SELAMAT DATANG DI BLOG ANJAR SETIO PURNOMO, S.Pd.

Minggu, 03 Juni 2012

Pengaruh Uang terhadap Output dan Harga



A. Penawaran Uang (Jumlah Uang Beredar/JUB/Money Supply/MS)
Penawaran uang/MS adalah jumlah keseluruhan uang yang diedarkan bank pada waktu tertentu di sebuah ekonomi. Defini MS dapat dilihat sebagai berikut :
  • M0, yaitu definisi MS secara sempit. M0 hanya terdiri dari uang kartal, yaitu uang kertas dan logam yang kita pegang sehari-hari.
  • M1, yaitu M0 ditambah dengan demand deposit (dd). Dd adalah tabungan yang kita miliki di bank, yang dapat dicairkan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan. M1 ini merupakan perhitungan JUB yang sangat likuid.
  • M2, yaitu M1 ditambah dengan time deposit (td). Td adalah tabunga, deposito, dan sejenisnya, yang memiliki waktu jatuh tempo atau tidak dapat dicairkan sewaktu-waktu dibutuhkan.
  • M3, yaitu M2 ditambah dengan deposito jangka panjang, Ini meliputi dana-dana institusional yang ada dipasar uang.
Uang logam dan kertas hanya dapat dicetak oleh bank sentral, misalnya Bank Indonesia di Indonesia. Dalam jangka pendek, MS adalah konstan. Dalam perekonomian, uang dalam bentuk logam dan kertas hanya boleh dicetak oleh bank sentral. Namun bank umum juga dapat “mencetak” uang secara tidak langsung, seperti yang disebutkan diatas, melalui dd, td, dan deposito jangka panjang. Oleh sebab itu, bank sentral juga mengelola MS melalui berbagai kebijakan moneter yang akan menstimulasi bank-bank umum untuk bertindak sesuai arah yang diinginkan.
B. Permintaan Uang (money demand/MD)
Permintaan uang menunjukkan keseluruhan uang yang diminta oleh sebuah perekonomian pada periode tertentu.
Secara umum, ada tiga motif orang menggunakan uang :
  1. Motif transaksi (transactional motive). Permintaan uang untuk motif ini dapat disebut dengan MDt.
  2. Motif berjaga-jaga (precautionary motive). Permintaan uang untuk motif ini dapat disebut MDp.
  3. Motif spekulasi (speculation motive), atau MDs.
Permintaan uang untuk motif transaksi dan berjaga-jaga sangat dipengaruhi oleh pendapatan. Sedangkan permintaan uang untuk spekulasi sangat dipengaruhi oleh suku bunga.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi permintaan uang, diantaranya :
Pendapatan riil. Semakin tinggi pendapatan, permintaan akan uang akan semakin besar. Ini karena konsumsi dan tabungan akan bertambah seiring dengan meningkatnya pendapatan.
            Tingkat suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, permintan uang untuk motif spekulasi akan berkurang. Tingginya suku bunga akan membuat biaya pinjaman uang untuk berspekulasi bertambah mahal. Selain itu, jika tingkat suku bunga tinggi, orang akan lebih baik menabung di bank dengan jaminan suku bunga yang ada daripada berspekulasi.
Tingkat harga umum. Semakin tinggi tingkat harga umum, permintaan akan uang akan semakin bertambah. Ini karena harga barang/jasa bertambah mahal, sehingga dibutuhkan lebih banyak uang untuk membelinya.
Pengeluaran konsumen. Misalnya saja pengeluaran konsumen pada bulan-bulan menjelang Natal, puasa, atau Hari Raya lainnya akan bertambah. Akibatnya, permintaan uang juga akan bertambah.
Jumlah uang yang beredar dalam masyarakat ditentuin oleh kebijakan pemerintah. Pemerintah menentukan berapa banyak uang yang dicetak dan melalui kebijakan moneter mengontrol uang yang beredar. Jadi, penawaran uang ditentukan oleh kebijakan pemerintah.
Di sisi lain, masyarakat membutuhkan uang pula untuk membeli barang dan jasa. Banyaknya uang yang dibutuhkan oleh masyarakat ditentukan oleh satu faktor utama, yaitu harga-harga barang yang umum berlaku. Jadi, permintaan uang ditentukan oleh tingkat harga umum yang berlaku dalam masyarakat.
Permintaan dan penawaran akan uang pada sendirinya akan menyebabkan fluktuasi (perubahan) pada jumlah uang yang beredar. Contoh: Ketika pemerintah mencetak uang, maka jumlah uang yang beredar akan berubah menjadi lebih banyak. Pertambahan uang inilah yang disebut dengan MONEY GROWTH. Pertumbuhan uang ini sendiri menyebabkan naiknya harga-harga dan terjadilah inflasi.
Teori kuantitas uang (quantity theory of money) dapat menjelaskan fenomena inflasi dengan lebih detail. Tapi, sebelum mengaitkan pertumbuhan uang dengan teori kuantitas uang, kita perlu tahu 2 konsep dasar ekonomi, yaitu Classical Dichotomy and Monetary Neutrality.

Classical Dichotomy:
"Teori yang membagi variabel dalam ekonomi menjadi 2, yaitu variable nominal dan variable riil. Variabel nominal adalah variabel-variabel yang dapat diukur dengan satuan moneter (uang). Sebagai contoh harga barang. Sementara itu, variabel riil adalah variabel yang diukur dalam satuan selain satuan moneter. Sebagai contoh pengangguran. Kita mengukur pengangguran dengan satuan orang."
Monetary Neutrality:
"Konsep yang mengatakan bahwa kebijakan yang menyebabkan jumlah uang beredar berubah tidak memengaruhi variabel riil secara langsung."
Sekarang, setelah kita tahu tentang nilai uang, pertumbuhan uang, dan juga konsep classical dichotomy dan monetary neutrality, maka kita akan mencoba memahami hubungan semua hal-hal diatas dalam sebuah teori yang bernama Teori Kuantitas Uang (The Quantity Theory of Money)

Teori kuantitas uang secara singkat dapat dijelaskan dengan persamaan:
"MxV=PxY"
M=Jumlah uang yang beredar (variabel nominal),V=Kecepatan uang beredar (variabel riil), P=Tingkat harga yang berlaku (variabel nominal), Y=Jumlah barang dan jasa yang diproduksi (variabel riil) note: Kecepatan uang beredar (V) relatif stabil dalam jangka pendek maupun panjang.
Sebagian besar ahli makroekonomi percaya bahwa perbedaan penting antara jangka pendek dan jangka panjang adalah perilaku harga. Dalam jangka panjang, harga bersifat fleksibel dan bisa menanggapi perubahan dalam penawaran dan permintaan. Dalam jangka pendek, banyak harga bersifat “kaku” pada tingkat yang ditentukan sebelumnya.
 Pada jangka panjang, perubahan jumlah uang beredar tidak menyebabkan fluktuasi dalam output atau kesempatan kerja. Namun, pada jangka pendek banyak harga tidak menanggapi perubahan kebijakan moneter. Pengurangan jumlah uang beredar tidak langsung menyebabkan seluruh perusahaan memotong upah. Dengan kata lain, hanya terdapat sedikit perubahan langsung dalam banyak harga, atau harga-harga bersifat kaku/ sulit berubah (sticky). Kelakuan harga jangka pendek ini menunjukkan bahwa dampak jangka pendek dari perubahan jumlah uang beredar tidaklah sama sebagaimana dampak jangka panjang.
Model Penawaran Agregat dan Permintaan Agregat
Dalam teori makroekonomi klasik, jumlah output bergantung pada kemampuan perekonomian menawarkan barang dan jasa, yang sebaliknya bergantung pada suplai modal dan tenaga kerja serta pada kesediaan teknologi produksi. Harga fleksibel sendiri adalah asumsi penting dari teori klasik yang mana teori klasik ini menyatakan, yang kadang-kadang secara implisit, bahwa harga disesuaikan untuk menjamin bahwa kuantitas output yang diinginkan sama dengan kuantitas yang ditawarkan.
Perekonomian bekerja cukup berbeda apabila harga bersifat kaku. Dalam hal ini, sebagaimana kita lihat, output juga bergantung pada permintaan terhadap barang dan jasa. Permintaan sebaliknya dipengaruhi oleh pandangan konsumen tentang prospek ekonomi, pandangan perusahaan tentang keuntungan dari investasi baru serta kebijakan moneter dan fiskal. Karena kebijakan fiskal dan moneter bisa mempengaruhi output perekonomian selama horizon waktu ketika harga bersifat kaku, kekakuan harga menyediakan dasar pemikiran mengapa kebijakan ini berguna dalam menstabilkan perekonomian jangka pendek.
Permintaan agregat (aggregate demand, AD) adalah hubungan antara jumlah output yang diminta dan tingkat harga agregat. Dengan kata lain, kurva permintaan agregat menyatakan jumlah barang dan jasa yang ingin dibeli orang pada setiap tigkat harga.
Persamaan kuantitas sebagai permintaan agregat
Dimana M adalah jumlah uang yang beredar, V adalah perputaran uang, P adalah tingkat harga, dan Y adalah jumlah output. Jika perputaran uang adalah konstan, maka persamaan ini menyatakan bahwa jumlah uang yang beredar menentukan nilai nominal output, yang pada akhirnya merupakan produk dari tingkat harga dan jumlah output.
            Persamaan kuntitas bisa juga ditulis kembali dalam bentuk penawaran dan permintaan untuk keseimbangan uang riil:
Dimana k adalah  adalah parameter yang menentukan berapa  banyak uang yang orang ingin pegang untuk setiap dolar pendapatan. Dalam bentuk ini, persamaan kuantitas menyatakan bahwa penawaran dari keseimbangan uang riil  sama dengan permintaan  dan bahwa permintaan adalah proporsional terhadap output Y. Perputaran uang V adalah sisi lain dari parameter permintaan uang k. Asumsi perputaran uang konstan sama dengan asumsi bahwa permintaan untuk keseimbangan uang riil untuk tiap satuan output adalah konstan.
            Diasumsikan untuk setiap jumlah uang beredar M dan perputaran V tetap, persamaan kuantitas menghasilkan hubungan negatif antara tingkat harga P dan output Y.

Penawaran agregat (aggregate supply, AS) adalah hubungan antara jumlah barang dan jasa yang ditawarkan dan tingkat harga. Karena perusahaan yang menawarkan barang dan jasa memiliki harga yang fleksibel dalam jangka panjang tetapi harga yang kaku dalam jangka pendek, hubungan penawaran agregat tergantung pada horizon waktu.
Karena model klasik menjelaskan bagaimana perekonomian berperilaku dalam jangka panjang, kita turunkan kurva penawaran agregat jangka panjang dari model klasik. Kita juga telah mengetahui bahwa jumlah output yang diproduksi terantung pada jumlah modal dan tenaga kerja yang tetap serta pada teknologi yang tersedia. Untuk menunjukkan hal ini, kita menulis:
Y = F(K, L)
    = Y
Menurut model klasik, output tidak tergantung pada tingkat harga. Untuk menunjukkan bahwa output sama untuk semua tingkat harga

2.2  Mekanisme Transmisi
Mekanisme transmisi adalah seluruh model makro ekonomi yang mengandung penjelasan kuantitatif yang menunjukkan bagaimana perubahan variabel nominal membawa efek riil.
A. Mekanisme transmisi teori kuantitas uang tradisional
            Pada garis besarnya teori kuantitas uang tradisional menganut direct transmission mechanism yang kita sebut juga mekanisme transmisi langsung. Mekanisme transmisi yang langsung  menurut teori kuantitas tradisional  bekerjanya adalah sebagai berikut. Misalkan mula-mula perekonomian berada dalam keadaan ekuilibrium. Ini berarti bahwa jumlah uang beredar tepat sebesar jumlah jumlah uang yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan pendapatan nasional yang terjadi. Dengan menggunakan Cambridge Equation keadaan ekuilibrium yang dimaksud dapat diungkapkan dalam bentuk persamaan:
 
 
            Apabila suatu ketika terjadi peningkatan jumlah uang yang beredar (dengan kata lain nilai , money supply, naik), maka terjadilah disekuilibrium. Oleh karena  sekarang lebih besar daripada . Ini berarti bahwa jumlah uang yang dimiliki oleh rumah tangga-rumah tangga atau oleh individu-individu melebihi jumlah uang yang mereka inginkan. Keadaan seperti ini mendorong mereka untuk memperbesar pengeluaran konsumen mereka, oleh karena dengan cara demikian saldo kas mereka menurun berarti nilai PT, nilai PQ atau nilai y meningkat.
            Menurut Irving Fisher bahwa:
1.      Untuk masa transisi atau transition period nilai T (atau nilai Q kalau yang kita pakai Cambridge Equation) dapat mengalami perubahan. Sehingga dengan demikian meningkatnya nilai PT atau PQ dalam masa transisi dapat merupakan kombinasi peningkatan nilai P yang disertai pula oleh perubahan nilai T atau nilai Q. Ini mempunyai makna bahwa dalam masa transisi postulat proporsionalitas tidak berlaku.
2.      Apabila perekonomian telah mencapai keadaan ekuilibrium jangka panjang kembali, perekonomian akan berada dalam keadaan full employment. Dengan mendasarkan kepada asumsi cateris paribus, ini mempunyai makna bahwa baik T maupun G akan kembali ke nilai ekuilibrium jangka panjang yang sebelumnya. Ini membawa konsekuensi bahwa untuk jangka panjang, yaitu setelah periode transisi terlampaui, tingkat harga akan meningkat atau menurun searah dan proporsional dengan peningkatan atau penurunan jumlah uang yang beredar.


B.Mekanisme transmisi teori kuantitas modern
Teori kuantitas uang modern mengambil sikap untuk melanjutkan penggunaan mekanisme transmisi langsung.  Penganut teori kuantitas ini disebut kaum monetarist, dipelopori oleh Milton Friedman dalam artikelnya yang berjudul “The Quantity Theory of Money: A Restatement”. Menurutnya teori kuantitas uang itu pada dasarnya merupakan teori permintaan akan uang. Selanjutnya ia berpendapat bahwa apabila kita ingin menguraikan tentang variabel-variabel tesebut (yaitu variabel-variabel output, pendapatan nominal atau tingkat harga) maka perlu teori kuantitas uang tersebut dilengkapi dengan spesifikasi mengenai keadaan penawaran uang dan mungkin juga mengenai variabel-variabel lainnya.
            Dengan ungkapan yang sedikit berubah dengan ungkapan aslinya, Boorman dan Havrilesky menyebutkn bahwa ungsi permintaan akan uang menurut Friedman dalam “restatement of the quantity theory” adalah sebagai berikut:
Dimana:
 tingkat pendapatan (=rate of return) uang;
 tingkat pendapatan surat obligasi
C. Mekanisme Tranmisi Mazhab Keynes Tradisional
Keynes menggunakan asumsi bahwa kelebihan uang tunai oleh pemiliknya akan dipergunakan untuk membeli surat obligasi. Sebagai akibat dari bertambahnya permintaan akan surat obligasi, maka harga surat obligasi akan meningkat. Selanjutnya akan menurunkan tingkat bunga.
Dengan menurunnya tingkat bunga, maka dengan fungsi marginal efficiency of investment yang ada, timbul tendensi meningkatnya pengeluaran investasi masyarakat. Berubahnya pengeluaran investasi merupakan indikasi yang menunjukan bahwa sector nyata telah terjamah oleh gejala yang asal mulanya terjadi di sector moneter. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mekanisme transmisi kebijakan moneter terlaksana melalui fungsi marginal efficiency of investment.

D. Mekanisme Tranmisi Mazhab Keynes modern
Menurut madzab Keynes modern, mekanisme transmisi dipengaruhi oleh tiga hal yaitu: pengaruh biaya modal, pengaruh kekayaan, dan pengaruh penjatahan kredit.
Pengaruh Biaya Modal Dan Pengaruh Kekayaan. Pengaruh transmisi biaya modal dan pengaruh kekayaan bekerja dua arah, dimana yaitu berlaku melalui kebijakan moneter kontraksi maupun kebijakan moneter ekspansi. Meningkatnya jumlah uang yang beredar mengakibatkan meningkatnya permintaan akan surat obligasi. Meningkatnya surat obligasi ini mengakibatkan meningkatnya meningkatnya harga surat obligasi. Selanjutnya meningkatnya harga surat obligasi mengakibatkan menurunya tingkat bunga. Kemudian menurunya tingkat bunga akhirnya mengakibatkan meningkatnya harga-harga capital. Meninkatnya surat obligasi dan harga alat-alat capital yang telah memiliki aktiva merupakan peningkatan nilai aktiva. Denga demikian kekayaan atau wealt meningkat.
Pengaruh Penjatahan Kredit. Madzab Keynes modern menemukan kenyataan bahwa mekanisme harga tidak selalu berlaku. Apabila bank sentral menjalankan kebijakan moneter kontraksi dengan menaikan tingkat suku bunga. Tetapi meningkatnya tingkat suku bunga di pasar tidak selalu diikuti oleh bank-bamk umum maupun bank-bank tabungan yang berupa tindaan meningkatnya suku bunga tahunan. Di pihak lain tingkat bunga di pasar naik tendensinya banyak penabung dating ke bank untuk menarik tabungan mereka untuk dibelikan surat obligasi. Akibatnya terjadi financial disintermediation., sehingga kemampuan bank untuk memberikan kredit pinjaman juga menurun. Ini disebabka karena kelebihan permintaan akan kredit. Oleh karena itu bank mengambil kebijakan dengan cara menurunkan debt-equity ratio maksimum atau lebih dikenal dengan penjatahan kredit.

2.3 Kebijakan Untuk Mencapai Stabilitas
Untuk mencegah laju inflasi menjadi terlalu tinggi dibandingkan dengan laju yang sesuai dengan tujuan-tujuan masyarakat, maka pemerintah dan Bank Sentral harus bekerjasama untuk menjamin laju pertumbuhan peredaran uang yang sesuai dengan permintaan akan uang. Pertama-tama, Bank Sentral harus menjamin bahwa uang cadangan yang tersedia pada sistem perbankan tidak terlalu berlebihan. Namun harus pula disadari bahwa Bank Sentral juga harus menjamin jika cadangan uang yang ada cukup untuk memenuhi permintaan akan uang dalam masyarakat.
Seringkali terjadi suatu keadaan dimana Bank Sentral menekan bank-bank komersial secara ketat sehingga berakibat terkekangnya perekonomian negara yang bersangkutan, dan mungkin dapat menimbulkan depresi. Namun, secara umum permasalahan Bank Sentral adalah ketika melawan tekanan-tekanan politis yang mendorong Bank Sentral untuk menciptakan persediaan uang cadangan yang terlalu berlebihan.
Permasalahan ini menjadi lebih serius bagi negara-negara berkembang (contohnya Indonesia) karena beberapa alasan. Pertama, adanya keperluan likuiditas yang besar karena terjadinya kekurangan uang yang beredar. Semakin cepat pertumbuhan perekonomian, maka semakin mendesak pula kebutuhan akan peningkatan likuiditas. Di saat yang bersamaan, pemerintah juga akan mengalami tekanan-tekanan untuk semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki taraf kesejahteraan masyarakat, sehingga memungkinkan muculnya godaan yang besar dan tekanan politis yang hebat untuk memperbesar pengeluaran pemerintah. Semua pengeluaran itu tentunya harus dibiayai, dan salah satu caranya adalah dengan menambah uang yang beredar.
Untuk mencapai stabilitas keuangan, Bank Sentral memiliki wewenang untuk melakukan beberapa kebijakan moneter, sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free floating).
Ada 4 instrumen kebijakan yang dilakukan oleh Bank Sentral, yaitu:
1.      Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.
2.      Fasilitas Diskonto (Discount Rate)
Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum kadang-kadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.
3.      Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.
  1. Himbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar