu kota, pilau, gunung, danau, sungai, dan unsur-unsur
geografi yang lain ( Suharsini, 1994 : 6 ).

Mencari iformasi dalam atlas adalah “informasi dalam, dapat dicari dengan mempergunakan indeks, daftar isi, serta garis lintang dan garis bujur “( Suharsini, 1994 : 6 )
Untuk lebih jelasnya dapat peneliti jelaskan sebagai berikut :
a. Indeks
Kenampakan geografis seperti kota, pulau, gunung, danau dan sungai dapat dicari pada atlas dengan mempergunakan indeks. Agara lebih jelas dalam menunjuk kenampakan yang kita cari, indeks dibagi menjadi sua bagian ayitu Indonesia dan dunia. Setiap bagian dalam kelompok-kelompok kota, gunung/pegunungan, pulau, sungai, danau/waduk, teluk, selat, laut, samudera, tanjung, dan pelabuhan udara.
b. Daftar Isi
Daftar isi memuat semua judul peta yang ada beserta halamnnya melalui daftar isi, dengan cepat dapat mencari peta yang diinginkan.
c. Garis lintang dan garis bujur
Pada setiap peta pasti digambar garis-garis lintang dan garis-garis bujur. Garis lintang digambarkan horizontal, sedangkan garis bujur digambar dengan garis-garis vertikal.
3. Globe
Pengertian Globe adalah “ permukaan bumi kita, dapat digambarkan pada bidang datar, juga dapat digambarkan pada sebuah kota. Gambaran permukaan bumi pada sebuah bola disebut Globe. Jadi globe adalah miniatur dari bola bumi “ (Suharsini : 1994 : 7 )


Pada Globe dapat dilihat kutub Utara dan kutub Selatan bumi, kutub Utara terletak pada bagian ujung atas dan kutub Selatan pada bagian ujung bawah.
a. Garis Lintang
Pada globe dapat digambarkan garis lintang dan garis bujur. Garis lintang adalah garis yang melingkari permukaan bumi, bumi dibagi mejadi sua belahan yaitu belahan bumi Utara dan belahan bumi Selatan. Belahan bumi Utara dari garis lintang 00 – 90 0 LU belahan bumi Selatan dan garis lintangnya 00 – 90 0 LS.
b. Garis Bujur ( maridem )
Garis bujur adalah garis yang menghubungkan kutub Utara dan kutub Selatan. Garis bujur 00 – 1800 membagi bumi menjadi dua sama besar, bumi menjadi dua belahan yaitu belahan bumi bagian Barat dan Timur.
Garis bujur 00 kota Grenwich ( dekat London ) dari kota Grenwich kea rah timur sampai 180 0 disebut bujur Timur, sedangkan dari kota Grenwich ke Barat sampai 1000 disebut bujur Barat. Garis 1800 BT dan 1800 BB berimpit di samudera Pasifik. Garis ini dengan beberapa pembelokan disebut garis tanggal internasional, kegunaan garis bujur adalah untuk menentukan waktu di permukaan bumi, cara menghitungnya setiap 150 bujur mempunyai selisih waktu 60 menit ( 1 jam ) untuk menentukan waktu kita berpedoman pada waktu Greenwich atau GMT ( Greenwich Mean Time )
c. Kegunaan Globe
Melalui globe kita dapat mencari letak suatu daerah dipermukaan bumi, sebagai contoh Kepulauan Indonesia, pada Globe dapat dibaca sebagai berikut
1. Dua pertiga terletak di belahan bumi Selatan dan sepertiganya di belahan bumi Utara
2. Semua wilayah kepulauan Indonesia terletak di belahan bumi bagian Timur
3. Kepulauan Indonesia diapit oleh dua benua yaitu benua Asia dan Australia serta diantara Samudera Pasifik dan Hindia ( Suharsini, 1994 : 8 )
Dengan demikian bahwa globe sangat bermanfaat dalam memberikan
penjelasan kepada siswa tentang kutub-kutub yang terdapat dalam wilayah Indonesia sehingga siswa memahami dan mengerti geogtafis bangsa Indoensia
dengan baik.
2. 2. 2 Manfaat Media Pengajaran
Manfaat media pemgajaran dapat dirasakan oleh siswa ketika mengikuti jalannya proses belajar mengajar. Media yang digunakan dalam proses belajar mengajar termasuk dalam alat peraga.
Pengertian alat peraga adalah alat-alat untuk membantu pengajaran menyampaikan pengetahuan dan keterampilan, dengan batasan bahwa alat peraga bukan menggantikan pengajar tetapi pembantu.
Alat peraga dibagi menjadi tiga bagia yaitu :
1. Alat peraga pendengaran adalah alat peraga yang menuntut indera pendengar, misalnya tape recorder, radio
2. Alat peraga penglihatan adalah alat peraga yang menuntut indera penglihatan misalnya gambar, bahan-bahan tulisan.
3. Alat peraga pendengar dan penglihatan adalah alat peraga yang menuntut indera dan pendengar misalnya Televisi.
2. 2. 3 Alat/sarana dan sumber belajar
Alat/sarana
a. Pada penggunaan media gambar, disediakan dua buah gambar untuk proses pembelajaran dan posttest
b. Pada penggunaan media realita , untuk proses pembelajaranmenggunakan benda/pohon yang ada di luar kelas dan untuk posttest disediakan benda yang dapat dibawa ke dalam kelas



Sumber Belajar
Bahasa Indonesia Untuk SMPN kelas III
2. 2. 4 Penilaian
Prosedur
a. Penilaian proses Belajar : Tertulis
b. 1) Penilaian Pre test : Lisan dan tertertulis
2) Penilaian post test : tertulis
Alat Penilaian
Disediakan lembar tugas untuk membentuk wacana dalam bentuk prosa
Aspek Penilaian
Dipusatkan penggunaan syarat wacana yang hidup.
Desain Penelitian
Perencanaan
Membagi lembar kerja siswa ( LKS ) untuk mengujikemampuan siswa dalam menulis wacana menggunakan media gambar dan realita pada kelas XI SMAN 1 Sape.
Skenario Pembelajaran sebagai berikut :
1). Pada penggunaan media gambar langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut :
a. Memasang gambar di papan tulis
b. Siswa mengamati gambar yang terpampang di papan tulis
c. Siswa berlatih menulis wacana dengan memperhatikan wacana yang hidup
d. Guru mengawasi dan membimbing siswa dalam penulisan wacana
e. Guru meminta tiga orang siswa untuk membacakan hasil karya nya secara
bergantian
f. Siswa dan guru mendiskusikan hasil karya siswa terutama dari contoh yang
dibacakan siswa
2). Pada penggunaan realita , langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut :
a. Siswa diajak keluar di sekitar sekolah
b. Siswa mengamati satu pohon yang ditunjuk guru

c. Siswa berlatih menulis wacana yang memperhatikan syarat wacana yang hidup
d. Siswa diajarkan kembali ke dalam kelas
e. Guru meminta tiga orang siswa untuk membacakan hasil karyanya secara bergantian
f. Siswa dan guru mendiskusikan hasil karya siswa, terutama pada contoh yang dibacakan siswa
Pada akhir pembelajaran, guru memberikan ulangan tentang materi pembelajaran dan memberikan penguatan dengan menyimpulkan materi pembelajaran pada siswa untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan secara tertulis. Pelaksanaan post test pada penggunaan media gambar, siswa disediakan yang berbeda dengan gambar untuk menulis wacana dari benda yang menyerupai dengan benda pada kegiatan inti yakni berupa pohon yang dikerdilkan ( bonsai ).
Guru menyampaikan terimakasih atas partisipasi siswa dalam penelitian dan minta maaf sebelum meninggalkan ruangan kelas.
2. 3 Hasil Pembelajaran
Pengajaran menulis wacana dapat diketahui hasilnya melalui kegiatan evaluasi. Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi harus dilaksanakan dua kali, yakni evaluasi pada awal pembelajaran atau sebelum pembelajarandilaksanakan ( Pretest ) dan evaluasi pada akhir pembelajaran yang dinamakan posttest kenaikan nilai rata-rata
( mean ) dari post test hasil pembelajaran menulis wacana

PTK Skripsi Bahasa Indonesia I


LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PERBEDAAN KEMAMPUAN MENULIS WACANA MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DENGAN MEDIA REALITA PADA
SISWA KELAS XI DI SMAN 1 SAPE KABUPATEN BIMA
TAHUN PELAJARAN 2007 / 2008
TIM PENYUSUN :
NURJANAH ( Ketua Tim Peneliti )
Dra. SRI SUHADAH ( Anggota Tim Peneliti )
SMA NEGERI 1 SAPE
2008
Lembar Pengesahan
A. Judul Penelitian : Perbedaan Kemampuan Menulis Wacana Menggunakan Media
Gambar Dengan Media Realita Pada Siswa Kelas XI Di SMAN 1
Sape Kabupaten Bima Tahun pelajaran 2007 / 2008
B. Peneliti :
1. Ketua Peneliti :
a. Nama : Nurjanah
b. Nip. : 131 773 378
c. Unit Kerja : SMAN 1 Sape
d. Alamat : Desa Rasabou Kecamatan Sape Kab. Bima
2. Anggota Peneliti :
a. Nama : Dra Sri Suhadah
b. Nip. : 132129187
c. Unit Kerja : SMAN 1 Sape
d. Alamat : Desa Sari Kecamatan Sape Kab. Bima
Sape,
Pembimbing Peneliti
Junaidy Nurjanah
Nip.131842252 Nip. 131 773 378
Mengetahui,
Kepala Sekolah
Drs. H. Adhamuddin HA
Nip. 130 608 708
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan HidayahNya sehingga penelitian Tindakan Kelas yang berjudul Perbedaan Kemampuan Menulis Wacana Menggunakan Media Gambar Dengan Media Realita Pada Siswa Kelas XI Di SMAN 1 Sape Kabupaten Bima Tahun pelajaran 2007 / 2008 dapat penbulis selesaikan.
Kegiatan penyusunan PTK ini terlaksana dengan baik karena adanya bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan rasa hormat dan terimakasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang banyak membantu penulisan PTK ini terutama kepada :
1. Drs. H. Adhamuddin HA selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Sape
2. Junaidy, selaku pembimbing
3. Semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungan sehingga PTK ini dapat diselesaikan.
Akhirnya dengan penuh kerendahan hati, penulis menyadari bahwa PTK ini memiliki banyak kekurangan. Penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak guna penulisan yang lebih baik di masa datang. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Sape,
Penulis
Halaman
DAFTAR ISI…………………………………………………………………
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………….
KATA PENGANTAR……………………………………………………….
DAFTAR ISI…………………………………………………………………
ABSTRAK…………………………………………………………………..
BAB I………………………………………………………………………..
1.1 Latar Belakang Masalah………………………………………………….
1.2 . Rumusan Masalah………………………………………………………
1.3 . Tujuan Penelitian………………………………………………………..
1.4 Manfaat Penlitian ………………………………………………………
BAB II ………………………………………………………………………
2.1 Konsep dasar ……………………………………………………………
2.2 Media Pengajaran ……………………………………………………….
2.3 Hasil Pembelajaran……………………………………………………..
BAB III……………………………………………………………………..
3.1 Metode Penentuan Subjek Penelitian ………………………………….
3.2 Metode Pengumpulan Data ……………………………………………
3.3 Metode Analisa Data ………………………………………………….
BAB IV …………………………………………………………………….
4.1 Pembelajaran Menggunakan media Gambar ………………………….
4.2 Hasil evaluasi pembelajaran menulis wacana menggunakan metode
Realita ………………………………………………………………..
4.3 Perbedaan Kemampuan menulis wacana menggunakan media
gambar dengan media realita …………………………………………
BAB V …………………………………………………………………….
5. 1 Simpulan ……………………………………………………………...
5. 2 Saran-Saran ………………………………………………………….
Daftar Pustaka ……………………………………………………………
ABSTRAK
PERBEDAAN KEMAMPUAN MENULIS WACANA MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DENGAN MEDIA REALITA PADA SISWA KELAS XI
DI SMAN 1 SAPE KABUPATEN BIMA TAHUN PELAJARAN 2007 / 2008
OLEH :
NURJANAH, 2008
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar dan media realita pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Sape kabupaten Bima tahun pelajaran 12007-2008 serta untuk mengetahui manakah yang lebih efektif dari kedua media tersebut setelah sisw mengikuti pembelajaran menulis wacana
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan populasi siswa kelas XI SMA Negeri 1 sape kabupaten Bima sebanyak 30 siswa yang merupakan repsentatif secara proporsional dari siswa yang berjumlah 480 orang
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bahwa perbedaan kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar dan media realita adalah sebagai berikut :
  1. Secara individual kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar yang tergolong tinggi sebanyak 86, 67 % dan yang tergolong sedang sebanyak 13,33 % dengan indeks prestasi kelompok 74,3 termasuk dalam kategori normal
  2. Kemampuan menulis wacana menggunakan media realita secara individual mencapai kemampuan tinggi sebanyak 53,33 % dan yang tergolong sedang sebanyak 46,67 % dengan indek prestasi kelompok 65,6 termasuk kategori normal
  3. Berdasarkan indeks prestasi kelompok kedua kemampuan tersebut secara umum tidak berbeda
  4. Dari kedua media yang digunakan lebih efektif menggunakan media gambar karena secara individual kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar dengan kemampuan tinggi sebanyak 86, 67 % sedangkan media realita dengan kemampuan tinggi hanya sekitar 53, 33 %.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Manusia mempergunakan bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan. Bahasa sebagai milik manusia menjadi salah satu cirri pembeda antara manusia dengan mahluk lainnya (Tarigan, 1986 : 4 ). Dari pernyataan di atas, maka dapat dikemukakan bahwa bahasa merupakan hal yang penting dalam kehidupan, bahasa merupakan pembeda dengan mahluk lainnya, bahkan dengan bahasa dapat menunjukkan bangsa seseorang.
Di dalam Bahasa Indonesia ditemukan sejumlah ragam bahasa. Ragam bahasa merupakan salah satu dari sejumlah variasi dalam pemakaian bahasa. Variasi itu muncul karena pemakaian bahasa memerlukan alat komunikasi yang sesuai dengan situasi dan kondisi ( Sabaryanto, 1994 : 1 ). Dari penjelasan di atas, bahwa bahasa menempati tempat sentral dalam kehidupan. Oleh sebab itu kajian tentang bahasa harus selalu menempatkan kajian tersebut dalam hubungan dengan kehidupan manusia, karena tanpa bahasa, manusia tidak dapat hidup dan tanpa manusia yang hidup tidak akan ada bahasa. Hal ini telah diamanatkan dalam Tap MPR no. IV/MPR/1999, bahwa : 1) meniingkatkan kualitas komunikasi diberbagai bidang menlalui penguasaan dari penyerapan teknologi informasi dan komunikasi guna memperkuat daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan global ( Tap MPR : 1999 : 22 ). Dalam rangka mengembangkan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi, bangsa yang berkepribadian dan memiliki kesadaran , perlu ditemukan kemampuan masyarakat untuk mengangkat nilai- nilai sosial budaya yang luhur.
Kegiatan tulis menulis pada jaman yang modern dan era globalisasi ini mengalami kemajuan yang sangat pesat dan menuntut manusia untuk lebih meningkatkan kemampuan sumber daya untuk dapat bersosialisasi bersama masyarakat. Kemajuan ini dapat dilihat dari banyaknya buku, surat kabar, tabloid yang beredar di masyarakat. Untuk menghadapi perkembangan ini masyarakat khususnya pasa siswa seharusnya meningkatkan kebiasaan menulis. Menulis sebagai salah satu bentuk ketermpilan berbahasa, merupakan proses yang dilakukan seorang untuk menyampaikan gagasan, ide atau pesan kepada orang lain agar ide, gagasan atau pesan dapat dipahami oleh orang lain.
Agar keterampilan menulis dirasakan baik, salah satunya apabila seorang siswa melakukan latihan dan membuat bentuk-bentuk tulisan karangan. Keterampilan menulis sebuah karangan deskripsi pada siswa SMA berdasarkan penuturan beberapa guru bahasa Indonesia, masih banyak terjadi kesalahan terutama pada bentuk yang lebih mengarah ke bentuk karangan narasi. Selain kesalahan tersebut juga ditemukan kesalahan dalam penggunaan ejaan dan pernggunaan huruf kapital. Kesalahan penggunaan bentuk karangan kemungkinan diakibatkan kekurang pahaman siswa terhadap bentuk-bentuk karangan, kesalahan pada pembelajaran, penggunaan media yang tidak tepat, atau karena kurangnya latihan menulis yang diberikan dan dilakukan oleh siswa. Kemampuan mengarang pada siswa mempunyai hambatan – hambatan yang menyangkut penggunaan bahasa . Masih harus menghadapi ahli-ahli bahasa dan guru-guru bahasa yang menganggap bahwa pers sering meninggalkan kaidah-kaidah yang berlaku ( Purwadmadi 1992 : 2 ).
Pelajaran mengarang dahulu merupakan pelajaran yang sangat pokok. Mulai dari Sekolah dasar, menagrang mendapat perhatian yang sangat besar , tetapi sejak diberlakukannya Ebtanas maka perhatian ini mulai berkurang. Kurangnya perhatian mengarang disebabkan oleh beberapa sumber faktor, misalnya : terpusatnya penyampaian materi untuk persiapan Ebtanas, kurang difokuskannya buku-buku cerita diperpustakaan, buku paket yang isinya kurang bervariasi dan kurang menarik apabila digunakan sebagai bahan penunjang pelajaran mengarang.
Kegiatan berbahasa ada empat keterampilan yang berhubungan erat satu dengan lainnya yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Ke empat keterampilan tersebut, menulis merupakan proses yang paling diwariskan turun temurun, tetapi merupakan hasil proses belajar dan ketekunan berlatih, kemampuan ini berkaitan erat dengan kemampuan membaca. Pengarang atau penulis harus mengetahui makna yang terkandung pada setiap kata-kata merupakan pembangun pikiran dan pembicara seseorang.
Di lihat dari pengamatan tersebut peneliti tertarik untuk meneliti dan mengetahui sejauh mana efektifitas dua media yang digunakan yaitu media gambar dan media realita dalam menulis wacana pada siswa kelas XI SMAN 1 Sape yang nantinya akan sangat menunjang dalam pengajaran wacana. Oleh karena itu cukup beralasan bagi peneliti untuk melaksanakan penelitian tersebut agar mengetahui sejauh mana dalam membuat wacana dalam proses belajar mengajar dibutuhkan kehadiran du media tersebut, karena dengan dua media tersebut dapat mengatasi kebosanan, bisa menarik perhatian dan embangkitakn motivasi belajar siswa.
Pada dasarnya untuk memacu kreativitas dalam mengembangkan kemampuan menulis diperlukan media yang tepat, penggunaan media yang tepat membuat siswa lebih tertarik akan pelajaran, media dapat mendukung pelajaran mengarang secara keseluruhan. Pelajaran mengarang mengalami hambatan pada variasi media yang belum ada, media yang digunakan hanya papan tulis, dari bahan bacaan saja sehingga secara keseluruhan siswa akan dikurangi apabila guru bisa membuat variasi media yang lain. Pada akhirnya ada siswa tertentu yang kebingungan dalam mengerjakan tugasnya. Hambatan yang lain berupa hasil karangan siswa. Hasil penulisan siswa masih kurang baik, siswa masih dalam mengungkapkan gagasan pada karangan, kurangnya perhatian siswa pada ejaan dan tanda baca. Hal ini dikarenakan siswa tersebut kurang mempunyai informasi yang berkaitan dengan apa yang akan dikarangnya.Hal ini juga yang dilakukan guru, agar siswa dapat mengarang dengan tepat sesuai dengan perintah guru. Permasalahan yang timbul dalam menulis sebuah karangan adalah kurang mendapat porsi yang cukup, sehingga siswa terbiasa dalam menegemukakan secara tertulis tentang gagasan atau ide yang dituangkan oleh siswa tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan suatu masalah yang berkaitan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut : “ Bagaimanakah perbedaan kemampuan menulis wacana menggunakan media gambar dan media realita pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Sape Kabupaten Bima Tahun 2007-2008 ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yangdiharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Ingin mengetahui kemampuan menulis dalam mengajarkan wacana dengan media gambar
2. Ingin mengetahui kemampuan menulis dalam mengajarkan wacana dengan media realita
3. Ingin mengetahui efektifitas dari kedua media yang telah diujicobakan setelah siswa mengikuti pembelajaran menulis wacana.
1.4 Manfaat Penelitian
Suatu penelitian apapun bentuk kegiatannya diharapkan dapat bermanfaat, terutama untuk peneliti maupun untuk orang lain. Kegiatan penulisan ini berorientasi pada pembelajaran untuk itu manfaat yang utama adalah peningkatan hasil belajar.
Manfaat dalam penelitian ini dapat ditinjau secara teoritis, ecara akademis dan manfaat praktis.
  1. Manfaat secara Teoritis
1) Informasi yang diperoleh melalui penelitian ini, diharapkan bermanfaat sebagai
informasi tambahan bagi para ilmuwan di bidang pendidikan, terutama dalam kaitan
dengan professionalisme guru menggunakan media gambar dan media realita
2) Informasi yang diperoleh melalui penelitian ini, diharapkan dapat merangsang para
peneliti berikutnya untuk meneliti lebih mendalam mengenai strategi pembelajaran
guru Bahasa Indonesia dalam meningkatkan minat belajar siswa pada pembelajaran
dalam penulisan wacana
  1. Manfaat secara akademis
1) Hasil yang diperoleh melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan input atau
informasi yang berguna bagi SMAN 1 Sape (sekolah) khususnya dan SMA lainnya
pada umumnya tentang pembelajaran penggunaan media gambar dan realita dalam
penulisan wacana.
2) Informasi yang diperoleh melalui penelitian ini, diharapkan dapat merangsang para
peneliti berikutnya untuk meneliti lebih mendalam mengenai perbedaan penggunaan
media gambar dan media realita dalam penulisan wacana
  1. Manfaat secara Praktis
1) Hasil yang diperoleh melalui penelitian ini, diharapkan dapat memperkaya khzanah
ilmu khususnya bagi penulis dalam melengkapi data-data dalam penulisan penelitian
2) Bagi siswa, penelitian ini untuk mengetahui bentuk wacana dan media yang dapat c
mempermudah wacana, siswa terpacu untuk giat belajar dan berlatih menulis. Akhirnya manfaat dari penelitian ini adalah kemampuan siswa menulis wacana akan meningkat.