SELAMAT DATANG DI BLOG ANJAR SETIO PURNOMO, S.Pd.

Kamis, 07 Juni 2012

MODEL PEMBELAJARAN TERPADU IPS

MODEL PEMBELAJARAN
TERPADU IPS
SMP/MTs/SMPLB
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NASIONAL
PUSAT KURIKULUM

KATA PENGANTAR
Pemberlakuan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan pendidikan yang semula bersifat sentralistik berubah menjadi desentralistik. Desentralisasi pengelolaan pendidikan dengan diberikannya wewenang kepada satuan pendidikan untuk menyusun kurikulumnya mengacu pada Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional dan pasal 35, mengenai standar nasional pendidikan.
Desentralisasi pengelolaan pendidikan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan kondisi daerah perlu segera dilaksanakan. Bentuk nyata dari desentralisasi pengelolaan pendidikan ini adalah diberikannya kewenangan kepada satuan pendidikan untuk mengambil keputusan berkenaan dengan pengelolaan pendidikan, seperti dalam pengelolaan kurikulum, baik dalam penyusunannya maupun pelaksanaannya di satuan pendidikan.
Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengacu pada standar nasional pendidikan: standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Salah satu tugas Pusat Kurikulum adalah mengembangkan model-model kurikulum berdiversifikasi sebagai bahan pertimbangan bagi BSNP untuk dapat menetapkan model-model kurikulum. Model-model tersebut adalah sebagai berikut ini.
1. Model Pengembangan Silabus Mata Pelajaran.
2. Model Pembelajaran Tematik Kelas Awal Sekolah Dasar.
3. Model Pengembangan Mata Pelajaran Muatan Lokal.
4. Model Pengembangan Diri.
5. Model Pembelajaran Terpadu IPA SMP.
6. Model Pembelajaran Terpadu IPS SMP.
7. Model Integrasi Pendidikan Kecakapan Hidup SMP dan SMA.
8. Model Penilaian Kelas.
9. Model KTSP SD
10. Model KTSP SMP
11. Model KTSP SMA
12. Model KTSP SMK
13. Model KTSP Pendidikan Khusus
Model-model ini bersama sumber-sumber lain dimaksudkan sebagai pedoman sekolah/madrasah dalam mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
1
(KTSP) jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, sehingga pengembangan kurikulum pada satuan pendidikan dapat memberi kesempatan peserta didik untuk : (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Salah satu model diatas adalah Model Pembelajaran Terpadu IPS SMP. Model ini memberi contoh bagi guru IPS di SMP untuk menyusun program kegiatan dan pelaksanaan kegiatan serta penilaiannya.
Pusat Kurikulum menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada banyak pakar yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, Direktorat di lingkungan Depdiknas, kepala sekolah, pengawas, guru, dan praktisi pendidikan, serta Depag. Berkat bantuan dan kerja sama yang baik dari mereka, contoh-contoh KTSP dan model-model ini dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.
Kepala Pusat Kurikulum
Badan Penelitian dan Pengembangan
Depdiknas,
Diah Harianti
2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I. Pendahuluan
A.
Latar Belakang ……………………………………………………………………………
2
B.
Tujuan……………………………………………………………………………………………
3
C.
Ruang Lingkup ………………………………………………………………………………
4
D.
Sistematika ………………………………………………………………………………….
4
Bab II. Kerangka Berpikir
A.
Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial ……………………………………………
5
B.
Karakteristik Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ………………
6
C.
Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial …………………….........
7
D.
Konsep Pembelajaran Terpadu dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)............
7
Bab III. Pelaksanaan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu
A.
Perencanaan …………………………………………………………………………………
10
B.
Model Pelaksanaan Pembelajaran ………………………………………………
18
C.
Penilaian ………………………………………………………………………………………
19
Bab IV Implikasi Pembelajaran IPS Terpadu
A.
Guru
22
B.
Siswa
24
C.
Bahan Ajar
24
D.
Sarana dan Prasarana
25
Lampiran:
1. Contoh Silabus dan Sistem Penilaian IPS Terpadu
25
2. Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran/Disain Pembelajaran IPS Terpadu
44
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), meliputi bahan kajian: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi. Bahan kajian itu menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mata pelajaran IPS bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa kehidupan masyarakat (Nursid Sumaatmaja, 1980;20)
Dalam implementasinya, perlu dilakukan berbagai studi yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan. Salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum, perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran kurikulum.
Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD/MI) sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA/MA). Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3).
Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara holistik, bermakna, otentik, dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi para peserta didik. Pengalaman belajar lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian yang relevan akan membentuk skema (konsep), sehingga peserta didik akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar, pengetahuan, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan dan dunia nyata hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu (Williams, 1976:116).
Namun demikian, pelaksanaannya di sekolah SMP/MTs pembelajaran IPS sebagian besar masih dilaksanakan secara terpisah. Pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran IPS masih dilakukan sesuai dengan bidang kajian masing-masing (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi) tanpa ada keterpaduan di dalamnya. Hal ini tentu saja menghambat ketercapaian tujuan IPS itu sendiri yang dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang
4
ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, budaya). Hal ini disebabkan antara lain: (1) kurikulum IPS itu sendiri tidak menggambarkan satu kesatuan yang terintegrasi, melainkan masih terpisah-pisah antarbidang ilmu-ilmu sosial; (2) latar belakang guru yang mengajar merupakan guru disiplin ilmu seperti geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi, antropologi sehingga sangat sulit untuk melakukan pembelajaran yang memadukan antardisiplin ilmu tersebut; serta (3) terdapat kesulitan dalam pembagian tugas dan waktu pada masing-masing guru ”mata pelajaran” untuk pembelajaran IPS secara terpadu. (4) meskipun pembelajaran terpadu bukan merupakan hal yang baru namun para guru di sekolah tidak terbiasa melaksanakannya sehingga ”dianggap” hal yang baru.
Atas dasar pemikiran di atas, maka dalam rangka implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta untuk memenuhi ketercapai pembelajaran, maka diperlukan pedoman pelaksanaan model pembelajaran IPS Terpadu pada tingkat SMP/MTs. Hal ini penting, untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran terpadu yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret dalam kerangka implementasi Standar Kompetensi Dan Kompetensi Dasar.
B. Tujuan
Tujuan penyusunan model pembelajaran IPS Terpadu pada tingkat SMP/MTs pada dasarnya untuk memberikan pedoman yang dapat dijadikan sebagai kerangka acuan bagi guru dan pihak terkait. Secara rinci, penyusunan model ini diantaranya bertujuan untuk:
1) memberikan wawasan dan pemahaman tentang pembelajaran terpadu, khususnya paduan pembelajaran IPS pada tingkat SMP/MTs;
2) membimbing guru agar memiliki kemampuan melaksanakan pembelajaran terpadu antardisiplin ilmu-ilmu sosial pada mata pelajaran IPS;
3) memberikan keterampilan kepada guru untuk dapat menyusun rencana pembelajaran dan penilaian secara terpadu dalam pembelajaran IPS;
4) memberikan wawasan, pengetahuan, dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga mereka dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran dan ketepatan pelaksanaan pembelajaran terpadu; dan
5) memberikan acuan dasar dalam pelaksanaan pembelajaran IPS Terpadu di SMP/MTs.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penyusunan model pembelajaran IPS Terpadu antara lain mencakup hal-hal berikut.
1. Pemetaan kompetensi yang dapat dipadukan dari masing-masing Kompetensi Dasar yang sudah ditetapkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk IPS tingkat SMP/MTs.
2. Pengembangan strategi model pembelajaran IPS Terpadu pada tingkat SMP/MTs.
3. Pengembangan penilaian model pembelajaran IPS Terpadu pada tingkat SMP/MTs.
5
4. Pengembangan contoh model rencana pembelajaran IPS Terpadu pada tingkat SMP/MTs untuk kelas VII, VIII, dan IX.
D. Sistematika
Model Pembelajaran IPS Terpadu memuat beberapa keterpaduan antar-Kompetensi Dasar. Model ini juga menyangkut apa dan bagaimana seorang guru di SMP/MTs mengembangkan dan melaksanakan model tersebut. Sistematika Panduan Pengembangan Pembelajaran IPS Terpadu SMP/MTs terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut.
Bab satu, merupakan pendahuluan yang memuat penjelasan tentang latar belakang serta pentingnya keberadaan pedoman. Selain itu juga mengungkapkan tujuan serta sistematika sajian.
Bab dua, berisi penjelasan tentang kerangka berpikir yang mencakup tentang karakteristik, tujuan, konsep keterpaduan IPS, dan model keterpaduan berdasarkan topik.
Bab tiga, berisi tentang strategi pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu, yang menjelaskan tahapan tentang perencanaan (meliputi pemetaan Kompetensi Dasar, pemilihan topik, penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam indikator, penyusunan silabus, dan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), pelaksanaan pembelajaran (meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir serta tindak lanjut), dan penilaian (meliputi tahapan penilaian dan penentuan kriteria ketuntasan belajar).
Bab empat, berisi tentang implikasi pembelajaran IPS Terpadu yang menjelaskan peran guru, peserta didik, serta sarana dan prasarana pembelajaran.
Lampiran
Model pembelajaran IPS Terpadu SMP
6
BAB II
KERANGKA BERPIKIR
A. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.
Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial.
Sejarah
Geografi
Sosiologi
Ilmu
Pengetahuan Sosial
Antropologi
Filsafat
Psikologi Sosial
Ekonomi
Ilmu Politik
Gambar 1. Keterpaduan Cabang Ilmu Pengetahuan Sosial
7
B. Karakteristik Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Karateristik mata pelajaran IPS SMP/MTs antara lain sebagai berikut.
1. Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama (Numan Soemantri, 2001).
2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi pokok bahasan atau topik (tema) tertentu.
3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yang dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.
4. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan dan jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).
5. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS menggunakan tiga dimensi dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial serta kehidupan manusia secara keseluruhan. Ketiga dimensi tersebut terlihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Dimensi IPS Dalam Kehidupan Manusia
Dimensi dalam kehidupan manusia
Ruang
Waktu
Nilai/Norma
Area dan substansi pembelajaran
Alam sebagai tempat dan penyedia potensi sumber daya
Alam dan kehidupan yang selalu berproses, masa lalu, saat ini, dan yang akan datang
Kaidah atau aturan yang menjadi perekat dan penjamin keharmonisan kehidupan manusia dan alam
Contoh Kompetensi Dasar yang dikembang-kan
Adaptasi spasial dan eksploratif
Berpikir kronologis, prospektif, antisipatif
Konsisten dengan aturan yang disepakati dan kaidah alamiah masing-masing disiplin ilmu
Alternatif penyajian dalam mata pelajaran
Geografi
Sejarah
Ekonomi, Sosiologi/Antropologi
Sumber: Sardiman, 2004
8
C. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998).
1. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
2. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
3. Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
4. Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
5. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.
D. Konsep Pembelajaran Terpadu dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Salah satu di antaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar. Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.
Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.
9
1. Model Integrasi Berdasarkan Topik
Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan topik yang terkait, misalnya ‘Kegiatan ekonomi penduduk’. Kegiatan ekonomi penduduk dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam IPS. Kegiatan ekonomi penduduk dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi.
Secara sosiologis, Kegiatan ekonomi penduduk dapat mempengaruhi interaksi sosial di masyarakat atau sebaliknya. Secara historis dari waktu ke waktu kegiatan ekonomi penduduk selalu mengalami perubahan. Selanjutnya penguasaan konsep tentang jenis-jenis kegiatan ekonomi sampai pada taraf mampu menumbuhkan krteatifitas dan kemandirian dalam melakukan tindakan ekonomi dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi.
Skema berikut memberikan gambaran keterkaitan suatu topik/tema dengan berbagai disiplin ilmu.
Gambar 2: Model Integrasi IPS Berdasarkan Topik/Tema
Geografi
Sejarah
Kegiatan ekonomi penduduk
Sosiologi
Ekonomi
2.3 Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial
2.4 Menguraikan proses interaksi sosial
5.1 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan pada masa Hindu-Buddha, serta peninggalan-peninggalannya
5.2 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peninggalannya
5.3 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan pada masa Kolonial Eropa
6.2 kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa
6.3 Mendeskripsikan peran badan usaha, termasuk koperasi, sebagai tempat berlangsungnya proses produksi dalam kaitannya dengan pelaku ekonomi
6.4 Mengungkapkan gagasan kreatif dalam tindakan ekonomi untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan
Mendeskripsikan 6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan dan pola permukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi
a. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama
Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka peserta didik selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam IPS .
10
Geografi Sosiologis
• Potensi objek wisata
• Memupuk aspirasi terhadap kesenian
Sejarah Ekonomi
• Perkembangan masyarakat setempat
Azas manfaat terhadap
kesejahteraan penduduk
BALI SEBAGAI DAERAH WISATA
1.1 Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan
4.1 Menggunakan peta, atlas, dan globe untuk
mendapatkan informasi keruangan
4.2 Membuat sketsa dan peta wilayah yang
menggambarkan objek geografi
4.3 Mendeskripsikan kondisi geografis dan
penduduk
5.1 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan pada masa Hindu-Budha, serta peninggalan-peninggalannya
2.1 Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial
6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan dan pola permukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi
6.2 Mendeskripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa
6.3 Mendeskripsikan peran badan usaha, termasuk koperasi, sebagai tempat berlangsungnya proses produksi dalam kaitannya dengan pelaku ekonomi
6.4 Mengungkapkan gagasan kreatif dalam tindakan ekonomi untuk
mencapai kemandirian dan kesejahteraan
Gambar 3: Model Integrasi IPS Berdasarkan Potensi Utama
3. Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan
Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Tenaga Kerja Indonesia”. Pada pembelajaran terpadu, Tenaga Kerja Indonesia ditinjau dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah faktor geografi, ekonomi, sosiologi, dan historis.
Segi Geografi Segi Ekonomi
Tenaga Kerja Indonesia
2.2 Mendeskripsikan sosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian
4.2 Membuat sketsa dan peta wilayah yang menggambarkan objek geografi
1.1 Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan
segi Historis
3.1 Mendeskripsikan manusia sebagai
makhluk sosial dan ekonomi yang
bermoral dalam memenuhi kebutuhan
3.2 Mengidentifikasi tindakan ekonomi
berdasarkan motif dan prinsip ekonomi
dalam berbagai kegiatan sehari-hari
Segi Sosiologis
Gambar 4. Model Integrasi IPS Berdasarkan Permasalahan
11
BAB III
STRATEGI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
ILMU PENGETAHUAN SOSIAl TERPADU
a. Perencanaan
Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran terpadu bergantung pada kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi dan potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Untuk menyusun perencanaan pembelajaran terpadu perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini.
1. Pemetaan Kompetensi Dasar
2. Penentuan Topik/tema
3. Penjabaran (perumusan) Kompetensi Dasar ke dalam indikator sesuai topik/tema
4. Pengembangan Silabus
5. Penyusunan Desain/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Langkah-langkah tersebut secara rinci dijelaskan sebagai berikut ini.
1. Pemetaan Kompetensi Dasar
Langkah pertama dalam pengembangan model pembelajaran terpadu adalah melakukan pemetaan pada semua Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar bidang kajian IPS per kelas yang dapat dipadukan. Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh.
Kegiatan yang dapat dilakukan pada pemetaan ini antara lain dengan:
1) mengidentifikasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat dipadukan dalam satu tingkat kelas yang sama; dan
2) menentukan tema/topik pengikat antar-Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
Beberapa ketentuan dalam pemetaan Kompetensi Dasar dalam pengembangan model pembelajaran terpadu IPS adalah sebagai berikut.
a. Mengidentifikasikan beberapa Kompetensi Dasar dalam berbagai Standar Kompetensi yang memiliki potensi untuk dipadukan.
b. Beberapa Kompetensi Dasar yang tidak berpotensi dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran. Kompetensi Dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan/disajikan secara tersendiri.
c. Kompetensi Dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua Standar Kompetensi yang ada pada mata pelajaran IPS pada kelas yang sama, melainkan memungkinkan hanya dua atau tiga Kompetensi Dasar saja.
d. Kompetensi Dasar yang sudah dipetakan dalam satu topik/tema masih bisa dipetakan dengan topik/tema lainnya.
Berikut ini contoh pemetaan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat diintegrasikan/dipadukan.
12
Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu (Link-1)
Kelas VII
No.
Geografi
Ekonomi
Sejarah
Sosiologi
1.
Semester 2
6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan, dan pola permukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.
Semester 2
6.2 Mendeskrip-sikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.
Semester 1
5.1 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Hindu-Buddha, serta peninggalan-peningalannya
5.2 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peningalannya
5.3 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Kolonial Eropa
Semester 1
2.3 Meng-identifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial
2.4 Menguraikan proses interaksi sosial
2
Semester 1
1.1 Mendes-kripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan
Semester 1
6.4. Menggu-nakan gagasan kreatif dalam tindakan ekonomi untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan
Semester 2
5.1 Mendes-kripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Hindu-Budha di Indonesia, serta peninggalan-peninggalannya
Semester 1
2.1 Mendes-kripsikan interaksi sebagai proses sosial.
Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu
Kelas VIII
No.
Geografi
Sosiologi
Ekonomi
Sejarah
1
Semester 1
1.2 Mengidenti-fikasi permasalahan kependudukan dan upaya penanggulangan nya
1.4 Mendeskrip-sikan permasalahan kependudukan dan dampaknya terhadap pembangunan
Semester 1
3.1 Mengidentifikasi berbagai penyakit sosial (miras, judi, narkoba, HIV/Aids, PSK, dan sebagainya) sebagai akibat penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat
3.2 Mengidentifikasi berbagai usaha pencegahan
Semester 1
4.1. Mendes-kripsikan hubungan antara kelangkaan sumber daya dengan kebutuhan manusia yang tidak terbatas
Semester 2
7.1. Mendes-kripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja sebagai sumber daya dalam kegiatan ekonomi, serta peranan pemerintah dalam
13
penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat
upaya penainggulangannya
2
Semester 1
1.1 Mendeskripsikan kondisi fisik wilayah dan penduduk
Semester 2
6.1 Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat
Semester 2
7.1. Mendes-kripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja sebagai sumber daya dalam kegiatan ekonomi, serta peranan pemerintah dalam upaya penainggulangannya
7.2. Mendes-kripsikan pelaku-pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia
7.3. Mendes-kripsikan fungsi pajak dalam perekonomian nasional
--
3.
Semester 2
1.3 Mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup dan upaya penang-gulangannya dalam pembangunan berkelanjutan.
Semester 2
6.1 Mendeskripsikan bentuk-bentuk hubungan sosial
6.2 Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat
6.3 Mendeskripsikan upaya pengendalian penyimpangan sosial
Semester 2
4.1 Mendeskripsikan hubungan antara kelangkaan sumber daya dengan kebutuhan manusia yang tidak terbatas
2.1 Menjelaskan proses perkembangan kolonialisme dan imperialisme Barat, serta pengaruh yang ditimbulkannya di berbagai daerah di Indonesia.
Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu
Kelas IX
No.
Geografi
Sosiologi
Ekonomi
Sejarah
1
Semester 1
1.1 Mengi-dentifikasi ciri-ciri negara berkembang dan negara maju.
Semester 1
3.1 Mendeskripsikan perubahan sosial-budaya pada masyarakat
3.2 Menguraikan tipe-tipe perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan.
Semester 1
4.2. Mendes-kripsikan perdagangan internasio-nal dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
Semester 1
2.1. Mendes-kripsikan peristiwa-peristiwa politik dan ekonomi Indonesia pasca pengakuan kedaulatan
2
Semester 2
5.2 Mendes-kripsikan keterkaitan unsur-unsur geografis
Semester 2
7.3 Mengurai-kan perilaku masyarakat
Semester 2
7.4 Mendeskripsikan kerjasama antarnegara di
Semester 2
7.1 Menjelaskan berakhirnya masa Orde Baru dan
14
dan penduduk di kawasan Asia Tenggara
5.3 Mendeskrip-sikan pembagian permukaan bumi atas benua dan samudera.
dalam perubahan sosial-budaya di era global
bidang ekonomi
7.5.Mengiden-tifikasi dampak kerjasama antarne-gara terhadap perekonomian Indonesia
lahirnya Reformasi
7.2 Mengurai-kan perkem-bangan lembaga internasi-onal dan peran Indonesia dalam kerjasama interna-sional
3.
Semester 2
5.1 Menginterpretasi-kan peta tentang bentuk dan pola muka bumi.
Semester 1
3.1 Mendeskripsi-kan perubahan sosial-budaya pada masyarakat
3.2 Menguraikan tipe-tipe perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan
Semester 1
4.1 Mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan.
Semester 2
7.2 Menguraikan perkembangan lembaga-lembaga internasional dan peran Indonesia dalam kerjasama internasional
2. Penentuan Topik/Tema dan Materi Pokok (Link-2)
Setelah pemetaan Kompetensi Dasar selesai, langkah selanjutnya dilakukan penentuan topik/tema dan materi pokok. Topik/tema dan materi pokok harus relevan dengan Kompetensi Dasar yang telah dipetakan. Dengan demikian, dalam satu mata pelajaran IPS pada satu tingkatan kelas terdapat beberapa topik yang akan dibahas.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan topik/tema pada pembelajaran IPS Terpadu antara lain meliputi hal-hal berikut.
a. Topik, dalam pembelajaran IPS Terpadu, merupakan perekat antar-Kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu rumpun mata pelajaran IPS.
b. Topik yang ditentukan selain relevan dengan Kompetensi-kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu tingkatan kelas atau semester, juga sebaiknya relevan dengan pengalaman pribadi peserta didik, dalam arti sesuai dengan keadaan lingkungan setempat. Hal ini agar pembelajaran yang dilakukan dapat lebih bermakna bagi peserta didik; misalnya, untuk kelas VII disajikan contoh topik/tema yaitu: Kegiatan ekonomi penduduk.
c. Dalam menentukan topik, isu sentral yang sedang berkembang saat ini, dapat menjadi prioritas yang dipilih dengan tidak mengabaikan keterkaitan antar-Kompetensi Dasar yang telah dipetakan. Contohnya, Pemberlakuan Otonomi Daerah, Pertumbuhan Industri, Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung, Pasca Gempa Bumi dan Tsunami, Penyakit Folio, Penyakit Busung Lapar, Gempa Bumi di Yogyakarta, Masalah semburan lumpur di Sidoarjo.
d. Materi pokok yang ditentukan merupakan materi yang mencerminkan keterpaduan antar Kompetensi Dasar.
Berikut ini beberapa contoh Topik yang relatif relevan dengan pemetaan Kompetensi Dasar
15
Kelas VII SMP
1) Topik: Kegiatan Ekonomi Penduduk
No
Geografi
Ekonomi
Sejarah
Sosiologi
Materi Pokok
1.
Semester 2
6.2 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan, dan pola permukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.
Semester 2
6.2 Mendeskripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.
Semester 1
5.1 Mendeskripsi-kan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Hindu-Buddha, serta peninggalan-peningalannya
5.2 Mendeskripsi-kan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peningalannya
5.3 Mendeskripsi-kan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Kolonial Eropa
Semester 1
2.3 Meng-identifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial
2.4 Menguraikan proses interaksi sosial
- Kaitan kondisi fisik permukaan bumi dengan penggunaan lahan.
- Kegiatan pokok ekonomi (produksi, distribusi, dan konsumsi).
- Perkem-bangan perekonomian penduduk dari masa hindu Budha, Islam, sampai dengan kolonial Eropa.
- Bentuk-bentuk interaksi sosial dalam kegiatan ekonomi penduduk.
Kelas VIII SMP
2) Topik : Pelestarian Lingkungan
No
Geografi
Sosiologi
Ekonomi
Sejarah
Materi Pokok
1.
Semester 2
1.3 Mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup dan upaya penang-gulangannya dalam pembangunan berkelanjutan.
Semester 2
6.2 Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat
6.3 Mendeskripsikan upaya pengendalian penyimpangan sosial
Semester 2
4.1 Mendeskripsikan hubungan antara kelangkaan sumber daya dengan kebutuhan manusia yang tidak terbatas
Semester 1
2.1 Menjelaskan proses perkembangan kolonialisme dan imperialisme Barat, serta pengaruh yang ditimbulkannya di berbagai daerah di Indonesia.
Faktor-faktor penyebab kerusakan lingkungan (faktor alam dan faktor manusia).
Bentuk-bentuk kerusakan lingkungan.
Upaya-upaya pelestarian lingkungan.
16
Kelas IX SMP.
3) Topik: Globalisasi
No.
Geografi
Sosiologi
Ekonomi
Sejarah
Materi Pokok
1
Semester 2
5.2 Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur geografis dan penduduk di kawasan Asia Tenggara
5.3 Mendeskrip-sikan pembagian permukaan bumi atas benua dan samudera.
Semester 2
7.3 Mengurai-kan perilaku masyarakat dalam perubahan sosial-budaya di era global
Semester 2
7.5 Mendeskripsikan kerjasama antarnegara di bidang ekonomi
7.5.Mengiden-tifikasi dampak kerjasama antarnegara terhadap perekonomian Indonesia
Semester 2
7.3 Menjelaskan berakhirnya masa Orde Baru dan lahirnya Reformasi
7.4 Mengurai-kan perkem-bangan lembaga internasi-onal dan peran Indonesia dalam kerjasama interna-sional
Ciri-ciri globalisasi
Faktor-faktor pendorong terjadinya globalisasi.
Dampak globalisasi terhadap ekonomi, politik, dan sosial-budaya.
3. Penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam Indikator
Setelah melakukan langkah Pemetaan Kompetensi Dasar, Penentuan Topik/Tema dan materi pokok sebagai pengikat keterpaduan dan langkah selanjutnya adalah mengembangkan indikator. Indikator dikembangkan berdasarkan Kompetensi-kompetensi Dasar dengan memperhatikan materi pokok yang nantinya digunakan untuk penyusunan silabus.
Contoh perumusan Kompetensi Dasar ke dalam berbagai indikator pencapaian dengan tema “Kegiatan Ekonomi Penduduk”
Kompetensi Dasar Geografi:
6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan,
dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.
Kompetensi Dasar Sosiologi:
1.1 Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial.
Kompetensi Dasar Ekonomi:
6.2 Mendeksripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan
konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.
Kompetensi Dasar Sejarah:
5.2 Mendeksripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peninggalannya.
Materi Pokok :
- Kaitan kondisi fisik permukaan bumi dengan penggunaan lahan.
- Kegiatan pokok ekonomi (produksi, distribusi, dan konsumsi).
- Perkembangan perekonomian penduduk dari masa Hindu-Budha, Islam, sampai dengan kolonial Eropa.
- Bentuk-bentuk interaksi sosial dalam kegiatan ekonomi penduduk.
17
Perumusan indikatornya:
• Mengidentifikasikan mata pencaharian penduduk (pertanian, nonpertanian).
• Mendeskripsikan bentuk penggunaan lahan di pedesaan dan perkotaan.
• Mendiskripsikan persebaran permukiman penduduk di berbagai bentang lahan dan mengungkapkan alasan penduduk memilih bermukim di lokasi tersebut.
• Menguraikan kegiatan konsumsi barang dan jasa.
• Menguraikan kegiatan produksi barang dan jasa.
• Menguraikan kegiatan distribusi barang dan jasa.
• Menjelaskan perkembangan perekonomian penduduk dari masa Hindu Budha, Islam, sampai dengan kolonial Eropa.
• Mengidentifikasi pola-pola keselarasan sosial di masyarakat dalam kegiatan ekonomi.
• Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial dalam kegiatan ekonomi penduduk.
4. Penyusunan Silabus
Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada langkah-langkah sebelumnya dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan silabus pembelajaran terpadu. Komponen penyusunan silabus terdiri dari Standar Kompetensi IPS (Sosiologi, Sejarah, Geografi, dan Ekonomi), Kompetensi Dasar, Indikator, Pengalaman belajar, alokasi waktu, dan penilaian. Contoh format penyusunan silabus pembelajaran IPS terpadu adalah sebagai berikut.
CONTOH FORMAT SILABUS IPS TERPADU
SATUAN PENDIDIKAN : ..................
MATA PELAJARAN : ..................
KELAS : ..................
TOPIK : ...................
Indikator
Penilaian
STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR
Kegiatan Pembelajaran
Teknik
Bentuk Instrumen
Contoh Instrumen
Alokasi waktu
Sumber Belajar
Contoh silabus sesuai tema-tema lihat pada lampiran
18
5. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)/Skenario Pembelajaran
Setelah tersusun silabus, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran tersebut merupakan realisasi dari pengalaman belajar peserta didik yang telah ditentukan pada silabus pembelajaran terpadu. Komponennya terdiri atas: identitas mata pelajaran, Kompetensi Dasar yang hendak dicapai, materi pokok beserta uraiannya, langkah pembelajaran, alat media yang digunakan, penilaian dan tindak lanjut, serta sumber bahan yang digunakan. Contoh format desain/rencana pembelajaran terpadu adalah sebagai berikut.
Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran/ Skenario Pembelajaran Terpadu IPS lihat Lampiran.
CONTOH FORMAT
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPS TERPADU
Mata Pelajaran : ......................
Satuan Pendidikan : ......................
Kelas/Semester : ......................
Topik/Tema : ......................
Alokasi Waktu : ......................
A. Kompetensi Dasar dan Indikator
........................................
B. Tujuan Pembelajaran
........................................
C. Materi Pembelajaran
.......................................
D. Metode Pembelajaran
...........................................
E. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1
Tahapan
Kegiatan
Alokasi Waktu
Kegiatan Awal

Kegiatan Inti

Penutup

Pertemuan Ke-2
Tahapan
Kegiatan
Alokasi Waktu
Kegiatan Awal

19
Kegiatan Inti

Penutup

F. Sumber, Alat, dan Media Pembelajaran
..............................................
G. Penilaian:
• Tehnik
• Bentuk Instrumen
• Instrumen
Jakarta, ..............
Mengetahui, Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran.....,
.................................. ...................................
NIP.......................... NIP...............................
B. Model Pelaksanaan Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan (Awal)
Kegiatan pendahuluan (introduction) pada dasarnya merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran terpadu. Fungsinya terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Efisiensi waktu dalam kegiatan pendahuluan pembelajaran terpadu ini perlu diperhatikan, karena waktu yang tersedia untuk kegiatan tersebut relatif singkat, berkisar antara 5-10 menit. Dengan waktu yang relatif singkat tersebut diharapkan guru dapat menciptakan kondisi awal pembelajaran dengan baik, sehingga dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu peserta didik sudah siap untuk mengikuti pelajaran dengan seksama.
Kegiatan utama yang dilaksanakan dalam pendahuluan pembelajaran ini di antaranya untuk menciptakan kondisi-kondisi awal pembelajaran yang kondusif, melaksanakan kegiatan apersepsi (apperception), dan penilaian awal (pre-test). Penciptaan kondisi awal pembelajaran dilakukan dengan cara: mengecek atau memeriksa kehadiran peserta didik (presence, attendance), menumbuhkan kesiapan belajar peserta didik (readiness), menciptakan suasana belajar yang demokratis, membangkitkan motivasi belajar peserta didik, dan membangkitkan perhatian peserta didik. Melaksanakan apersepsi (apperception) dilakukan dengan cara: mengajukan pertanyaan tentang bahan pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya dan memberikan komentar terhadap jawaban peserta didik, dilanjutkan dengan mengulas materi pelajaran yang akan dibahas. Melaksanakan penilaian awal dapat dilakukan dengan cara lisan pada beberapa peserta didik yang dianggap mewakili seluruh peserta didik, bisa juga penilaian awal ini dalam prosesnya dipadukan dengan kegiatan apersepsi.
20
2. Kegiatan Inti Pembelajaran
Kegiatan inti merupakan kegiatan dalam rangka pelaksanaan pembelajaran terpadu yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik (learning experiences). Pengalaman belajar tersebut bisa dalam bentuk kegiatan tatap muka dan nontatap muka. Pengalaman belajar tatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan mengembangkan bentuk-bentuk interaksi langsung antara guru dengan peserta didik, sedangkan pengalaman belajar nontatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar lain yang bukan kegiatan interaksi guru-peserta didik.
Kegiatan inti dalam pembelajaran terpadu bersifat situasional, dalam arti perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat proses pembelajaran itu berlangsung. Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu. Kegiatan paling awal yang perlu dilakukan guru adalah memberitahukan tujuan atau Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik beserta garis-garis besar materi/bahan pembelajaran yang akan dipelajari. Hal ini perlu dilakukan agar peserta didik mengetahui sejak awal kemampuan-kemampuan apa saja yang akan diperolehnya setelah proses pembelajaran berakhir. Cara yang cukup praktis untuk memberitahukan tujuan atau kompetensi tersebut kepada peserta didik bisa dilakukan dengan cara tertulis atau lisan, atau kedua-duanya. Guru menuliskan tujuan/kompetensi tersebut di papan tulis dilanjutkan dengan penjelasan secara lisan mengenai pentingnya tujuan/kompetensi tersebut dikuasai peserta didik.
Kegiatan lainnya di awal kegiatan inti pembelajaran terpadu yaitu menjelaskan alternatif kegiatan belajar yang akan dialami peserta didik. Dalam tahapan ini guru perlu menyampaikan kepada peserta didik tentang kegiatan-kegiatan belajar yang harus ditempuh peserta didik dalam mempelajari tema/topik, atau materi pembelajaran terpadu. Kegiatan belajar yang ditempuh peserta didik dalam pembelajaran terpadu lebih diutamakan pada terjadinya proses belajar yang berkadar aktivitas tinggi. Pembelajaran berorientasi pada aktivitas peserta didik, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan-kemudahan kepada peserta didik untuk belajar. Peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri apa yang dipelajarinya, sehingga prinsip-prinsip belajar dalam teori konstruktivisme dapat dijalankan.
Dalam membahas dan menyajikan materi/bahan pembelajaran terpadu harus diarahkan pada suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik. Penyajian bahan pembelajaran harus dilakukan secara terpadu melalui penghubungan konsep dari mata pelajaran satu dengan konsep mata pelajaran lainnya. Dalam hal ini, guru harus berupaya menyajikan bahan pelajaran dengan strategi mengajar yang bervariasi, yang mendorong peserta didik pada upaya penemuan pengetahuan baru. Kegiatan pembelajaran terpadu bisa dilakukan melalui kegiatan pembelajaran secara klasikal, kelompok, dan perorangan.
3. Kegiatan Akhir (Penutup) dan Tindak Lanjut
21
Kegiatan akhir dalam pembelajaran terpadu tidak hanya diartikan sebagai kegiatan untuk menutup pelajaran, tetapi juga sebagai kegiatan penilaian hasil belajar peserta didik dan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan tindak lanjut harus ditempuh berdasarkan pada proses dan hasil belajar peserta didik. Waktu yang tersedia untuk kegiatan ini relatif singkat, oleh karena itu guru perlu mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Secara umum kegiatan akhir dan tindak lanjut dalam pembelajaran terpadu di antaranya:
�� menyimpulkan pelajaran dan kegiatan refleksi;
�� melaksanakan penilaian akhir (post test);
�� melaksanakan tindak lanjut pembelajaran melalui kegiatan pemberian tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, dan memberikan motivasi atau bimbingan belajar; dan
�� mengemukakan topik yang akan dibahas pada waktu yang akan datang, dan menutup kegiatan pembelajaran.
C. Penilaian
Objek dalam penilaian pembelajaran terpadu mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Penilaian proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik, sedangkan penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kriteria tertentu. Hasil belajar tersebut pada hakikatnya merupakan pencapaian kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi tersebut dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Penilaian proses dan hasil belajar itu saling berkaitan satu dengan lainnya, hasil belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar.
Penilaian dalam pembelajaran IPS terpadu dalam satu topik/tema mencakup beberapa Kompetensi Dasar. Namun ada Kompetensi Dasar atau indikator yang tidak bisa dipadukan, sehingga harus dibelajarkan dan dinilai secara terpisah.
Penilaian yang dikembangkan mencakup teknik, bentuk dan instrumen yang digunakan terdapat pada lampiran.
a. Teknik Penilaian
Teknik penilaian merupakan cara yang digunakan dalam melaksanakan penilaian tersebut. Teknik-teknik yang dapat diterapkan untuk jenis tagihan tes meliputi: (1) Kuis dan (2) Tes Harian.
Untuk jenis tagihan nontes, teknik-teknik penilaian yang dapat diterapkan adalah: (1) observasi, (2) angket, (3) wawancara,(4) tugas, (5) proyek, dan (6) portofolio.
b. Bentuk Instrumen
Bentuk instrumen merupakan alat yang digunakan dalam melakukan penilaian/pengukuran/evaluasi terhadap pencapaian kompetensi peserta didik. Bentuk-bentuk instrumen yang dikelompokkan menurut jenis tagihan dan teknik penilaian adalah:
22
• Tes: isian, benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda, dan uraian.
• Nontes: panduan observasi, kuesioner, panduan wawancara, rubrik, dan unjuk kerja.
c. Instrumen
Instrumen merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian kompetensi. Apabila penilaian menggunakan tehnik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja dan tugas rumah yang berupa proyek, harus disertai rubrik penilaian.
BAB IV
IMPLIKASI PEMBELAJARAN IPS TERPADU
A. Guru
Oleh karena pembelajaran IPS Terpadu merupakan gabungan antara berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial, yang biasanya terdiri atas beberapa mata pelajaran seperti Geografi, Sosiologi/Antropologi, Ekonomi, dan Sejarah, maka dalam pelaksanaannya tidak lagi terpisah-pisah melainkan menjadi satu kesatuan. Hal ini memberikan implikasi terhadap guru yang mengajar di kelas. Seyogianya guru dalam pembelajaran IPS dilakukan oleh seorang guru mata pelajaran, yakni Guru Mata Pelajaran IPS.
Di sekolah pada umumnya guru-guru yang tersedia terdiri atas guru-guru disiplin ilmu seperti guru Geografi, Sosiologi/Antropologi, Ekonomi, dan Sejarah. Guru dengan latar belakang tersebut tentunya sulit untuk beradaptasi ke dalam pengintegrasian disiplin ilmu-ilmu sosial, karena mereka yang memiliki latar belakang Geografi tidak memiliki kemampuan yang optimal pada Ekonomi dan Sejaran, begitu pula sebaliknya. Di samping itu, pembelajaran IPS Terpadu juga menimbulkan konsekuensi terhadap berkurangnya beban jam pelajaran yang diemban guru-guru yang tercakup ke dalam IPS, sementara ketentuan yang berkaitan dengan kewajiban atas beban jam mengajar untuk setiap guru masih tetap.
Untuk itu, dalam pembelajaran IPS dapat dilakukan dengan dua cara, yakni: (1) team teaching, dan (2) guru tunggal. Hal tersebut disesuaikan dengan keadaan guru dan kebijakan sekolah masing-masing.
1. Team Teaching
Pembelajaran terpadu dalam hal ini diajarkan dengan cara team; satu topik pembelajaran dilakukan oleh lebih dari seorang guru. Setiap guru memiliki tugas masing-masing sesuai dengan keahlian dan kesepakatan. Kelebihan sistem ini antara lain adalah: (1) pencapaian KD pada setiap topik efektif karena dalam tim terdiri atas beberapa yang ahli dalam ilmu-ilmu sosial, (2) pengalaman dan pemahaman peserta didik lebih kaya daripada dilakukan oleh seorang guru karena dalam satu tim dapat mengungkapkan berbagai
23
konsep dan pengalaman, dan (3) peserta didik akan lebih cepat memahami karena diskusi akan berjalan dengan narasumber dari berbagai disiplin ilmu.
Kelemahan dari sistem ini antara lain adalah jika tidak ada koordinasi, maka setiap guru dalam tim akan saling mengandalkan sehingga pencapaian KD tidak akan terpenuhi. Selanjutnya, jika kurang persiapan, penampilan di kelas akan tersendat-sendat karena skenario tidak berjalan dengan semestinya, sehingga para guru tidak tahu apa yang akan dilakukan di dalam kelas.
Untuk itu maka diperlukan beberapa langkah seperti berikut.
(a) Dilakukan penelaahan untuk memastikan berapa KD dan SK yang harus dicapai dalam satu topik pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan berapa guru bidang studi IPS yang dapat dilibatkan dalam pembelajaran pada topik tersebut.
(b) Setiap guru bertanggung jawab atas tercapainya KD yang termasuk dalam SK yang ia mampu, seperti misalnya SK-1 oleh guru dengan latar belakang Sosiologi/Antropologi, SK-2 oleh guru dengan latar belakang Geografi, dan seterusnya.
(c) Disusun skenario pembelajaran dengan melibatkan semua guru yang termasuk ke dalam topik yang bersangkutan, sehingga setiap anggota memahami apa yang harus dikerjakan dalam pembelajaran tersebut.
(d) Sebaiknya dilakukan simulasi terlebih dahulu jika pembelajaran dengan sistem ini merupakan hal yang baru, sehingga tidak terjadi kecanggungan di dalam kelas.
(e) Evaluasi dan remedial menjadi tanggung jawab masing-masing guru sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, sehingga akumulasi nilai gabungan dari setiap Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi menjadi nilai mata pelajaran IPS.
2. Guru Tunggal
Pembelajaran IPS dengan seorang guru merupakan hal yang ideal dilakukan. Hal ini disebabkan: (1) IPS merupakan satu mata pelajaran, (2) guru dapat merancang skenario pembelajaran sesuai dengan topik yang ia kembangkan tanpa konsolidasi terlebih dahulu dengan guru yang lain, dan (3) oleh karena tanggung jawab dipikul oleh seorang diri, maka potensi untuk saling mengandalkan tidak akan muncul.
Namun demikian, terdapat beberapa kelemahan dalam pembelajaran IPS terpadu yang dilakukan oleh guru tunggal, yakni: (1) oleh karena mata pelajaran IPS terpadu merupakan hal yang baru, sedangkan guru-guru yang tersedia merupakan guru bidang studi sehingga sangat sulit untuk melakukan penggabungan terhadap berbagai bidang studi tersebut, (2) seorang guru bidang studi geografi tidak menguasai secara mendalam tentang sejarah dan ekonomi sehingga dalam pembelajaran IPS terpadu akan didominasi oleh bidang studi geografi, serta (3) jika skenario pembelajaran tidak menggunakan metode yang inovatif maka pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tidak akan tercapai karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna.
24
Untuk tercapainya pembelajaran IPS Terpadu yang dilakukan oleh guru tunggal tersebut, maka dapat dilakukan beberapa hal sebagai berikut.
a. Guru-guru yang tercakup ke dalam mata pelajaran IPS diberikan pelatihan bidang-bidang studi di luar bidang keahliannya, seperti guru bidang studi Sejarah diberikan pelatihan tentang bidang studi Geografi dan Ekonomi.
b. Koordinasi antarbidang studi yang tercakup dalam mata pelajaran IPS tetap dilakukan, untuk mereviu apakah skenario yang disusun sudah dapat memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan bidang studi di luar yang ia mampu.
c. Disusun skenario dengan metode pembelajaran yang inovatif dan memunculkan nalar para peserta didik sehingga guru tidak terjebak ke dalam pemaparan yang parsial bidang studi.
d. Persiapan pembelajaran disusun dengan matang sesuai dengan target pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sesuai dengan topik yang dihasilkan dari pemetaan yang telah dilakukan.
B. Peserta didik
Dilihat dari aspek peserta didik, pembelajaran IPS Terpadu memiliki peluang untuk pengembangan kreativitas akademik. Hal ini disebabkan model ini menekankan pada pengembangan kemampuan analitik, kemampuan asosiatif, serta kemampuan eksploratif dan elaboratif. Pembelajaran IPS Terpadu ini akan lebih dipahami peserta didik jika dalam penyajiannya lebih mengupas pada permasalahan sosial yang ada, terutama permasalahan sosial di lingkungan peserta didik itu sendiri.
Selain itu, model pembelajaran IPS Terpadu dapat mempermudah dan memotivasi peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antara konsep, pengetahuan, nilai atau tindakan yang terdapat dalam beberapa indikator dan Kompetensi Dasar. Dengan mempergunakan model pembelajaran IPS Terpadu, secara psikologik, peserta didik digiring berpikir secara luas dan mendalam untuk menangkap dan memahami hubungan-hubungan konseptual yang disajikan guru. Selanjutnya, peserta didik akan terbiasa berpikir terarah, teratur, utuh, menyeluruh, sistemik, dan analitik. Dengan demikian, pembelajaran model ini menuntun kemampuan belajar peserta didik lebih baik, baik dalam aspek intelegensi maupun kreativitas.
C. Bahan Ajar
Bahan ajar memiliki peran yang penting dalam pembelajaran termasuk dalam pembelajaran terpadu. Oleh karena pembelajaran terpadu pada dasarnya merupakan perpaduan dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam ilmu-ilmu sosial, maka dalam pembelajaran ini memerlukan bahan ajar yang lebih lengkap dan komprehensif dibandingkan dengan pembelajaran monolitik. Dalam satu topik pembelajaran, dalam hal ini, diperlukan sejumlah sumber belajar yang sesuai dengan jumlah Standar Kompetensi yang merupakan jumlah bidang studi yang tercakup di dalamnya. Jika pembelajaran dalam satu topik tersebut mencakup seluruh SK (4 Standar Kompetensi), maka ia akan memerlukan bahan
25
26
ajar yang mencakup empat bidang studi yakni Sosiologi/Antroplogi, Geografi, Sejarah, dan Ekonomi.
Sumber belajar utama yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPS Terpadu dapat berbentuk teks tertulis seperti buku, majalah, brosur, surat kabar, poster dan informasi lepas, atau berupa lingkungan sekitar seperti: lingkungan alam, lingkungan sosial sehari-hari. Seorang guru yang akan menyusun materi perlu mengumpulkan dan mempersiapkan bahan kepustakaan atau rujukan (buku dan pedoman yang berkaitan dan sesuai) untuk menyusun dan mengembangkan silabus. Pencarian informasi ini, sebenarnya dapat pula memanfaatkan perangkat teknologi informasi mutakhir seperti multimedia dan internet.
Bahan yang akan digunakan dapat berbentuk buku sumber utama Sosiologi/Antropologi, Geografi, Sejarah, dan Ekonomi maupun buku penunjang lainnya. Di samping itu, bahan bacaan penunjang seperti jurnal, hasil penelitian, majalah, koran, brosur, serta alat pembelajaran yang terkait dengan indikator dan Kompetensi Dasar ditetapkan. Sebagai bahan penunjang, dapat juga digunakan disket, kaset, atau CD yang berisi cerita atau tayangan yang berkaitan dengan bahan yang akan dipadukan. Guru, dalam hal ini, dituntut untuk rajin dan kreatif mencari dan mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan dalam pembelajaran. Keberhasilan seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran terpadu tergantung pada wawasan, pengetahuan, pemahaman, dan tingkat kreativitasnya dalam mengelola bahan ajar. Semakin lengkap bahan yang terkumpulkan dan semakin luas wawasan dan pemahaman guru terhadap materi tersebut maka berkecenderungan akan semakin baik pembelajaran yang dilaksanakan.
Bahan yang sudah terkumpul selanjutnya dipilah, dikelompokkan, dan disusun ke dalam indikator dari Kompetensi Dasar. Setelah bahan-bahan yang diperlukan terkumpul secara memadai, seorang guru selanjutnya perlu mempelajari secara cermat dan mendalam tentang isi bahan ajar yang berkaitan dengan langkah kegiatan berikutnya.
D. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang harus tersedia dalam pembelajaran IPS Terpadu pada dasarnya relatif sama dengan pembelajaran yang lainnya, hanya saja ia memiliki kekhasan tersendiri dalam beberapa hal. Dalam pembelajaran IPS Terpadu, guru harus memilih secara jeli media yang akan digunakan, dalam hal ini media tersebut harus memiliki kegunaan yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang studi yang terkait dan tentu saja terpadu. Misalnya, peta yang digunakan tidak hanya peta yang dapat digunakan untuk Standar Kompetensi yang berkaitan dengan Geografi saja melainkan juga seyogianya dapat digunakan untuk mencapai Standar Kompetensi yang lainnya. Dengan demikian, efisiensi pemanfaatan sarana dapat terlaksana dalam pembelajaran ini.
Namun demikian, dalam pembelajaran ini tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan sarana yang relatif lebih banyak dari pembelajaran monolitik. Hal ini disebabkan untuk memberikan pengalaman yang terpadu, peserta didik harus diberikan ilustrasi dan demonstrasi yang komprehensif untuk satu topik tertentu. Guru dalam pembelajaran ini diharapkan dapat mengoptimalkan sarana yang tersedia untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS Terpadu.
CONTOH SILABUS DAN SISTEM PENILAIAN IPS TERPADU
SATUAN PENDIDIKAN : SMP ..........
MATA PELAJARAN : IPS
KELAS : VII
TOPIK : Kegiatan Ekonomi Penduduk
PENILAIAN
KOMPETENSI DASAR
INDIKATOR
KEGIATAN PEMBELAJARAN
ALOKASI WAKTU
Teknik
Bentukinstrumen
Contoh soal
LAMPIRAN CONTOH SILABUS IPS TERPADU SMP
YANG BERPOTENSI DIPADUKAN
6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan, dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi
6.2 Mendeskripsi-kankegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa
5.2 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peninggalannya
2.1 Mendeskrip-sikan interaksi sebagai proses sosial
• Mengidentifikasikan mata pencaharian penduduk (pertanian, nonpertanian).
• Mendeskripsikan bentuk penggunaan lahan di pedesaan dan perkotaan.
• Mendiskripsikan persebaran permukiman penduduk di berbagai bentang lahan dan mengungkapkan alasan penduduk memilih bermukim di lokasi tersebut.
• Menguraikan kegiatan konsumsi barang dan jasa.
• Menguraikan kegiatan produksi barang dan jasa.
• Menguraikan kegiatan distribusi barang dan jasa.
• Menjelaskan perkembangan perekonomian penduduk dari masa Hindu Budha, Islam, sampai dengan kolonial Eropa.
• Mengidentifikasi pola-pola keselarasan sosial di masyarakat dalam kegiatan ekonomi.
• Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial dalam kegiatan ekonomi penduduk.
• Mengamati dan mencari informasi tentang kegiatan ekonomi masyarakat di lingkungan sekitar siswa
• Mengamati dan mencatat bentuk penggunaan lahan di daerah sekitar.
• Diskusi tentang alasan penduduk memilih suatu daerah sebagai tempat tinggal.
• Membaca buku sumber tentang pola pemukiman penduduk sesuai bentang lahan.
• Observasi tentang jenis-jenis barang konsumsi dan hasil-hasil industri jasa
• Diskusi tentang kegiatan distribusi barang dan jasa.
• Membaca buku sumber tentang perkembangan perekonomian penduduk dari masa Hindu-Budha, Islam, sampai dengan kolonial Eropa.
• Tanya jawab tentang pola-pola keselarasan sosial di masyarakat dalam kegiatan ekonomi.
• Diskusi tentang bentuk-bentuk interaksi sosial dalam kegiatan ekonomi penduduk.
8 jp
Observasi
Tes tulis
Tes tulis
Tes tulis
Observasi
Tes tulis
Panduan observasi
Tes uraian
Tes Uraian
Tes uraian
Panduan Observasi
Tes Uraian
Amatilah kegiatan ekonomi masyarakat di sekitarmu!
Berilah 4 contoh penggunaan lahan di daerah perkotaan!
Jelaskan faktor yang menyebabkan penduduk memilih suatu daerah sebagai tempat tinggal.
Jelaskan pola pemukiman penduduk di sekitar jalan raya.
Amatilah jenis-jenis barang konsumsi dan barang industri yang ada di sekitarmu!
Berilah contoh sistem distribusi pendek suatu barang!
Jelaskan bentuk-bentuk mata pencaharian masyarakat Indonesia pada masa Hindu-Budha!
Berilah contoh keselarasan sosial dalam kegiatan perdagangan!
Berilah contoh bentuk-bentuk kerjasama dan persaingan dalam perdagangan!
1
LAMPIRAN CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN/SKENARIO PEMBELAJARAN IPS TERPADU YANG BERPOTENSI DIPADUKAN
CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN/
DISAIN PEMBELAJARAN IPS TERPADU
SATUAN PENDIDIKAN: SMP / MTs
MATA PELAJARAN : ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
KELAS : VII
TOPIK : KEGIATAN EKONOMI PENDUDUK
ALOKASI WAKTU : 8 X 40 MENIT (4 X PERTEMUAN)
A. Kompetensi Dasar
6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan, dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.
1.1 Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial.
6.2 Mendeksripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan
konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.
5.2 Mendeksripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peninggalannya.
B. Indikator
• Mengidentifikasikan mata pencaharian penduduk (pertanian, nonpertanian).
• Mendeskripsikan bentuk penggunaan lahan di pedesaan dan perkotaan.
• Mendiskripsikan persebaran permukiman penduduk di berbagai bentang lahan dan mengungkapkan alasan penduduk memilih bermukim di lokasi tersebut.
• Menguraikan kegiatan konsumsi barang dan jasa.
• Menguraikan kegiatan produksi barang dan jasa.
• Menguraikan kegiatan distribusi barang dan jasa.
2
• Menjelaskan perkembangan perekonomian penduduk dari masa Hindu Budha, Islam, sampai dengan kolonial Eropa.
• Mengidentifikasi pola-pola keselarasan sosial di masyarakat dalam kegiatan ekonomi.
• Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial dalam kegiatan ekonomi penduduk.
C. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik mampu mengklasifikasi kegiatan ekonomi masyarakat.
D. Materi Pelajaran
- Kaitan kondisi fisik permukaan bumi dengan penggunaan lahan.
- Kegiatan pokok ekonomi (produksi, distribusi, dan konsumsi).
- Perkembangan perekonomian penduduk dari masa Hindu-Budha, Islam, sampai dengan kolonial Eropa.
- Bentuk-bentuk interaksi sosial dalam kegiatan ekonomi penduduk.
E. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Kontekstual
2. Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab, dan penugasan.
F. Sumber, Alat, dan Bahan Pembelajaran
Kurikulum, buku-buku pelajaran IPS yang relevan, dan gambar-gambar tentang aktivitas ekonomi penduduk.
G. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan 1
Tahapan Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan Awal/Pendahuluan
• Mengamati gambar berbagai kegiatan ekonomi masyarakat sekitar
• Tanya jawab tentang berbagai kegiatan ekonomi
Kegiatan Inti
• Guru menunjuk salah seorang siswa untuk menjelaskan tentang tugas yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya.
• Salah seorang peserta didik menjelaskan tugas yang telah dikerjakannya.
3
Tahapan Kegiatan Kegiatan
• Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan tentang berbagai jenis aktivitas perekonomian penduduk, alasan penduduk memilih tempat tinggal, jenis-jenis barang konsumsi, hasil-hasil industri jasa, potensi sumber daya alam di Indonesia, dampak positif dan negatif kehadiran bangsa-bangsa lain dalam masyarakat Indonesia, peranan Indonesia dalam perdagangan dunia.
• Peserta didik melakukan diskusi kelompok
• Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi, dan kelompok lain menanggapinya.
Kegiatan Akhir/ Penutup
• Peserta didik membuat laporan hasil diskusi
• Guru memeberikan tugas untuk dikerjakan di rumah (PR)
• Guru memberikan pesan-pesan moral sehubungan dengan aktivitas ekonomi penduduk, misalnya kerjasama, mendengarkan pendapat orang lain, dll.
• Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang kerjanya bagus, dan memberikan nasehat untuk penyempurnaan bagi kelompok yang kurang bagus.
Pertemuan 2
Pertemuan 3
Pertemuan 4
H. Penilaian
1. Tes tertulis
2. Hasil Laporan Kelompok (diskusi kelompok)
Contoh Soal:
1. Amatilah kegiatan ekonomi masyarakat di sekitarmu!
2. Berilah 4 contoh penggunaan lahan di daerah perkotaan?
3. Jelaskan faktor yang menyebabkan penduduk memilih suatu daerah sebagai tempat tinggal?
4. Jelaskan pola pemukiman penduduk di sekitar jalan raya?
5. Amatilah jenis-jenis barang konsumsi dan barang industri yang ada di sekitarmu!
6. Berilah contoh sistem distribusi pendek suatu barang?
7. Jelaskan bentuk-bentuk mata pencaharian masyarakat Indonesia pada masa Hindu-Budha?
4
8. Berilah contoh keselarasan sosial dalam kegiatan perdagangan?
9. Berilah contoh bentuk-bentuk kerjasama dan persaingan dalam perdagangan?
Format pengamatan diskusi
Aspek pengamatan
No.
Nama
Kerjasama
keaktifan
Hasil kerja
Skor Nilai
........................., ............................. 2006
Mengetahui,
Kepala SMP/MTs ................................... Guru Mata Pelajaran,
____________________________ __________________________
5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar